Produktivitas Turun dan Daya Saing Ranking 40, Industri Manufaktur RI Harus Berbenah
Sabtu, 09 Oktober 2021 - 20:44 WIB
loading...
A
A
A
Terkait hal itu, dia melanjutkan, terlihat dari indeks produksi dan purchasing managers index (PMI) bahwa yang terjadi pada saat pandemi 2019 ke 2021, indeks produksi mengalami penurunan ke 131 dan PMI turun ke 40,10.
Baca juga: Jemaah Umrah RI Dapat Lampu Hijau dari Saudi, Amphuri: Angin Segar!
“Pandemi Covid-19 ini berdampak sekali terhadap pertumbuhan ekonomi kita terutama di sektor industri manufaktur. Sehingga neraca perdagangan secara makro walaupun kita selalu positif tapi ada masa-masa tertentu kita mengalami neraca perdagangan negatif. Ini menjadi masalah yang serius dan harus ada penopang sektor manufaktur,” terang Eisha.
Eisha menambahkan, mengenai ekspor di sektor non-migas, perlu adanya peningkatan. Pasalnya, pertumbuhan ekspor untuk industri pengolahan berdasarkan share ekspor pada Januari 2019 hingga 2020, memiliki peran di dalam ekspor non-migas Indonesia.
“Potensi ekspor kita perlu dioptimalkan dengan cara meningkatkan nilai tambah produk komoditas sumber daya alam untuk dijadikan produk yang memiliki nilai tambah tinggi. Misalnya, seperti komoditas nikel di hilirisasi untuk industri baterai lithium dan mobil listrik,” urainya.
Baca juga: Jemaah Umrah RI Dapat Lampu Hijau dari Saudi, Amphuri: Angin Segar!
“Pandemi Covid-19 ini berdampak sekali terhadap pertumbuhan ekonomi kita terutama di sektor industri manufaktur. Sehingga neraca perdagangan secara makro walaupun kita selalu positif tapi ada masa-masa tertentu kita mengalami neraca perdagangan negatif. Ini menjadi masalah yang serius dan harus ada penopang sektor manufaktur,” terang Eisha.
Eisha menambahkan, mengenai ekspor di sektor non-migas, perlu adanya peningkatan. Pasalnya, pertumbuhan ekspor untuk industri pengolahan berdasarkan share ekspor pada Januari 2019 hingga 2020, memiliki peran di dalam ekspor non-migas Indonesia.
“Potensi ekspor kita perlu dioptimalkan dengan cara meningkatkan nilai tambah produk komoditas sumber daya alam untuk dijadikan produk yang memiliki nilai tambah tinggi. Misalnya, seperti komoditas nikel di hilirisasi untuk industri baterai lithium dan mobil listrik,” urainya.
(ind)
Lihat Juga :