Demi Pemulihan Ekonomi Pascapandemi, Pembangunan Trans Sumatera Terus Berlanjut
Minggu, 07 Juni 2020 - 07:30 WIB
loading...
A
A
A
Namun diakuinya sejak wabah Covid 19 merebak, penjualan hasil buminya ikut terganggu. Ia memang sangat berharap pandemic ini segera berlalu dan pengiriman hasil buminya bisa lancar Kembali.
Manfaat yang sama juga dirasakan oleh Waluyo peternak ayam dari Kotabumi Lampung. Permintaan ayam ke Jakarta dan Palembang juga makin bertambah setelah adanya Trans Sumatera. Jumlah ayam yang mati dalam pengiriman kini juga makin sedikit, karena waktu perjalanan yang makin singkat.
Meski di tengah pandemi pembangunan jalan Tol Trans Sumatera memang terus berlanjut. Seperti yang disampaikan oleh menteri PUPR dari empat ruas jalan tol baru yang akan dioperasikan pada Bulan Juni ini, dua diantaranya, merupakan bagian dari Tol Trans Sumatera.
Trans Sumatera mulai dibangun oleh PT Hutama karya (Persero) pada 2015. Diperkirakaan jalan tol yang menghubungkan Provinsi Aceh dengan Lampung sepanjang 2.704 Km I bisa beropersi penuh pada tahun 2024. Total biaya yang dibutuhkan untuk membangunnya mencapai Rp 476 triliun.
BUMN ini mendapat perintah dari pemerintah untuk membangun Trans Sumatera melalui Peraturan Presiden No. 100 Tahun 2014 yang kemudian diperbaharui dengan Peraturan Presiden No. 117 Tahun 2015. Sekretaris Perusahaan PT Hutama Karya (Persero) Muhammad mengatakan, adanya wabah Covid-19, tidak mempengaruhi pihaknya untuk terus menyelesaikan pembangunan Trans Sumatera. Tahun ini Hutama Karya memastikan bahwa lima Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) Trans Sumatra tetap akan dilakukan.
Lima PPJT yang ditargetkan bisa dilakukan di tahun 2020 ini yaitu ruas Dumai-Rantau Prapat dengan panjang 176,1 kilometer. Ruas Rantau Prapat-Kisaran sepanjang 110,02 Km. Ruas Betung-Tampino-Jambi, sejauh 168 Km. Ruas Jambi-Rengat sepanjang 198,74 kilometer, dan ruas Rengat-Pekanbaru dengan panjang 103 kilometer.
Dampak Negatif
Di tengah pandemi mengapa pemerintah tetap ngotot untuk melanjutkan pembangunan Trans Sumatera yang membutuhkan dana besar. Tidak itu saja, utang Hutama Karya sejak menjadi kontraktor pembangunan jalan tol ini pun bertambah. Seperti di tahun 2019 lalu, liabilitas (kewajiban membayar utang) perseroan tercatat meningkat 28,52% menjadi Rp 69,29 triliun. Di Tahun 2020 ini, Hutama Karya juga telah menerbitkan global bonds senilai US$600 juta atau setara dengan Rp9 triliun.
Salah satu alasannya, sebagai pulau terbesar kedua di negeri ini, memiliki populasi penduduk yang besar, lebih dari 58 juta jiwa. Sumatera juga punya peran penting dalam perekonomian negara. Pulau ini dianugerahi beragam sumber daya alam yang melimpah. Mulai dari karet, minyak kelapa sawit, kopi, minyak bumi, batu bara, hingga gas alam.
Sumatera memiliki sekitar 4,9 juta hektar perkebunan kelapa sawit atau 70% dari luas perkebunan kelapa sawit nasional. Luas perkebunan karet di pulau ini sekitar 2,58 juta hektar atau 74,4% dari luas perkebunan kelapa sawit nasional. Indonesia memiliki cadangan batu bara 147,6 miliar ton yang tersebar di 21 provinsi. Dari jumlah tersebut, sumber daya paling banyak terdapat di Sumatera Selatan, 50,2 miliar ton.
Berdasarkan catatan BPS, tahun 2019, Sumatera mampu memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto sebesar 21,32%. Kedua terbesar setalah Pulau Jawa. Dengan segala potensi yang dimiliki, tak berlebihan bila dikatakan membangun Sumatera berarti juga membangun masa depan Indonesia.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, keberadaan Tol Trans Sumatera memang penting. Menurutnya Tol Trans Sumatera diperkirakan akan mampu memberikan multiplier effect sebesar Rp 2,23 triliun per tahun. Sehingga manfaat yang dapat dipetik dari keseluruhan proyek infrastruktur ini bisa capai Rp 769,5 triliun. Jauh lebih besar dari biaya yang dibutuhkan untuk membangunnya.
Manfaat yang sama juga dirasakan oleh Waluyo peternak ayam dari Kotabumi Lampung. Permintaan ayam ke Jakarta dan Palembang juga makin bertambah setelah adanya Trans Sumatera. Jumlah ayam yang mati dalam pengiriman kini juga makin sedikit, karena waktu perjalanan yang makin singkat.
Meski di tengah pandemi pembangunan jalan Tol Trans Sumatera memang terus berlanjut. Seperti yang disampaikan oleh menteri PUPR dari empat ruas jalan tol baru yang akan dioperasikan pada Bulan Juni ini, dua diantaranya, merupakan bagian dari Tol Trans Sumatera.
Trans Sumatera mulai dibangun oleh PT Hutama karya (Persero) pada 2015. Diperkirakaan jalan tol yang menghubungkan Provinsi Aceh dengan Lampung sepanjang 2.704 Km I bisa beropersi penuh pada tahun 2024. Total biaya yang dibutuhkan untuk membangunnya mencapai Rp 476 triliun.
BUMN ini mendapat perintah dari pemerintah untuk membangun Trans Sumatera melalui Peraturan Presiden No. 100 Tahun 2014 yang kemudian diperbaharui dengan Peraturan Presiden No. 117 Tahun 2015. Sekretaris Perusahaan PT Hutama Karya (Persero) Muhammad mengatakan, adanya wabah Covid-19, tidak mempengaruhi pihaknya untuk terus menyelesaikan pembangunan Trans Sumatera. Tahun ini Hutama Karya memastikan bahwa lima Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) Trans Sumatra tetap akan dilakukan.
Lima PPJT yang ditargetkan bisa dilakukan di tahun 2020 ini yaitu ruas Dumai-Rantau Prapat dengan panjang 176,1 kilometer. Ruas Rantau Prapat-Kisaran sepanjang 110,02 Km. Ruas Betung-Tampino-Jambi, sejauh 168 Km. Ruas Jambi-Rengat sepanjang 198,74 kilometer, dan ruas Rengat-Pekanbaru dengan panjang 103 kilometer.
Dampak Negatif
Di tengah pandemi mengapa pemerintah tetap ngotot untuk melanjutkan pembangunan Trans Sumatera yang membutuhkan dana besar. Tidak itu saja, utang Hutama Karya sejak menjadi kontraktor pembangunan jalan tol ini pun bertambah. Seperti di tahun 2019 lalu, liabilitas (kewajiban membayar utang) perseroan tercatat meningkat 28,52% menjadi Rp 69,29 triliun. Di Tahun 2020 ini, Hutama Karya juga telah menerbitkan global bonds senilai US$600 juta atau setara dengan Rp9 triliun.
Salah satu alasannya, sebagai pulau terbesar kedua di negeri ini, memiliki populasi penduduk yang besar, lebih dari 58 juta jiwa. Sumatera juga punya peran penting dalam perekonomian negara. Pulau ini dianugerahi beragam sumber daya alam yang melimpah. Mulai dari karet, minyak kelapa sawit, kopi, minyak bumi, batu bara, hingga gas alam.
Sumatera memiliki sekitar 4,9 juta hektar perkebunan kelapa sawit atau 70% dari luas perkebunan kelapa sawit nasional. Luas perkebunan karet di pulau ini sekitar 2,58 juta hektar atau 74,4% dari luas perkebunan kelapa sawit nasional. Indonesia memiliki cadangan batu bara 147,6 miliar ton yang tersebar di 21 provinsi. Dari jumlah tersebut, sumber daya paling banyak terdapat di Sumatera Selatan, 50,2 miliar ton.
Berdasarkan catatan BPS, tahun 2019, Sumatera mampu memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto sebesar 21,32%. Kedua terbesar setalah Pulau Jawa. Dengan segala potensi yang dimiliki, tak berlebihan bila dikatakan membangun Sumatera berarti juga membangun masa depan Indonesia.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, keberadaan Tol Trans Sumatera memang penting. Menurutnya Tol Trans Sumatera diperkirakan akan mampu memberikan multiplier effect sebesar Rp 2,23 triliun per tahun. Sehingga manfaat yang dapat dipetik dari keseluruhan proyek infrastruktur ini bisa capai Rp 769,5 triliun. Jauh lebih besar dari biaya yang dibutuhkan untuk membangunnya.
Lihat Juga :