Inspirasi Kemerdekaan, Warteg Galieh Berkembang di Tengah Pandemi Berkat Digitalisasi
Selasa, 17 Agustus 2021 - 08:32 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Aturan Baru PPKM Level 4: Waktu Makan di Warteg Diperpanjang Jadi 30 Menit
Pria kelahiran Pemalang itu menjelaskan bagaimana kondisi usahanya di tengah pandemi covid 19, khususnya di masa PPKM Darurat yang sempat membuat usahanya mengalami kemunduran. Pasalnya, sehari-hari pengunjung warteg yang berada dibilangan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, itu paling banyak dari pkalangan ekerja di apartemen Belleza, Permata Hijau.
Ketika penerapan PPKM darurat, praktis omzet warteg turun cukup drastis. Namun, Rianto mengakalinya dengan menjajakan makanannya secara online. "Sebelum pandemi Covid-19, karyawan saya ada 6 orang, omzet harian Alhamdulillah tembus Rp4 juta per hari. Begitu ada Corona, pendapatan saya turun 75%, kisaran omzet Rp700 ribu per hari," ungkapnya.
Baca juga: Indonesia Rayakan Kemerdekaan, Berikut 10 Ucapan Kemerdekaan 17 Agustus 2021
Tidaknya hanya meraup keuntungan dengan mengembangkan sistem daring, Rianto juga menyadari pentingnya kesehatan para pegawainya di tengah pandemi Covid-19. Untuk itu, semaksimal mungkin Arianto berusaha meminimalisir kontak pegawainya dengan orang lain.
Pria tamatan Sekolah Dasar (SD) itu memilih berkolaborasi dengan salah satu platform digital yang memasok bahan makanan untuk wartegnya setiap pagi. Dengan begitu, bahan makanan tinggal dipesan dan diantarkan. Sehingga, karyawannya tidak perlu ke pasar dan fokus mengolah bahan makanan untuk dipajang di etalase berukuran kurang lebih satu meter di depan warungnya.
Usaha mengurangi kontak fisik pada karyawannya tidak sebatas melarang bepergian kepasar, warteg ini juga memasarkan produknya melalui pasar online.
Pria kelahiran Pemalang itu menjelaskan bagaimana kondisi usahanya di tengah pandemi covid 19, khususnya di masa PPKM Darurat yang sempat membuat usahanya mengalami kemunduran. Pasalnya, sehari-hari pengunjung warteg yang berada dibilangan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, itu paling banyak dari pkalangan ekerja di apartemen Belleza, Permata Hijau.
Ketika penerapan PPKM darurat, praktis omzet warteg turun cukup drastis. Namun, Rianto mengakalinya dengan menjajakan makanannya secara online. "Sebelum pandemi Covid-19, karyawan saya ada 6 orang, omzet harian Alhamdulillah tembus Rp4 juta per hari. Begitu ada Corona, pendapatan saya turun 75%, kisaran omzet Rp700 ribu per hari," ungkapnya.
Baca juga: Indonesia Rayakan Kemerdekaan, Berikut 10 Ucapan Kemerdekaan 17 Agustus 2021
Tidaknya hanya meraup keuntungan dengan mengembangkan sistem daring, Rianto juga menyadari pentingnya kesehatan para pegawainya di tengah pandemi Covid-19. Untuk itu, semaksimal mungkin Arianto berusaha meminimalisir kontak pegawainya dengan orang lain.
Pria tamatan Sekolah Dasar (SD) itu memilih berkolaborasi dengan salah satu platform digital yang memasok bahan makanan untuk wartegnya setiap pagi. Dengan begitu, bahan makanan tinggal dipesan dan diantarkan. Sehingga, karyawannya tidak perlu ke pasar dan fokus mengolah bahan makanan untuk dipajang di etalase berukuran kurang lebih satu meter di depan warungnya.
Usaha mengurangi kontak fisik pada karyawannya tidak sebatas melarang bepergian kepasar, warteg ini juga memasarkan produknya melalui pasar online.
Lihat Juga :