Bantu Petani Sawit, Program B30 Dinilai Layak Dilanjutkan
Rabu, 10 Juni 2020 - 12:21 WIB
loading...
A
A
A
"Untung saja Indonesia ada program B30 sehingga penurunan permintaan minyak sawit tak terlalu signifikan," ujarnya.
Karena itu, Raden Pardede mendorong agar pasar minyak sawit di dalam negeri ini tetap diamankan. Sebab, jika tidak ada pasar minyak sawit dalam negeri yang besar, maka harga TBS pun dipastikan akan terjun bebas. "Jadi sebenarnya program B30 merupakan kebijakan yang sangat baik, paling tidak untuk sementara waktu ini. Karena saya yakin tanpa ada Program B30, harga TBS dan CPO kita akan turun," cetusnya.
Dia menambahkan, program B30 juga memiliki manfaat lain yakni menghemat devisa. Dia pun menolak penambahan importasi solar kendati harga minyak mentah dunia saat ini tengah murah. Sebab, dengan mengimpor solar, devisa negara justru mengalir keluar.
Terlebih, Indonesia telah menyatakan komitmennya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29% pada 2030. Upaya yang dilakukan yakni dengan mengurangi penggunaan sumber energi fosil dan menggantinya dengan biodiesel yang merupakan renewable energy atau energi yang berkelanjutan.
Tak hanya itu, kata Raden Pardede, di kala pandemi Covid-19 ini, Indonesia harus memiliki lokomotif ekonomi yang mampu membangkitkan perekonomian nasional. Saat ini, hampir semua sektor ekonomi terpuruk. Sektor ekonomi yang mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19 ini salah satunya adalah perkebunan kelapa sawit beserta industri turunannya.
Karena itu, Raden Pardede mendorong agar pasar minyak sawit di dalam negeri ini tetap diamankan. Sebab, jika tidak ada pasar minyak sawit dalam negeri yang besar, maka harga TBS pun dipastikan akan terjun bebas. "Jadi sebenarnya program B30 merupakan kebijakan yang sangat baik, paling tidak untuk sementara waktu ini. Karena saya yakin tanpa ada Program B30, harga TBS dan CPO kita akan turun," cetusnya.
Dia menambahkan, program B30 juga memiliki manfaat lain yakni menghemat devisa. Dia pun menolak penambahan importasi solar kendati harga minyak mentah dunia saat ini tengah murah. Sebab, dengan mengimpor solar, devisa negara justru mengalir keluar.
Terlebih, Indonesia telah menyatakan komitmennya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29% pada 2030. Upaya yang dilakukan yakni dengan mengurangi penggunaan sumber energi fosil dan menggantinya dengan biodiesel yang merupakan renewable energy atau energi yang berkelanjutan.
Tak hanya itu, kata Raden Pardede, di kala pandemi Covid-19 ini, Indonesia harus memiliki lokomotif ekonomi yang mampu membangkitkan perekonomian nasional. Saat ini, hampir semua sektor ekonomi terpuruk. Sektor ekonomi yang mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19 ini salah satunya adalah perkebunan kelapa sawit beserta industri turunannya.
Lihat Juga :