Demi Punya Rumah, Pemuda Ini Relakan Seluruh Gaji Buat Bayar Cicilan
Rabu, 08 Desember 2021 - 19:27 WIB
loading...
Andi (32) mengikhlaskan seluruh penghasilan untuk membayar cicilan rumah di Bekasi. FOTO/Shutterstock Photo
A
A
A
JAKARTA - Nekat, mungkin kata itulah memotivasi Andi untuk mendapatkan hunian tapak di kawasan Bekasi, Jawa Barat. Dengan penghasilan standar Upah Minimum Provinsi (UMP) Rp4,2 Juta, pemuda 32 tahun itu akhirnya berani mengikhlaskan seluruh penghasilanya untuk cicilan rumah . Andi merupakan warga Jakarta Selatan yang baru hampir satu tahun menikah.
Selama itu sang istri sepakat untuk tinggal di rumah orang tua Andi. Namun semua berubah seketika mereka dikarunia sang anak. Orang tua Andi yang sudah lanjut usia, tidak memungkinkan untuk merawat sang bayi di tengah kesibukan kariernya dan istri. Keduanya lantas berembuk dan akhirnya Andi sepakat tinggal di rumah orang tua istri atau mertuanya di Bekasi Timur sampai mereka memiliki uang muka atau Down Payment (DP) untuk membeli rumah. Setahun berjalan, mereka akhirnya mencari rumah yang tidak jauh dari rumah mertua. Tujuannya agar bisa meminta tolong mengawasi sang bayi selama mereka kerja.
Baca Juga: Cara Menghitung Bunga KPR Floating Sebelum Ambil Cicilan Rumah
Kurang lebih sekitar 7 kilometer dari rumah mertua, Andi yang sehari-hari bekerja di kawasan Jakarta Pusat tertarik dengan rumah cluster seharga Rp400 juta dengan tipe 36 diatas lahan seluas 72 m2. Booking fee pun dibayarkan seabgai tanda beli. "Kalau DP 30 persen cicilan sekitar Rp5 juta, gaji joint incame hanya Rp8 juta. Aturan Bank itu cicilan maksimal 30 persen dari joint incame. Ah coba bikin rekening fiktif," kata pria berbadan tegap itu.
Rekeninig fiktif pun dibuat Andi yang mendapat dukungan dari sang sales perumahan. Pendapatannya dibuat sekitar Rp12 Juta. Namun sayang, biaya pembuatan rekening yang menghabiskan uang pribadinya sebesar Rp3 Juta itu ditolak oleh perbankan lantaran tidak sesuai aslinya. Kepalang tanggung, kata Andi, dirinya terus melangkah untuk mencari uang muka tambahan yang menjadi satu-satunya solusi melangsungkan akad Kredit Perumahan Rakyat (KPR) di perbankan.
Selama itu sang istri sepakat untuk tinggal di rumah orang tua Andi. Namun semua berubah seketika mereka dikarunia sang anak. Orang tua Andi yang sudah lanjut usia, tidak memungkinkan untuk merawat sang bayi di tengah kesibukan kariernya dan istri. Keduanya lantas berembuk dan akhirnya Andi sepakat tinggal di rumah orang tua istri atau mertuanya di Bekasi Timur sampai mereka memiliki uang muka atau Down Payment (DP) untuk membeli rumah. Setahun berjalan, mereka akhirnya mencari rumah yang tidak jauh dari rumah mertua. Tujuannya agar bisa meminta tolong mengawasi sang bayi selama mereka kerja.
Baca Juga: Cara Menghitung Bunga KPR Floating Sebelum Ambil Cicilan Rumah
Kurang lebih sekitar 7 kilometer dari rumah mertua, Andi yang sehari-hari bekerja di kawasan Jakarta Pusat tertarik dengan rumah cluster seharga Rp400 juta dengan tipe 36 diatas lahan seluas 72 m2. Booking fee pun dibayarkan seabgai tanda beli. "Kalau DP 30 persen cicilan sekitar Rp5 juta, gaji joint incame hanya Rp8 juta. Aturan Bank itu cicilan maksimal 30 persen dari joint incame. Ah coba bikin rekening fiktif," kata pria berbadan tegap itu.
Rekeninig fiktif pun dibuat Andi yang mendapat dukungan dari sang sales perumahan. Pendapatannya dibuat sekitar Rp12 Juta. Namun sayang, biaya pembuatan rekening yang menghabiskan uang pribadinya sebesar Rp3 Juta itu ditolak oleh perbankan lantaran tidak sesuai aslinya. Kepalang tanggung, kata Andi, dirinya terus melangkah untuk mencari uang muka tambahan yang menjadi satu-satunya solusi melangsungkan akad Kredit Perumahan Rakyat (KPR) di perbankan.
Lihat Juga :