Belanja Online dan Produk Lokal Dominasi Pilihan Konsumen Indonesia Saat Pandemi
Kamis, 09 Desember 2021 - 16:34 WIB
loading...
A
A
A
Optimisme kembali lebih tinggi di antara mereka yang berada di pasar negara berkembang, dengan 9 dari 10 orang Indonesia (90%) dan lebih dari 8 dari 10 orang dari Thailand dan Filipina (84% dan 82%) setuju bahwa sains akan mengalahkan semua penyakit.
Baca Juga: Sarinah Tegaskan Kesiapan Promosikan Produk Lokal ke Pasar Global
Prancis adalah yang paling tidak yakin akan hal ini; hampir setengah tidak setuju (47%) dibandingkan dengan empat dari sepuluh yang setuju (39%). Namun bahkan di sini ada peningkatan positif jangka panjang: pada tahun 2013, hanya seperempat setuju semua kondisi medis pada akhirnya akan dapat disembuhkan.
Di tahun 2020 kepercayaan masyarakat terhadap vaksin Covid-19 sempat mengalami penurunan di beberapa negara, namun mayoritas sudah kembali, seperti Cina 22%, Peru & Chile masing-masing 7%, Brazil 4%, Indonesia 2%, dan India 1%. Sedangkan negara lain seperti Italia (-4%), Inggris dan Australia (masing-masing -6%), dan Amerika Serikat (-12%), masih meragukan manfaat dari vaksin itu sendiri.
Media Sosial, Data, dan Teknologi
Pandemi nyata mengakselerasi perkembangan IT, khususnya penyebaran internet. Di Indonesia, 80% warganya mengaku tidak bisa membayangkan hidup tanpa internet. Yang mana dengan persentase ini, Indonesia menduduki peringkat ke-4 di dunia, mengungguli Inggris, Australia, Thailand, bahkan Amerika Serikat.
Opini publik tetap tegas terhadap perusahaan media sosial: 84% publik di semua negara setuju bahwa perusahaan media sosial memiliki terlalu banyak kekuatan. Meskipun ini agak meningkat di hampir semua negara antara 2019 dan 2021, peningkatan yang paling menonjol terjadi di China, Indonesia, dan Afrika Selatan.
Yang mana proposi China yang yang menganggap perusahaan media sosial memiliki terlalu banyak kekuatan telah meningkat dari 67% menjadi 83%. Di Indonesia, proposi tersebut meningkat dari 84% ke 97%, dan Afrika Selatan meningkat dari 75% ke 84%.
Namun, sikap terhadap data tidak menjadi lebih cemas selama ini. Sebaliknya, survei tersebut mencatat meningkatnya sikap apatis dan bahkan keterbukaan untuk berbagi data pribadi. Proporsi yang sama yang peduli tentang kekuatan media sosial (84%) mengatakan tidak dapat dihindari bahwa kita semua akan kehilangan privasi di masa depan karena kekuatan teknologi baru. Di Indonesia sendiri 88% masyarakat mengakui hal yang sama.
Baca Juga: Sarinah Tegaskan Kesiapan Promosikan Produk Lokal ke Pasar Global
Prancis adalah yang paling tidak yakin akan hal ini; hampir setengah tidak setuju (47%) dibandingkan dengan empat dari sepuluh yang setuju (39%). Namun bahkan di sini ada peningkatan positif jangka panjang: pada tahun 2013, hanya seperempat setuju semua kondisi medis pada akhirnya akan dapat disembuhkan.
Di tahun 2020 kepercayaan masyarakat terhadap vaksin Covid-19 sempat mengalami penurunan di beberapa negara, namun mayoritas sudah kembali, seperti Cina 22%, Peru & Chile masing-masing 7%, Brazil 4%, Indonesia 2%, dan India 1%. Sedangkan negara lain seperti Italia (-4%), Inggris dan Australia (masing-masing -6%), dan Amerika Serikat (-12%), masih meragukan manfaat dari vaksin itu sendiri.
Media Sosial, Data, dan Teknologi
Pandemi nyata mengakselerasi perkembangan IT, khususnya penyebaran internet. Di Indonesia, 80% warganya mengaku tidak bisa membayangkan hidup tanpa internet. Yang mana dengan persentase ini, Indonesia menduduki peringkat ke-4 di dunia, mengungguli Inggris, Australia, Thailand, bahkan Amerika Serikat.
Opini publik tetap tegas terhadap perusahaan media sosial: 84% publik di semua negara setuju bahwa perusahaan media sosial memiliki terlalu banyak kekuatan. Meskipun ini agak meningkat di hampir semua negara antara 2019 dan 2021, peningkatan yang paling menonjol terjadi di China, Indonesia, dan Afrika Selatan.
Yang mana proposi China yang yang menganggap perusahaan media sosial memiliki terlalu banyak kekuatan telah meningkat dari 67% menjadi 83%. Di Indonesia, proposi tersebut meningkat dari 84% ke 97%, dan Afrika Selatan meningkat dari 75% ke 84%.
Namun, sikap terhadap data tidak menjadi lebih cemas selama ini. Sebaliknya, survei tersebut mencatat meningkatnya sikap apatis dan bahkan keterbukaan untuk berbagi data pribadi. Proporsi yang sama yang peduli tentang kekuatan media sosial (84%) mengatakan tidak dapat dihindari bahwa kita semua akan kehilangan privasi di masa depan karena kekuatan teknologi baru. Di Indonesia sendiri 88% masyarakat mengakui hal yang sama.
(akr)
Lihat Juga :