Peringkat Daya Saing Singapura Paling Kompetitif, Indonesia Urutan 40
Kamis, 18 Juni 2020 - 07:09 WIB
loading...
A
A
A
Di samping itu, daya saing tidak akan menutup kerja sama global. Sebaliknya, keterbukaan merupakan hal yang penting dalam meningkatkan daya saing. Eropa dan Amerika Utara memiliki tujuh perwakilan dalam jajaran 10 besar. Sisanya diwakili Asia seperti Singapura, Hong Kong, dan UEA.
Selain IMD, institusi lain yang sering mengeluarkan peringkat daya saing dunia ialah Forum Ekonomi Dunia (WEF). Namun, sejauh ini WEF belum merilis laporan terbaru. Tahun lalu WEF menyatakan daya saing di Subsahara Afrika masih rendah akibat kebijakan yang kurang proaktif dan adanya krisis kepemimpinan.
Menurut WEF, Indonesia dan Vietnam menjadi wilayah yang mengalami pertumbuhan ekonomi terbesar di Asia pada 2018. Indonesia dinilai mengalami peningkatan di 10 dari 12 sektor, termasuk kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur. Meski nilai inovasinya tak berkembang, Indonesia menjadi inovator teratas di Asia.
Indonesia mengalami kenaikan dan penurunan peringkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, jika dibandingkan lima tahun lalu, prestasi Indonesia cukup baik. Faktor pemicu utamanya ialah pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di peringkat delapan di indeks ukuran pasar domestik. “Namun, Indonesia masih perlu memperbesar efisiensi pasar buruh,” ungkap WEF. (Lihat videonya: Seorang Pemotor di Solo Tewas Terjerat Beang Layangan di Leher)
“Di sektor tersebut, Indonesia berada di posisi ke-96. Indonesia tergusur oleh terlalu besarnya dana pengeluaran, terbatasnya fleksibilitas penentuan upah, dan terbatasnya buruh perempuan,” tambah lembaga nirlaba asal Swiss itu.
Menurut WEF, korupsi, tidak efisiennya birokrasi pemerintah, terbatasnya akses keuangan, infrastruktur yang tidak memadai, dan kebijakan yang tidak stabil akan menjadi aspek terbesar yang memengaruhi daya saing suatu negara. Survei tahun lalu melibatkan 14.375 eksekutif bisnis, 94 di antaranya berasal dari Indonesia. (Muh Shamil/Hafid Fuad/Oktiani Endarwati)
Selain IMD, institusi lain yang sering mengeluarkan peringkat daya saing dunia ialah Forum Ekonomi Dunia (WEF). Namun, sejauh ini WEF belum merilis laporan terbaru. Tahun lalu WEF menyatakan daya saing di Subsahara Afrika masih rendah akibat kebijakan yang kurang proaktif dan adanya krisis kepemimpinan.
Menurut WEF, Indonesia dan Vietnam menjadi wilayah yang mengalami pertumbuhan ekonomi terbesar di Asia pada 2018. Indonesia dinilai mengalami peningkatan di 10 dari 12 sektor, termasuk kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur. Meski nilai inovasinya tak berkembang, Indonesia menjadi inovator teratas di Asia.
Indonesia mengalami kenaikan dan penurunan peringkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, jika dibandingkan lima tahun lalu, prestasi Indonesia cukup baik. Faktor pemicu utamanya ialah pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di peringkat delapan di indeks ukuran pasar domestik. “Namun, Indonesia masih perlu memperbesar efisiensi pasar buruh,” ungkap WEF. (Lihat videonya: Seorang Pemotor di Solo Tewas Terjerat Beang Layangan di Leher)
“Di sektor tersebut, Indonesia berada di posisi ke-96. Indonesia tergusur oleh terlalu besarnya dana pengeluaran, terbatasnya fleksibilitas penentuan upah, dan terbatasnya buruh perempuan,” tambah lembaga nirlaba asal Swiss itu.
Menurut WEF, korupsi, tidak efisiennya birokrasi pemerintah, terbatasnya akses keuangan, infrastruktur yang tidak memadai, dan kebijakan yang tidak stabil akan menjadi aspek terbesar yang memengaruhi daya saing suatu negara. Survei tahun lalu melibatkan 14.375 eksekutif bisnis, 94 di antaranya berasal dari Indonesia. (Muh Shamil/Hafid Fuad/Oktiani Endarwati)
(ysw)
Lihat Juga :