Buruh Minta Upah Naik 10 Persen Tahun 2022, Pengusaha: Jangan Maksa
Minggu, 14 November 2021 - 19:00 WIB
loading...
Buruh menuntut kenaikan upah tahun 2022 mencapai 7-10 persen dibandingkan tahun 2021. FOTO/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta Sarman Simanjorang meminta serikat buruh untuk tidak memaksakan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) sebesar 10 persen pada tahun 2022.
Menurut Sarman, langkah menaikkan upah bagi pekerja tidak tepat dengan alasan kondisi pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta masih melambat 2,43 persen pada kuartal ketiga 2021, berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 3,51 persen.
"Dalam kondisi pertumbuhan ekonomi Jakarta yang melambat kurang tepat teman-temat Serikat Buruh/Pekerja melakukan unjuk rasa di Balaikota menuntut kenaikan UMP sebesar 10 persen," kata Sarman melalui pernyataan tertulisnya, dikutip Minggu (14/11/2021).
Baca Juga: Upah Minimum Provinsi Jakarta Bakal Naik, Tunggu 19 November 2021!
Sarman menilai perekonomian ibukota Republik Indonesia itu masih terpuruk akibat pandemi Covid-19 dan pemberlakuan pembatasan darurat atau PPKM. Sehingga, kata Sarman, mengakibatkan ekonomi sejumlah sektor usaha seperti perdagangan, pariwisata, transportasi, aneka hiburan dan jasa mengalami jalan di tempat alias stagnansi.
Menurut Sarman, langkah menaikkan upah bagi pekerja tidak tepat dengan alasan kondisi pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta masih melambat 2,43 persen pada kuartal ketiga 2021, berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 3,51 persen.
"Dalam kondisi pertumbuhan ekonomi Jakarta yang melambat kurang tepat teman-temat Serikat Buruh/Pekerja melakukan unjuk rasa di Balaikota menuntut kenaikan UMP sebesar 10 persen," kata Sarman melalui pernyataan tertulisnya, dikutip Minggu (14/11/2021).
Baca Juga: Upah Minimum Provinsi Jakarta Bakal Naik, Tunggu 19 November 2021!
Sarman menilai perekonomian ibukota Republik Indonesia itu masih terpuruk akibat pandemi Covid-19 dan pemberlakuan pembatasan darurat atau PPKM. Sehingga, kata Sarman, mengakibatkan ekonomi sejumlah sektor usaha seperti perdagangan, pariwisata, transportasi, aneka hiburan dan jasa mengalami jalan di tempat alias stagnansi.
Lihat Juga :