Proyeksi Analis, Kinerja Mitratel Makin Positif Tahun Depan
Kamis, 23 Desember 2021 - 17:53 WIB
loading...
A
A
A
Niko merekomendasikan beli saham MTEL dengan target harga Rp 1.040 yang menyiratkan 14,2x enterprise value to earning earning before interest tax, depreciation, and amortization (EV/EBITDA).
Menurutnya, valuasi Mitratel saat IPO juga sudah cukup rendah yakni sekitar 11 x. Sementara beckmark valuasi emiten menara sekitar 13x EV/EBITDA. Adapun saat ini valuasinya sudah semakin murah.
Dia melihat penurunan valuasi itu kemungkinan karena investor masih ragu-ragu karena saham emiten menara memang punya korelasi dengan suku bunga mengingat utang perusahaan sejenis ini cukup besar. Selain itu, investor kemungkinan berpikir Mitratel tidak akan berkembang karena hanya menyewakan menaranya ke Telkomsel.
"Padahal rasio leverage Mitratel ini sangat kecil saat ini. Utangnya ada sekitar Rp 19 triliun tetapi perusahaan baru dapat dana IPO Rp 18,5 triliun. Jadi rasio utangnya tipis sehingga harusnya dia tidak banyak terpengaruh kalau suku bunga naik," pungkasnya.
Sementara Kresna memandang penurunan harga saham saat ini bukan hanya terjadi di Mitratel saja. Secara keseluruhan, saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menghadapi volatilitas yang lebih tinggi dalam jangka pendek. Hal ini dikarenakan adanya risiko pertumbuhan ekonomi global seiring merebaknya kasus Covid-19 varian Omicron.
Baca Juga: Bisnis Menara Masih Menjanjikan, Begini Pergerakan Saham Mitratel
Namun, secara fundamental, Mandiri Sekuritas melihat Mitratel saat ini berada di posisi yang relatif aman dan memiliki peluang dan kemampuan yang kuat untuk menumbuhkan skala bisnis dan profitabilitas perusahaan secara konsisten dan kencang.Mandiri Sekuritas merekomendasikan buy saham MTEL dengan target harga Rp 970. Itu menggambarkan valuasi perseroan 15 x EV/EBITDA pada tahun 2022.
"Dalam konteks investasi yang juga mempertimbangkan prospek imbal hasil dan keberlanjutan pertumbuhan laba dalam jangka menengah dan jangka panjang, saham Mitratel memiliki prospek yang sangat positif di pandangan kami," imbuh Kresna.
Menurutnya, valuasi Mitratel saat IPO juga sudah cukup rendah yakni sekitar 11 x. Sementara beckmark valuasi emiten menara sekitar 13x EV/EBITDA. Adapun saat ini valuasinya sudah semakin murah.
Dia melihat penurunan valuasi itu kemungkinan karena investor masih ragu-ragu karena saham emiten menara memang punya korelasi dengan suku bunga mengingat utang perusahaan sejenis ini cukup besar. Selain itu, investor kemungkinan berpikir Mitratel tidak akan berkembang karena hanya menyewakan menaranya ke Telkomsel.
"Padahal rasio leverage Mitratel ini sangat kecil saat ini. Utangnya ada sekitar Rp 19 triliun tetapi perusahaan baru dapat dana IPO Rp 18,5 triliun. Jadi rasio utangnya tipis sehingga harusnya dia tidak banyak terpengaruh kalau suku bunga naik," pungkasnya.
Sementara Kresna memandang penurunan harga saham saat ini bukan hanya terjadi di Mitratel saja. Secara keseluruhan, saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menghadapi volatilitas yang lebih tinggi dalam jangka pendek. Hal ini dikarenakan adanya risiko pertumbuhan ekonomi global seiring merebaknya kasus Covid-19 varian Omicron.
Baca Juga: Bisnis Menara Masih Menjanjikan, Begini Pergerakan Saham Mitratel
Namun, secara fundamental, Mandiri Sekuritas melihat Mitratel saat ini berada di posisi yang relatif aman dan memiliki peluang dan kemampuan yang kuat untuk menumbuhkan skala bisnis dan profitabilitas perusahaan secara konsisten dan kencang.Mandiri Sekuritas merekomendasikan buy saham MTEL dengan target harga Rp 970. Itu menggambarkan valuasi perseroan 15 x EV/EBITDA pada tahun 2022.
"Dalam konteks investasi yang juga mempertimbangkan prospek imbal hasil dan keberlanjutan pertumbuhan laba dalam jangka menengah dan jangka panjang, saham Mitratel memiliki prospek yang sangat positif di pandangan kami," imbuh Kresna.
(nng)
Lihat Juga :