Merger Pelindo, Simak Dampak ke IPCM dan IPCC

Sabtu, 02 Oktober 2021 - 22:00 WIB
loading...
Merger Pelindo, Simak...
Pemerintah telah menyetujui merger PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo I-IV. FOTO/Ilustrasi/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Pemerintah telah menyetujui merger PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo I-IV, ditandai dengan ditandatanganinya Peraturan Presiden (Perpres) perihal penggabungan Pelindo oleh Presiden Joko Widodo.

Dengan adanya aksi korporasi ini, patut diperhatikan dampaknya terhadap dua emiten anak usaha PT Pelindo II yang melantai di Bursa Efek Indonesia yaitu PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) dan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC).

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, kabar merger Pelindo terhadap harga saham kedua emiten tersebut diperkirakan belum berdampak signifikan, dimana saat ini harga saham IPCM dan IPCC masih bergerak secara sideways.

"Untuk aksi korporasinya saya pikir menarik untuk ditunggu, misalkan setelah merger tentunya pelaku pasar melihat bagaimana tingkat ekspansi perusahaan tersebut, misalkan IPCM pasti pembangunan pelabuhan di berbagai daerah agar supaya meningkatkan konektivitas," ujar Nafan kepada MNC Portal Indonesia, Sabtu (2/10/2021).

Baca Juga: Profil Marsetio, Jenderal Lulusan Terbaik AAL 1981 Jadi Komisaris Utama Pelindo Hasil Merger

"Sementara untuk IPCC saya pikir seiring dengan membaiknya industri manufaktur dalam negeri dan juga karena adanya potensi pemulihan ekonomi global dengan peningkatan demand terhadap suatu kendaraan misalkan dan kita bisa memaksimalkan potensi pasar di regional ASEAN, saya pikir tentunya bisa dioptimalkan untuk IPCC," sambungnya.

Dia menyebut, investor saat ini harus mencermati terlebih dahulu perihal implementasi dari merger tersebut agar bisa memberikan hasil yang optimal dalam rangka meningkatkan mutu, standarisasi pelabuhan menuju taraf internasional, dan juga koordinasi dengan berbagai pelabuhan di daerah dalam rangka meningkatkan konektivitas di laut yang menurutnya sangat penting.

Dia mencontohkan, IPCC yang merupakan bagian dari elemen penting dalam rangka meningkatkan kapasitas maupun kapabilitas ekspor kendaraan ke luar negeri khususnya ASEAN, dan kebetulan juga PMI Manufacturing Indonesia sudah di angka 52 yang menandakan telah ekspansif dari sebelumnya kontraksi.

Baca Juga: Profil Sharon Florencia, yang Gantikan Erick Thohir Jadi Menteri BUMN

Sementara itu, untuk IPCM dirinya menyebut bahwa saat ini fungsi perusahaan tersebut mengoptimalkan kapal-kapal navigasi yang berukuran kecil untuk ke pelabuhan. Dia menyebut, selama pandemi Covid-19 aktivitas pelabuhan masih terpantau memadai dan berdampak kepada laporan keuangan yang masih menciptakan net profit selama pandemi, sementara itu IPCC justru sebaliknya.

"Biasanya sih saya pikir tentunya dari aksi merger tersebut saya pikir apresiasinya tetap positif dan kalau misalkan lebih positif lagi menurut saya ini juga diimbangi dengan peningkatan mutu dan standar pelayanan," ucapnya.

Dengan adanya peningkatan kinerja kedua emiten tersebut dari efek merger Pelindo, maka hal ini bisa menarik perhatian investor berkaitan dengan potensi membaiknya atau meningkatnya kinerja fundamental emiten. Selain itu, dia menitikberatkan pentingnya aksi korporasi dari IPCM maupun IPCC seperti dalam hal pembagian dividen.

"Misalkan pergerakan harga saham masih sideways dan masih belum terjadi pelepasan harga saham oleh investor dalam jumlah besar, berarti kan harga saham ini konsolidasi. dia menunggu breakout atau breakdown, misal terjadi breakout otomatis pelaku pasar sudah mengapresiasi optimalisasi implementasi daripada operasional dari merger tersebut dan bisa memberikan benefit bagi peningkatan kinerja fundamental emiten," tuturnya.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kinerja Apik 2025, INALUM...
Kinerja Apik 2025, INALUM Cetak Rekor Kinerja dan Operasional Tertinggi
Kinerja ASDP Terus Tumbuh...
Kinerja ASDP Terus Tumbuh dengan Layanan Berdampak Berkelanjutan
Garudafood Raup Laba...
Garudafood Raup Laba Rp756,2 Miliar di 2025, Bagikan Dividen Rp9,5 per Saham
Patuhi UU BUMN, RUPSLB...
Patuhi UU BUMN, RUPSLB PGN Setujui Penyesuaian Anggaran Dasar Perseroan
RUPSLB Bank Mandiri...
RUPSLB Bank Mandiri Desember 2025 Rombak Susunan Pengurus, Berikut Daftarnya
RUPSLB CSIS Bahas 3...
RUPSLB CSIS Bahas 3 Agenda Utama demi Penguatan Strategi dan Arah Pertumbuhan Jangka Panjang
Gelar Top BUMD Award...
Gelar Top BUMD Award 2026, Kemendagri Dorong Pemda Lakukan Inovasi Pelayanan Publik
WNA Bisa Pimpin BUMN,...
WNA Bisa Pimpin BUMN, KPK: Wajib Lapor LHKPN dan Bisa Dipidana Jika Korupsi
Pelindo Mengajar, Dirut...
Pelindo Mengajar, Dirut JICT Ajak Siswa SMAN 52 Jakarta Mengenal Dunia Pelabuhan
Rekomendasi
Ronaldo Raja Gol Portugal...
Ronaldo Raja Gol Portugal di Piala Dunia
Guru MI di Karawang...
Guru MI di Karawang Dilatih Kuasai E-LKPD Berbasis STEM
Ronaldo Tulis Sejarah...
Ronaldo Tulis Sejarah di Piala Dunia yang Sulit Disamai Messi
Berita Terkini
240 BUMN Tak Produktif...
240 BUMN Tak Produktif Dibubarin Prabowo: Tidak Untung, Rugi Terus
Persaingan Pasar Game...
Persaingan Pasar Game Valorant, Intip Strategi Ekspansi Tokovalorant
Damessa Perluas Layanan...
Damessa Perluas Layanan lewat Cabang Baru di Cileungsi
Membangun Revolusi Pembiayaan...
Membangun Revolusi Pembiayaan Sosial Nasional Tanpa Membebani APBN
SIG Sulap 60 Ton Sampah...
SIG Sulap 60 Ton Sampah Kelapa Jadi Pakan Ternak, Peternak di Aceh Hemat 60%
Kemenko PM Gelar Global...
Kemenko PM Gelar Global Talent Day, Buka Akses Kerja ke Jepang-Jerman
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved