Pasar Automotif Baru Pulih Tahun Depan
Rabu, 17 Juni 2020 - 06:27 WIB
loading...
A
A
A
Industri automotif, kata Soerjopranoto, mengusulkan agar pemerintah memberikan relaksasi kepada sektor pembiayaan. Sebab, lembaga pembiayaan saat ini menerapkan prinsip kehati-hatian yang ketat dalam mengucurkan pembiayaan. Relaksasi tersebut bisa berupa menurunkan suku bunga, memperpanjang tenor cicilan ataupun dengan mempermudah proses approval bagi masyarakat yang membeli kendaraan. "Misalnya, jika dulu down payment 30% direlaksasi jadi dibawah itu. Kemudian proses approval pembiayaannya tidak berbelit," paparnya. Soerjopranoto mengakui, industri automotif nasional menghadapi tantangan yang sangat berat tahun ini. Dipastikan target penjualan yang dipatok sebesar 1 juta unit di pasar domestik tahun ini tak akan tercapai. "Tentu berat dan sesuai dengan forecast kami, itu akan sulit tercapai," tuturnya.
Hal senada disampaikan Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara. Menurut dia, industri automotif nasional tidak bisa memastikan kapan pasar domestik akan membaik. "Sejauh ini masyarakat masih berhati-hati dan masih menunggu sejauh mana penanganan pandemi ini sukses," paparnya. Kukuh mengungkapkan, lesunya penjualan mobil berdampak langsung pada lesunya industri manufaktur. Bahkan, saat ini, pabrik-pabrik mobil hanya beroperasi satu shift saja. "Artinya ada pengurangan (kapasitas produksi) separuhnya. Kami tidak bisa memprediksi kapan kondisi pasar akan pulih kembali. Meskipun kondisi kita lebih baik dari Malaysia yang bulan lalu hanya menjual 131 unit mobil," katanya. (Baca juga: Higga Mei Penerimaan Negara Baru Capai Rp664,4 Triliun)
Gaikindo sudah mengusulkan kepada pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk memberikan relaksasi perpajakan sebagai stimulus sehingga masyarakat tertarik untuk membeli kendaraan. Misalnya menurunkan Bea Balik Nama (BBN) dari 12% menjadi 5%, juga melakukan moratorium pajak progresif. "Dengan demikian masyarakat yang masih memiliki daya beli dan memiliki keinginan untuk membeli mobil akan tertarik," paparnya. Hal ini tidak hanya berdampak pada bergeraknya sektor hulu hingga hilir automotif, tetapi juga memberikan pemasukan kepada daerah. "Kami sudah berkirim surat ke Pemda di seluruh Indonesia, tetapi tidak ada respons positif," ungkapnya. Padahal, lanjut dia, dengan tidak anjloknya penjualan kendaraan bermotor, maka pendapatan pajak daerah dari BBN juga ikut anjlok.
Sedangkan dari sisi produksi, Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengungkapkan, ada penurunan drastis kegiatan produksi di seluruh pabrik yang dioperasikan TMMIN. Hal ini lantaran penurunan demand di dalam negeri maupun kendala yang dihadapi saat ekspor. Dimana negara-negara tujuan ekspor juga mengalami nasib serupa bahkan ada yang lebih buruk dari Indonesia yakni negara-negara Amerika Latin. "Domestik memang lesu imbas dari pandemi. Begitupula ekspor dimana negara tujuan ekspor kami di Amerika Latin tak hanya terpengaruh pandemi saja, tetapi kondisi perekonomiannya sudah drop," ungkapnya. (Baca juga: Masih Tak Percaya Ada Virus Corona? Ini Penjelasan Dokter Reisa)
Saat ini, utilisasi pabrik TMMIN hanya 50% saja dan beroperasi hanya satu shift. Bob memperkirakan, hingga akhir tahun nanti, recovery rate pasar domestik hanya akan mencapai 30% saja dibandingkan dengan pencapaian tahun lalu. "Kami perkirakan tahun depan baru bisa pulih. Itupun tergantung bagaimana penanganan pandemi ini. Tentunya semua pihak membutuhkan kebijakan yang tegas dari pemerintah kita," urainya.
Hal senada disampaikan Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara. Menurut dia, industri automotif nasional tidak bisa memastikan kapan pasar domestik akan membaik. "Sejauh ini masyarakat masih berhati-hati dan masih menunggu sejauh mana penanganan pandemi ini sukses," paparnya. Kukuh mengungkapkan, lesunya penjualan mobil berdampak langsung pada lesunya industri manufaktur. Bahkan, saat ini, pabrik-pabrik mobil hanya beroperasi satu shift saja. "Artinya ada pengurangan (kapasitas produksi) separuhnya. Kami tidak bisa memprediksi kapan kondisi pasar akan pulih kembali. Meskipun kondisi kita lebih baik dari Malaysia yang bulan lalu hanya menjual 131 unit mobil," katanya. (Baca juga: Higga Mei Penerimaan Negara Baru Capai Rp664,4 Triliun)
Gaikindo sudah mengusulkan kepada pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk memberikan relaksasi perpajakan sebagai stimulus sehingga masyarakat tertarik untuk membeli kendaraan. Misalnya menurunkan Bea Balik Nama (BBN) dari 12% menjadi 5%, juga melakukan moratorium pajak progresif. "Dengan demikian masyarakat yang masih memiliki daya beli dan memiliki keinginan untuk membeli mobil akan tertarik," paparnya. Hal ini tidak hanya berdampak pada bergeraknya sektor hulu hingga hilir automotif, tetapi juga memberikan pemasukan kepada daerah. "Kami sudah berkirim surat ke Pemda di seluruh Indonesia, tetapi tidak ada respons positif," ungkapnya. Padahal, lanjut dia, dengan tidak anjloknya penjualan kendaraan bermotor, maka pendapatan pajak daerah dari BBN juga ikut anjlok.
Sedangkan dari sisi produksi, Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengungkapkan, ada penurunan drastis kegiatan produksi di seluruh pabrik yang dioperasikan TMMIN. Hal ini lantaran penurunan demand di dalam negeri maupun kendala yang dihadapi saat ekspor. Dimana negara-negara tujuan ekspor juga mengalami nasib serupa bahkan ada yang lebih buruk dari Indonesia yakni negara-negara Amerika Latin. "Domestik memang lesu imbas dari pandemi. Begitupula ekspor dimana negara tujuan ekspor kami di Amerika Latin tak hanya terpengaruh pandemi saja, tetapi kondisi perekonomiannya sudah drop," ungkapnya. (Baca juga: Masih Tak Percaya Ada Virus Corona? Ini Penjelasan Dokter Reisa)
Saat ini, utilisasi pabrik TMMIN hanya 50% saja dan beroperasi hanya satu shift. Bob memperkirakan, hingga akhir tahun nanti, recovery rate pasar domestik hanya akan mencapai 30% saja dibandingkan dengan pencapaian tahun lalu. "Kami perkirakan tahun depan baru bisa pulih. Itupun tergantung bagaimana penanganan pandemi ini. Tentunya semua pihak membutuhkan kebijakan yang tegas dari pemerintah kita," urainya.
Lihat Juga :