Pemerintah Bidik Investasi Rp304 Triliun dari Nilai Tambah Mineral
Kamis, 25 November 2021 - 13:19 WIB
loading...
Pemerintah membidik investasi sebesar USD21,28 miliar atau setara Rp304 triliun dari peningkatan nilai tambah mineral. FOTO/ANTARA
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah membidik investasi sebesar USD21,28 miliar atau setara Rp304 triliun dari peningkatan nilai tambah mineral . Dihitung potensinya, jumlah cadangan dan produksi mineral RI masuk 10 besar dunia dengan 23% cadangan nikel global ada di Indonesia.
"Menurut United States Geological Survey (USGS), cadangan nikel kita adalah nomor satu dunia. Untuk produksi nikel, Indonesia juga nomor 1 dan menempati nomor 6 berdasarkan jumlah cadangan dan produksi dunia," kata Menteri ESDM Arifin Tasrif melalui keterangan resminya, Kamis (25/11/2021).
Baca Juga: Digugat ke WTO Soal Larangan Ekspor Nikel, Jokowi: Nggak Masalah!
Selain itu, cadangan tembaga Indonesia menempati posisi 7 dan produksinya ada di posisi 12 dunia. Komoditi emas berada di posisi 5 pada potensi dan 6 pada produksi. Produksi timah Indonesia mencapai 17% dari cadangan dunia atau berada pada posisi kedua, begitu pula dengan produksinya.
Di samping komoditas-komoditas tersebut, Arifin juga mengungkapkan masih ada Logam Tanah Jarang dan Lithium yang potensinya sangat besar, namun belum dapat diproduksi karena Indonesia belum memiliki teknologi untuk memisahkan dan memurnikan.
"Menurut United States Geological Survey (USGS), cadangan nikel kita adalah nomor satu dunia. Untuk produksi nikel, Indonesia juga nomor 1 dan menempati nomor 6 berdasarkan jumlah cadangan dan produksi dunia," kata Menteri ESDM Arifin Tasrif melalui keterangan resminya, Kamis (25/11/2021).
Baca Juga: Digugat ke WTO Soal Larangan Ekspor Nikel, Jokowi: Nggak Masalah!
Selain itu, cadangan tembaga Indonesia menempati posisi 7 dan produksinya ada di posisi 12 dunia. Komoditi emas berada di posisi 5 pada potensi dan 6 pada produksi. Produksi timah Indonesia mencapai 17% dari cadangan dunia atau berada pada posisi kedua, begitu pula dengan produksinya.
Di samping komoditas-komoditas tersebut, Arifin juga mengungkapkan masih ada Logam Tanah Jarang dan Lithium yang potensinya sangat besar, namun belum dapat diproduksi karena Indonesia belum memiliki teknologi untuk memisahkan dan memurnikan.
Lihat Juga :