Salip China, Ini Negara Penghasil Emas Terbesar Dunia

Selasa, 14 September 2021 - 19:48 WIB
loading...
Salip China, Ini Negara...
China kini tak lagi menjadi negara penghasil emas terbesar di dunia. FOTO/IST
A A A
JAKARTA - China kini tak lagi menjadi negara penghasil emas terbesar di dunia. Dilansir dari ABCNews Selasa (14/9) kini peringkat pertama penghasil emas terbesar di dunia diduduki Australia. Meski begitu, peringkat tersebut bisa saja hanya bersifat sementara.

Hal itu merupakan kabar baik perusahaan tambang emas Red5 yang sedang meningkatkan usaha untuk mulai menggali emas di lokasi King of the Hill di negara bagian Australia Barat.

"Kami sudah memulai pembangunan fasilitas di bulan Oktober 2020 dan bila sesuai rencana, emas pertama ditambang dalam waktu 7-8 bulan," kata Direktur Pelaksana Red5 Mark Williams.

Baca Juga: Teken Kontrak Rp94 Triliun, Pentagon Tunjuk Lockheed Martin Pelihara Jet Tempur F-35

Perusahaan tersebut membeli tambang emas empat tahun lalu. Kegiatan produksi dilakukan di masa yang tepat dengan harga emas dunia sekarang ASD1800 per satu ons.

Sebagai informasi, China sudah menjadi penghasil emas terbesar di dunia sejak 2007 dan Australia berada di tempat kedua selama 10 tahun terakhir. Berdasarkan laporan Surbiton Associates, China memproduksi 153 ton emas di enam bulan pertama tahun 2021 sementara Australia memproduksi 157 ton.

"Ini pertama kalinya terjadi (Australia melampaui produksi China)," kata Direktur Surbiton Associates Sandra Close.

Dia mengungkapkan alasan mengapa produksi emas China menurun sehingga kalan dengan Australia. Menurutnya China mengalami beberapa masalah seperti beberapa pekerja tambang tewas dan sedang diselidiki.

"Mari kita lihat apa yang terjadi dengan produksi emas dalam enam bulan ke depan baik di Australia dan di China," jelasnya.

Dalam dua tahun terakhir, produksi emas Australia memang terus meningkat. Di tahun 2019-2020 sekitar 328 ton emas berhasil ditambang di Australia dengan jumlah produksi tertinggi dalam satu tahun. Tahun lalu mencatatkan produksi 321 ton dengan jumlah produksi terbesar kedua dunia.

"Di Australia sebagian besar pertambangan emas memiliki skala kecil, berbeda dengan tambang-tambang emas di negara seperti Amerika Serikat," kata Dr. Close. "Ini yang membuat produksi lebih bervariasi," ungkapnya.

Emas sudah lama dikenal sebagai aset yang paling aman untuk disimpan. Pada umumnya harga emas akan meningkat ketika tidak adanya stabilitas politik dan ekonomi di sebuah negara atau secara keseluruhan di dunia.

"Emas adalah investasi paling aman bagi siapa saja di saat-saat yang sulit, di tengah berbagai kesulitan," kata Direktur Eksekutif The Perth Mint Richard Hayes. "Di tengah situasi Covid-19, dan berbagai masalah yang kita hadapi, permintaan akan emas dan perak melambung tinggi," kata dia.

Baca Juga: Dikabarkan Dibobol Hacker China, BIN: Sistem Kami Aman-aman Saja

Namun terkadang situasi tidak sama. Harga emas dunia turun ketika pandemi Covid-19 mulai pertama kali terjadi di awal 2020. "Reaksi dunia ketika itu sangat negatif, dengan harga emas dunia di bulan Maret 2020 turun 11 persen," kata Direktur Penelitian Komoditi Tambang dan Energi dari Commonwealth Bank Australia Vivek Dhar.

"Ketika itu pasar mencari tempat yang aman, yakni membeli dolar Amerika Serikat," ujarnya. Enam bulan kemudian harga emas mencapai titik tertinggi. "Kita memang melihat adanya tren naik turun karena sampai bulan Agustus tahun lalu, kita melihat harga emas terus naik dan pernah melampaui harga ASD2.000 per ons," kata dia.

Sekarang harganya turun dan diperjualbelikan sekitar harga ASD1.800 per ons. "Jadi jelas sudah naik antara 20 sampai 25 persen dibandingkan dua tahun lalu," kata Dhar.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
Gegara Ledakan AI, Industri...
Gegara Ledakan AI, Industri Cip Rp27.000 Triliun Jadi Medan Perang AS-China
Dubes Wang Lutong Ungkap...
Dubes Wang Lutong Ungkap Purbaya Bakal ke China Pekan Depan, Bahas Apa?
China Bakal Bangun Pusat...
China Bakal Bangun Pusat Padi dan Sekolah Vokasi di Papua
Pertama Kalinya, Taiwan...
Pertama Kalinya, Taiwan Tembakkan Puluhan Rudal HIMARS Amerika ke Arah China
Rekomendasi
Ketum Rampai Nusantara:...
Ketum Rampai Nusantara: Kami Yakin Roy Suryo Akan Segera Ditahan
Kadisdik Tangerang:...
Kadisdik Tangerang: Liga Bintang Juara Jadi Ajang Pemerataan dan Kreativitas Siswa
MNC Peduli dan Park...
MNC Peduli dan Park Hyatt Jakarta Salurkan Makanan Bergizi, Warga Duri Kepa Mengaku Sangat Terbantu
Berita Terkini
Bahlil Ungkap Penyebab...
Bahlil Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sejumlah Daerah, Janji Pulih Cepat
Indodax Diapresiasi...
Indodax Diapresiasi Atas Edukasi dan Pengembangan Pasar Aset Kripto
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Rp16.250, Bahlil: Sudah Diperhitungkan Secara Bijak
Lewat Program Pondasi,...
Lewat Program Pondasi, Brahma Binabakti Renovasi Rumah Tak Layak di Muaro Jambi
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
Janji Manis Ledakan...
Janji Manis Ledakan Ekonomi Piala Dunia 2026, Awas! Tensi Geopolitik Bisa Bikin Zonk
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved