Krisis Listrik Hantam China hingga Eropa, Transisi Energi Tak Perlu Buru-buru

Senin, 11 Oktober 2021 - 19:56 WIB
loading...
Krisis Listrik Hantam...
Pemerintah Indonesia perlu memetik pelajaran terjadinya krisis energi di China hingga Eropa. FOTO/ILUSTRASI/REUTERS/TINGSHU WANG
A A A
JAKARTA - Krisis energi yang saat ini menghantam kawasan Eropa, Inggris hingga China harus disikapi lebih hati-hati oleh Pemerintah Indonesia. Tren global yang mendorong adanya proses transisi energi dari fosil ke energi terbarukan (ET) tidak perlu tergesa-gesa.

Pasalnya energi terbarukan belum mampu menopang kebutuhan energi di Indonesia. Secara kasat mata, bauran energi RI masih ditopang dari minyak dan gas bumi maupun batu bara.Kebijakan menghapus energi fosil secara ekstrem tanpa menghitung demand dan supply berakibat fatal terhadap pasokan energi. Alhasil, mengalami krisis energi berkepanjangan seperti yang dialami kawasan Eropa, Inggris dan China. Krisis listrik di Inggris dan kawasan Eropa lainnya terjadi lantaran bauran energi terbarukan tidak sesuai target sehingga belum mampu mengganti pasokan gas untuk pembangkit.

Sementara sejumlah pembangkit gas sudah dipensiunkan. Pada akhirnya kelabakan mencari gas impor untuk kembali mengoperasikan pembangkit. Di sisi lain, harga gas mengalami kenaikan yang cukup tajam seiring pulihnya aktivitas ekonomi akibat pandemi.

Mayoritas pabrik hingga aktivitas bisnis pun mulai bangkit lagi, tapi pasokan listrik tidak cukup memenuhi kebutuhan. Kondisi yang sama juga dialami oleh China, hanya saja di China mayoritas pembangkit listrik dicukupi dari batu bara. Sementara harga batu bara dunia meroket tajam sehingga China kebingungan mencari pasokan untuk mengoperasikan kembali pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang sudah dipensiunkan akibat kebijakan mengurangi emisi karbon secara progresif hingga 2060.

Baca Juga: Hati-hati, Krisis Energi Eropa Bisa Merembet ke RI

Apabila melihat kondisi eksisting bauran energi nasional dan praktik transisi energi di sejumlah negara tersebut, Indonesia dapat dikatakan belum cukup siap jika dipaksa melakulan transisi energi dalam jangka pendek. "Transisi energi di Indonesia harus dilakukan secara bertahap dan tidak boleh tergesa-gesa," ujar Direktur Eksekutif ReforMiners Intitute Komaidi Notonegoro, saat webinar, di Jakarta, baru-baru ini.

Dalam Rancangan Umum Energi Nasional (RUEN) yang ditetapkan melalui Perpres No 22/2017 cukup jelas bahwa pemerintah memproyeksikan sampai dengan 2050 Indonesia masih akan cukup bergantung pada pemanfaatan energi fosil. Untuk minyak bumi misalnya, meskipun RUEN menetapkan porsi minyak bumi dalam bauran energi Indonesia akan menurun dari paling banyak 25 % pada 2025 menjadi paling banyak 20 % pada 2050, secara volume konsumsi minyak Indonesia justru meningkat sekitar 111 % dari 2,19 BOPD pada 2025 menjadi 4,62 BOPD pada 2050.

Sementara, porsi gas dalam bauran energi Indonesia diproyeksikan meningkat dari 22,4 % pada 2025 menjadi 24 % pada 2050. Volume konsumsi gas diproyeksikan meningkat sekitar 171% dari 1,76 BOEPD pada 2025 menjadi 4,79 BOEPD pada 2050. Dengan demikian total konsumsi minyak dan gas bumi Indonesia akan meningkat sekitar 137 %, meningkat dari 3,95 BOEPD pada 2025 menjadi 9,40 BOEPD pada 2050.

Selain memiliki peran penting dalam bauran energi, sektor minyak dan gas bumi juga memiliki peran strategis dalam struktur perekonomian Indonesia. Data Input-Output (IO) Indonesia menunjukkan bahwa dari sekitar 185 sektor ekonomi di Indonesia, sekitar 150 sektor ekonomi diantaranya memiliki keterkaitan (linkage) dengan sektor migas. Sektor hulu migas juga memiliki peran penting dalam realisasi invesatasi di Indonesia. Data menunjukkan, rata-rata realisasi investasi hulu migas selama periode 2015-2020 sekitar 27% terhadap total realisasi investasi seluruh sektor ekonomi di Indonesia.

Baca Juga: Sumber Penghasilan Mohammed bin Salman, dari Minyak hingga Investasi

Berdasarkan data tersebut pemerintah perlu memberikan perhatian terhadap kebijakan pengelolaan dan pengusahaan pada industri hulu migas. Hal tersebut mengingat bahwa berdasarkan kondisi eksisting dan proyeksi pemerintah untuk tahun 2050, cukup jelas bahwa transisi energi tidak akan mengurangi peran penting migas dalam bauran energi Indonesia. "Hal tersebut tercermin dari konsumsi migas Indonesia pada 2050 yang diproyeksikan masih akan sekitar 9,40 BOEPD," tutur Komaidi.

Hal senada juga dikatakan oleh Staf Khusus Menteri Bidang Pengembangan Industri dan Kawasan pada Kementerian Koordinator Perekonomian I Gusti Putu Suryawirawan. Ia mengatakan bahwa peran energi fosil masih dibutuhkan secara jangka panjang untuk mendukung perekonomian. "Seperti halnya industri hulu migas untuk mendorong penggunaan produk di dalam negeri," kata dia.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Stok BBM Global Menipis,...
Stok BBM Global Menipis, Dunia Sedang Menguras Cadangan Minyaknya
Krisis Hormuz Kuras...
Krisis Hormuz Kuras Cadangan Minyak Singapura ke Titik Terendah sejak 13 Tahun
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Pertamina Akselerasi...
Pertamina Akselerasi Transisi Energi Melalui Program Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, Industri dan Sektor Energi Perlu Dijaga Bersama
Utusan Putin: Tsunami...
Utusan Putin: Tsunami Krisis Energi Segera Hantam Eropa!
Eropa Ingin Mengurangi...
Eropa Ingin Mengurangi Ketergantungan pada Industri Otomotif China
ANDALAS Forum VI Digelar...
ANDALAS Forum VI Digelar di Palembang, Sinergi Energi Jadi Sorotan
Rekomendasi
Penalti Mbappe Ditolak,...
Penalti Mbappe Ditolak, Wasit Piala Dunia 2026 Dicap Arogan
Messi Kejar Sejarah,...
Messi Kejar Sejarah, Aljazair Jadi Korban Pertama?
Pengaktifan Kembali...
Pengaktifan Kembali Transit Lewat Selat Hormuz Mungkin Perlu Waktu Beberapa Pekan
Berita Terkini
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
PLN EPI Dorong UMKM...
PLN EPI Dorong UMKM Naik Kelas lewat Budidaya Madu Kelulut
Menteri PU Tinjau IPTC,...
Menteri PU Tinjau IPTC, Nindya Karya Dukung Penambahan Fasilitas Atlet Difabel
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
MANU dan Universitas...
MANU dan Universitas Jember Kolaborasi Perkuat Pengembangan SDM Pertanian
Ini Jenis Produk Sawit...
Ini Jenis Produk Sawit dan Batu Bara yang Ekspornya Diatur Lewat PT DSI
Infografis
Siap-siap, Nunggak Bayar...
Siap-siap, Nunggak Bayar Pajak Tak Bisa Urus SIM hingga Paspor
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved