Waspada Dampak Inflasi AS dan Lonjakan Harga Minyak, Airlangga: Kita Harus Hati-Hati
Minggu, 13 Maret 2022 - 07:17 WIB
loading...
Menko bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menyampaikan Kuliah Umum di Universitas Hasanuddin, Kota Makassar, Sabtu (12/3/2022). Foto/MPI/Dinar Fitra Maghiszha
A
A
A
MAKASSAR - Inflasi di Amerika Serikat (AS) sebesar 7,9% pada bulan Februari 2022 menandai terjadinya disrupsi ekonomi global sebagai akibat dari kenaikan harga komoditas. Pemerintah Indonesia pun terus mencermati perkembangan ekonomi global guna menyusun kebijakan strategis di dalam negeri.
Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di sela Kuliah Umum di Universitas Hasanuddin, kota Makassar, Sabtu (12/3/2022) mengatakan, lonjakan inflasi di AS bakal membuat negara adidaya itu bakal menaikkan suku bunga, meskipun sedang terlibat dalam krisis geopolitik di Eropa Timur.
"Memang Amerika terjadi high inflation, mereka sekarang akan mulai menaikkan (suku bunga). Namun, dengan adanya krisis di Rusia, harapannya ini agak mengerem sedikit," kata Airlangga menjawab pertanyaan MNC Portal Indonesia (MPI) dalam jumpa pers, dikutip Minggu (13/3/2022).
Baca juga: 5 Jurus Pemerintah dan BI Mengendalikan Inflasi Tahun 2022
Airlangga menilai Indonesia dapat terkena dampak konflik Rusia dan Ukraina secara tidak langsung. Secara spesifik, dia menyebut akan ada dampak atas kenaikan harga minyak mentah dunia.
"Super commodity price ini tentu akan berakibat bagi Indonesia secara tidak langsung, salah satunya harga minyak yang sudah mulai bergerak sampai USD150 per barel," tuturnya.
Airlangga mewaspadai kenaikan harga minyak dapat berimbas terhadap kemampuan fiskal. Dia menilai konflik Rusia dan Ukraina yang berkepanjangan jugabisa mengganggu rantai pasokan (supply chain) di tingkat global. "Kita harus berhati-hati," tegasnya.
Baca juga: Putin kepada Barat: Jangan Salahkan Rusia atas Lonjakan Harga Minyak Dunia!
Airlangga merinci kedua negara tersebut memiliki pengaruh bagi ekonomi dunia, seperti Rusia sebagai pemasok gas terbesar di Eropa, dan Ukraina sebagai salah satu produsen besar biji-bijian dan minyak nabati, seperti, gandum, rapeseed hingga sunflower oil.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Airlangga menyatakan pemerintah bakal terus berkonsentrasi untuk menjaga harga bahan pokok di tingkat domestik tidak ikut menjerit.
Lebih jauh, Ketua Umum Partai Golkar itu juga tak ingin kebutuhan fiskal nasional menjadi terbatas, terutama untuk mengantisipasi lonjakan harga di pasaran.
"Kalau penangangan Covid-19 'gas dan rem', sekarang 'gas dan rem' nya adalah untuk kenaikan harga dan ketersediaan di dalam negeri," pungkasnya.
Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di sela Kuliah Umum di Universitas Hasanuddin, kota Makassar, Sabtu (12/3/2022) mengatakan, lonjakan inflasi di AS bakal membuat negara adidaya itu bakal menaikkan suku bunga, meskipun sedang terlibat dalam krisis geopolitik di Eropa Timur.
"Memang Amerika terjadi high inflation, mereka sekarang akan mulai menaikkan (suku bunga). Namun, dengan adanya krisis di Rusia, harapannya ini agak mengerem sedikit," kata Airlangga menjawab pertanyaan MNC Portal Indonesia (MPI) dalam jumpa pers, dikutip Minggu (13/3/2022).
Baca juga: 5 Jurus Pemerintah dan BI Mengendalikan Inflasi Tahun 2022
Airlangga menilai Indonesia dapat terkena dampak konflik Rusia dan Ukraina secara tidak langsung. Secara spesifik, dia menyebut akan ada dampak atas kenaikan harga minyak mentah dunia.
"Super commodity price ini tentu akan berakibat bagi Indonesia secara tidak langsung, salah satunya harga minyak yang sudah mulai bergerak sampai USD150 per barel," tuturnya.
Airlangga mewaspadai kenaikan harga minyak dapat berimbas terhadap kemampuan fiskal. Dia menilai konflik Rusia dan Ukraina yang berkepanjangan jugabisa mengganggu rantai pasokan (supply chain) di tingkat global. "Kita harus berhati-hati," tegasnya.
Baca juga: Putin kepada Barat: Jangan Salahkan Rusia atas Lonjakan Harga Minyak Dunia!
Airlangga merinci kedua negara tersebut memiliki pengaruh bagi ekonomi dunia, seperti Rusia sebagai pemasok gas terbesar di Eropa, dan Ukraina sebagai salah satu produsen besar biji-bijian dan minyak nabati, seperti, gandum, rapeseed hingga sunflower oil.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Airlangga menyatakan pemerintah bakal terus berkonsentrasi untuk menjaga harga bahan pokok di tingkat domestik tidak ikut menjerit.
Lebih jauh, Ketua Umum Partai Golkar itu juga tak ingin kebutuhan fiskal nasional menjadi terbatas, terutama untuk mengantisipasi lonjakan harga di pasaran.
"Kalau penangangan Covid-19 'gas dan rem', sekarang 'gas dan rem' nya adalah untuk kenaikan harga dan ketersediaan di dalam negeri," pungkasnya.
(ind)
Lihat Juga :