BMW dan Daimler Digugat Aktivis, Dituduh Menolak Penurunan Emisi

Selasa, 21 September 2021 - 22:46 WIB
loading...
BMW dan Daimler Digugat...
Dinilai tidak mengurangi emsi karbon, BMW dan Daimler digugat sebuah LSM. Foto/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - BMW dan Daimler, dua raksasa otomotif asal Jerman, mendapat gugatan dari Deutsche Umwelthilfe (DUH)--sebuah organisasi aktivis lembaga sosial masyarakat (LSM) yang bergerak di isu lingkungan. Gugatan dilayangkan karena keduanya dinilai menolak pengetatan target emisi karbon untuk produksi kendaraan mereka.

Baca juga: BMW M5 Competition Siap Jadi Investasi Masa Depan buat Crazy Rich Indonesia

Langkah hukum itu menandai pertama kalinya warga Jerman menggugat perusahaan swasta karena dinilai memperparah perubahan iklim. Tak hanya itu, kedua produsen mobil mewah itu juga dianggap tidak mau mengetatkan penggunaan bahan bakar fosil hingga 2030.

Gugatan diajukan pimpinan Deutsche Umwelthilfe ke jalur hukum, pada Senin (20/9/2021), setelah tuntutan mereka untuk membatasi produksi mobil dengan mesin pembakaran dalam (ICE) ditolak, dilansir Reuters, Selasa (21/9/2021).

Pihak BMW dan Daimler mengatakan telah menolak tuntutan tersebut, yang menjadi sebab gugatan ini dibuat. Pada dasarnya, baik BMW dan Daimler telah menetapkan target penurunan emisi dalam internal perusahaannya.

Daimler pernah menyatakan akan memproduksi kendaraan listrik murni (EV) pada tahun 2030 dan menyediakan opsi kendaraan listrik di semua jenis mobilnya pada 2025. Sementara BMW menyatakan setidaknya setengah dari penjualan global menjadi EV pada tahun 2030, dan mengurangi emisi CO2 per kendaraan sebesar 40% pada jangka waktu yang sama.

Keduanya meyakini bahwa target mereka sesuai dengan Perjanjian Paris, yang mengatur perihal pemanasan global.

Namun, penggugat berpendapat bahwa target perusahaan tersebut belumlah cukup dalam aturan iklim Jerman dan tidak sesuai dengan anggaran emisi karbon yang ditetapkan oleh Intergovernmental Panel Climate Change (IPCC).

Baca juga: China Batasi Remaja Bermain TikTok hanya 40 Menit Sehari

Dengan memperpanjang kegiatan emisi karbon, perusahaan secara langsung bertanggung jawab atas hak individu yang harus ditanggung di masa depan.

DUH menginginkan agar kedua perusahaan tersebut mengakhiri produksi mobil yang masih memakai bahan bakar fosil hingga 2030, serta memastikan emisi karbon dari aktivitas mereka tetap terjaga sebelum tenggat waktu yang diberikan.
(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
EV dan SPKLU, Infrastruktur...
EV dan SPKLU, Infrastruktur Penting untuk Mendukung Mobilitas Rendah Emisi
Menuju Tujuh Dekade...
Menuju Tujuh Dekade Astra: Perkuat Fokus Strategis untuk Dorong Pertumbuhan Perusahaan
3 Opsi Sumber Pendapatan...
3 Opsi Sumber Pendapatan Daerah Potensial Selain Pajak Kendaraan Listrik
KADIN Net Zero Hub Perkenalkan...
KADIN Net Zero Hub Perkenalkan Arah Baru Percepat Dekarbonisasi Sektor Bisnis via Kolaborasi
Intip Kinerja MPMX Mengawali...
Intip Kinerja MPMX Mengawali 2026: Profitabilitas Meningkat di Tengah Dinamika Pendapatan
Melalui Hybrid Truck...
Melalui Hybrid Truck hingga EV, MHU Pangkas Emisi hingga 41%
Industri Otomotif Jerman...
Industri Otomotif Jerman Tambah Sekarat Akibat Perang Timur Tengah
Audi Nuvolari Supercar...
Audi Nuvolari Supercar Hybrid V8 dengan 987 HP, Penerus Spiritual R8
Dikira Cosplayer, Ternyata...
Dikira Cosplayer, Ternyata Shotaro Odate adalah Otak di Balik Inovasi Honda
Rekomendasi
Kejagung Limpahkan 11...
Kejagung Limpahkan 11 Tersangka Kasus Korupsi Ekspor CPO ke Jaksa Penuntut Umum
Pesta Akbar Piala Dunia...
Pesta Akbar Piala Dunia 2026, Tiga Upacara Pembukaan Digelar
Israel Kucurkan Rp917...
Israel Kucurkan Rp917 Miliar untuk Bangun 69 Permukiman Ilegal di Tepi Barat
Berita Terkini
Bahlil Ungkap Penyebab...
Bahlil Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sejumlah Daerah, Janji Pulih Cepat
Indodax Diapresiasi...
Indodax Diapresiasi Atas Edukasi dan Pengembangan Pasar Aset Kripto
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Rp16.250, Bahlil: Sudah Diperhitungkan Secara Bijak
Lewat Program Pondasi,...
Lewat Program Pondasi, Brahma Binabakti Renovasi Rumah Tak Layak di Muaro Jambi
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
Janji Manis Ledakan...
Janji Manis Ledakan Ekonomi Piala Dunia 2026, Awas! Tensi Geopolitik Bisa Bikin Zonk
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved