Iklim Investasi Nasional Masih Menarik Bagi Investor
Selasa, 16 Juni 2020 - 04:19 WIB
loading...
A
A
A
Tidak ada kejadian di masa lalu yang bisa dijadikan sebagai tolok ukur atau pembanding yang tepat untuk dapat mengevaluasi apa yang dialami saat ini.
"Oleh sebab itu memang agak sulit untuk dapat memproyeksikan besaran angka pertumbuhan laba perusahaan bukan hanya untuk tahun 2021, namun juga untuk tahun 2020 ini. Kondisi ini sesungguhnya menjadi tantangan sekaligus kesempatan bagi investor di pasar saham," ujarnya.
Anggota Komisi XI DPR RI Puteri Anetta Komarudin menambahkan, penguatan nilai tukar rupiah tidak terlepas dari sentimen kondisi pasar global dan domestik. Sehingga sinergi kebijakan fiskal dan moneter perlu terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Pasar merespon positif berbagai langkah pemulihan ekonomi Indonesia sehingga memicu masuknya portofolio investasi ke dalam instrumen SBN. Hal ini mendorong pasokan valuta asing (valas) yang menopang peningkatan cadangan devisa. Namun, BI juga harus terus memastikan intervensi moneter tetap dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan pasar agar rupiah tetap stabil,” ujarnya.
Puteri juga menilai bauran kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah perlu dijaga tetap seimbang terhadap upaya pemulihan ekonomi. Semua demi mendorong peningkatan daya saing ekonomi nasional di tengah penanganan pandemi Covid-19.
Dia menegaskan, koordinasi dan sinergi antara pemerintah, BI, OJK, dan LPS dalam upaya pemulihan ekonomi dan penguatan nilai tukar rupiah, harus terus terjaga dan dilaksanakan dalam koridor kehati-hatian atau tetap prudent, serta agar pelonggaran kebijakan moneter BI berjalan efektif.
"Selain itu juga harus diiringi dengan percepatan stimulus fiskal dan relaksasi kredit bagi sektor riil yang mulai beroperasi. Hal tersebut diharapkan dapat menjadi sentimen positif dan menjaga kepercayaan investor,” ujar Puteri.
"Oleh sebab itu memang agak sulit untuk dapat memproyeksikan besaran angka pertumbuhan laba perusahaan bukan hanya untuk tahun 2021, namun juga untuk tahun 2020 ini. Kondisi ini sesungguhnya menjadi tantangan sekaligus kesempatan bagi investor di pasar saham," ujarnya.
Anggota Komisi XI DPR RI Puteri Anetta Komarudin menambahkan, penguatan nilai tukar rupiah tidak terlepas dari sentimen kondisi pasar global dan domestik. Sehingga sinergi kebijakan fiskal dan moneter perlu terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Pasar merespon positif berbagai langkah pemulihan ekonomi Indonesia sehingga memicu masuknya portofolio investasi ke dalam instrumen SBN. Hal ini mendorong pasokan valuta asing (valas) yang menopang peningkatan cadangan devisa. Namun, BI juga harus terus memastikan intervensi moneter tetap dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan pasar agar rupiah tetap stabil,” ujarnya.
Puteri juga menilai bauran kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah perlu dijaga tetap seimbang terhadap upaya pemulihan ekonomi. Semua demi mendorong peningkatan daya saing ekonomi nasional di tengah penanganan pandemi Covid-19.
Dia menegaskan, koordinasi dan sinergi antara pemerintah, BI, OJK, dan LPS dalam upaya pemulihan ekonomi dan penguatan nilai tukar rupiah, harus terus terjaga dan dilaksanakan dalam koridor kehati-hatian atau tetap prudent, serta agar pelonggaran kebijakan moneter BI berjalan efektif.
"Selain itu juga harus diiringi dengan percepatan stimulus fiskal dan relaksasi kredit bagi sektor riil yang mulai beroperasi. Hal tersebut diharapkan dapat menjadi sentimen positif dan menjaga kepercayaan investor,” ujar Puteri.
(ind)
Lihat Juga :