Usaha Batik Lokal Khas Bontang Rambah Pasar Luar Negeri
Senin, 04 Oktober 2021 - 06:00 WIB
loading...
A
A
A
Batik Beras Basah terinspirasi dari nama ikon wisata Kota Bontang, dengan corak biota laut. Nama ini juga dinilai mewakili Bontang agar nama daerah maupun Pulau Beras Basah sebagai ikon wisata semakin dikenal secara luas.
Batik Beras Basah telah menjadi mitra binaan Pupuk Kaltim sejak 2010, yang tak hanya memperoleh manfaat berupa modal usaha, tapi juga difasilitasi beragam pelatihan dan kompetensi, hingga promosi dan hak paten merek dagang.
“Termasuk difasilitasi untuk pengurusan SPPT SNI, sehingga produk kami bisa berkembang dengan inovasi yang lebih beragam,” tambah Ewied.
Manfaat yang sama juga turut dirasakan Kadir Assegaf, owner Batik Kuntul Perak, yang juga difasilitasi Pupuk Kaltim untuk mendapatkan SPPT SNI pada 2019. Pemberdayaan di awal pandemi untuk pembuatan masker batik bak durian runtuh baginya, karena jumlah pesanan 10.000 masker di luar ekspektasi akibat kelangkaan masker kala itu.
Pesanan itu dibagi Kadir ke berbagai penjahit lokal agar bisa bersama merasakan manfaat pemberdayaan Pupuk Kaltim, karena dirinya menyadari hampir seluruh sektor usaha masyarakat terimbas akibat pandemi.
Pengusaha batik lokal pertama di Bontang ini juga menjadikan masker batik sebagai peluang baru, di samping pengembangan corak serta desain pakaian yang lebih milenial untuk mengajak generasi muda gemar terhadap batik.
“Kami menggandeng belasan penjahit lokal Bontang serta puluhan penjahit pemula dari LKP binaan Pupuk Kaltim, agar kita bisa bangkit bersama dari pandemi,” terang Kadir.
Ia menyebut langkah besar yang diambilnya itu tak lepas dari komitmen Pupuk Kaltim yang selama ini sangat berjasa dalam pengembangan batik lokal, khususnya usaha yang dia kelola. Sejak 2007 menjadi mitra binaan Pupuk Kaltim, dia telah mendapatkan beragam manfaat.
Batik Beras Basah telah menjadi mitra binaan Pupuk Kaltim sejak 2010, yang tak hanya memperoleh manfaat berupa modal usaha, tapi juga difasilitasi beragam pelatihan dan kompetensi, hingga promosi dan hak paten merek dagang.
“Termasuk difasilitasi untuk pengurusan SPPT SNI, sehingga produk kami bisa berkembang dengan inovasi yang lebih beragam,” tambah Ewied.
Manfaat yang sama juga turut dirasakan Kadir Assegaf, owner Batik Kuntul Perak, yang juga difasilitasi Pupuk Kaltim untuk mendapatkan SPPT SNI pada 2019. Pemberdayaan di awal pandemi untuk pembuatan masker batik bak durian runtuh baginya, karena jumlah pesanan 10.000 masker di luar ekspektasi akibat kelangkaan masker kala itu.
Pesanan itu dibagi Kadir ke berbagai penjahit lokal agar bisa bersama merasakan manfaat pemberdayaan Pupuk Kaltim, karena dirinya menyadari hampir seluruh sektor usaha masyarakat terimbas akibat pandemi.
Pengusaha batik lokal pertama di Bontang ini juga menjadikan masker batik sebagai peluang baru, di samping pengembangan corak serta desain pakaian yang lebih milenial untuk mengajak generasi muda gemar terhadap batik.
“Kami menggandeng belasan penjahit lokal Bontang serta puluhan penjahit pemula dari LKP binaan Pupuk Kaltim, agar kita bisa bangkit bersama dari pandemi,” terang Kadir.
Ia menyebut langkah besar yang diambilnya itu tak lepas dari komitmen Pupuk Kaltim yang selama ini sangat berjasa dalam pengembangan batik lokal, khususnya usaha yang dia kelola. Sejak 2007 menjadi mitra binaan Pupuk Kaltim, dia telah mendapatkan beragam manfaat.
Lihat Juga :