Menyulap Gelas Plastik Bekas Manjadi Nilai Ekonomi
Selasa, 11 Januari 2022 - 06:00 WIB
loading...
Mencari nilai tinggi dari gelas plastik bekas. FOTO/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Tingkat konsumsi air minum kemasan gelas (cup) terus meningkat sejak diperkenalkan pertama kali oleh Aqua di Indonesia sejak 1985. Hingga kini, tercatat ada ribuan merek air minum kemasan gelas plastik yang beredar di seluruh Indonesia.
Namun ribuan air minum kemasan gelas plastik tersebut bisa menimbulkan pencemaran lingkungan apabila sampah tidak dikelola dengan tepat. Sebab itu, daur ulang air minum kemasan cup gelas plastik perlu terus didorong agar tidak membahayakan lingkungan dengan cara membangun nilai keekonomian.
Di banyak daerah, sampah gelas plastik tak ubahnya hantu yang menakutkan. Di Bali saja, menurut lembaga nirlaba lingkungan Sungai Watch, gelas plastik merupakan salah satu polusi plastik paling buruk.
"Gelas sekali pakai terbuat dari plastik Polypropylene dalam istilah daur ulang, penutupnya dari jenis plastik yang lain dan kerap disertai dengan sedotan plastik," kata Gary Bencheghib dari Sungai Watch dalam sebuah laporan audit polusi plastik di perairan sungai di Bali, dikutip di Jakarta, belum lama ini.
Kalangan pemerhati lingkungan sudah lama menyuarakan keprihatinan atas pencemaran gelas plastik. Pemicunya, mengakibatkan kematian tragis seekor ikan paus sperm (Physeter macrosepalus) di perairan Wakatobi, Sulawesi Tengah pada 2018 silam. Ikan sepanjang hampir 10 meter itu mati terdampar dengan perut berisi enam kilogram plastik, termasuk 115 buah sampah plastik kemasan air minum gelas.
Bila berkaca pada riset terbaru lingkungan lembaga berbasis Jakarta, Sustainable Waste Indonesia, persentase daur ulang sampah gelas plastik, termasuk sedotannya, relatif tinggi. Riset SWI di seputaran Jakarta pada Agustus 2021 misalnya, menunjukkan daur ulang kemasan gelas AMDK mencapai 81 persen, mengalahkan daur ulang kemasan botol AMDK berbahan Polyethylene terephthalate (PET) yang mencapai 74 persen.
Namun ribuan air minum kemasan gelas plastik tersebut bisa menimbulkan pencemaran lingkungan apabila sampah tidak dikelola dengan tepat. Sebab itu, daur ulang air minum kemasan cup gelas plastik perlu terus didorong agar tidak membahayakan lingkungan dengan cara membangun nilai keekonomian.
Di banyak daerah, sampah gelas plastik tak ubahnya hantu yang menakutkan. Di Bali saja, menurut lembaga nirlaba lingkungan Sungai Watch, gelas plastik merupakan salah satu polusi plastik paling buruk.
"Gelas sekali pakai terbuat dari plastik Polypropylene dalam istilah daur ulang, penutupnya dari jenis plastik yang lain dan kerap disertai dengan sedotan plastik," kata Gary Bencheghib dari Sungai Watch dalam sebuah laporan audit polusi plastik di perairan sungai di Bali, dikutip di Jakarta, belum lama ini.
Kalangan pemerhati lingkungan sudah lama menyuarakan keprihatinan atas pencemaran gelas plastik. Pemicunya, mengakibatkan kematian tragis seekor ikan paus sperm (Physeter macrosepalus) di perairan Wakatobi, Sulawesi Tengah pada 2018 silam. Ikan sepanjang hampir 10 meter itu mati terdampar dengan perut berisi enam kilogram plastik, termasuk 115 buah sampah plastik kemasan air minum gelas.
Bila berkaca pada riset terbaru lingkungan lembaga berbasis Jakarta, Sustainable Waste Indonesia, persentase daur ulang sampah gelas plastik, termasuk sedotannya, relatif tinggi. Riset SWI di seputaran Jakarta pada Agustus 2021 misalnya, menunjukkan daur ulang kemasan gelas AMDK mencapai 81 persen, mengalahkan daur ulang kemasan botol AMDK berbahan Polyethylene terephthalate (PET) yang mencapai 74 persen.
Lihat Juga :