Ekonomi Rusia Mulai Retak, Begini Proyeksi Para Ekonom
Selasa, 05 April 2022 - 22:45 WIB
loading...
A
A
A
Goldman Sachs juga memperkirakan, adanya kontraksi 10%. Namun lembaga think tank Institute for International Finance telah memproyeksikan penurunan 15% yang lebih merusak dalam PDB Rusia pada tahun 2022 dan semakin dalam bertambah 3% pada tahun 2023.
Namun kekhawatiran default utang Rusia belum terwujud, dimana Kremlin masih mampu melakukan pembayaran obligasi yang diawasi ketat baru-baru ini meskipun ada belenggu sanksi oleh kekuatan Barat yang telah membekukan sebagian besar persediaan cadangan mata uang asing bank sentral senilai USD640 miliar.
Saham Rusia juga naik tipis sejak dibuka kembali pada 24 Maret setelah penutupan bursa Moskow selama sebulan, bersama dengan rubel seiring langkah-langkah pengendalian modal yang diambil oleh Bank Sentral Rusia dan memudarnya risiko gagal bayar utang.
"Pemulihan yang lebih berkelanjutan mungkin membutuhkan kesepakatan damai, tetapi masih terlihat jauh. Sementara itu, spillovers dari perang akan dirasakan di Eropa Tengah dan Timur (CEE)," kata Kepala Ekonom Capital Economics Emerging Markets, William Jackson dalam laporannya.
"Industri akan terpukul oleh gangguan pasokan dan inflasi yang lebih tinggi akan membebani pendapatan riil rumah tangga dan mengurangi pengeluaran konsumen. Kami memperkirakan perang akan mencukur 1,0-1,5% dari pertumbuhan ekonomi Eropa Tengah dan Timur tahun ini," jelasnya.
Prospek pembicaraan damai mungkin bakal semakin gelap menyusul munculnya tuduhan pembantaian warga sipil oleh pasukan Rusia di Bucha dan kota-kota Ukraina lainnya. Dugaan kekejaman mengecilkan harapan untuk pembicaraan damai dan meningkatkan ancaman sanksi internasional yang lebih berat.
Baca Juga: Ramalan Bos JPMorgan: Perang Rusia Ukraina Bakal Berkepanjangan, Sarankan Ini ke AS
Namun kekhawatiran default utang Rusia belum terwujud, dimana Kremlin masih mampu melakukan pembayaran obligasi yang diawasi ketat baru-baru ini meskipun ada belenggu sanksi oleh kekuatan Barat yang telah membekukan sebagian besar persediaan cadangan mata uang asing bank sentral senilai USD640 miliar.
Saham Rusia juga naik tipis sejak dibuka kembali pada 24 Maret setelah penutupan bursa Moskow selama sebulan, bersama dengan rubel seiring langkah-langkah pengendalian modal yang diambil oleh Bank Sentral Rusia dan memudarnya risiko gagal bayar utang.
"Pemulihan yang lebih berkelanjutan mungkin membutuhkan kesepakatan damai, tetapi masih terlihat jauh. Sementara itu, spillovers dari perang akan dirasakan di Eropa Tengah dan Timur (CEE)," kata Kepala Ekonom Capital Economics Emerging Markets, William Jackson dalam laporannya.
"Industri akan terpukul oleh gangguan pasokan dan inflasi yang lebih tinggi akan membebani pendapatan riil rumah tangga dan mengurangi pengeluaran konsumen. Kami memperkirakan perang akan mencukur 1,0-1,5% dari pertumbuhan ekonomi Eropa Tengah dan Timur tahun ini," jelasnya.
Prospek pembicaraan damai mungkin bakal semakin gelap menyusul munculnya tuduhan pembantaian warga sipil oleh pasukan Rusia di Bucha dan kota-kota Ukraina lainnya. Dugaan kekejaman mengecilkan harapan untuk pembicaraan damai dan meningkatkan ancaman sanksi internasional yang lebih berat.
Baca Juga: Ramalan Bos JPMorgan: Perang Rusia Ukraina Bakal Berkepanjangan, Sarankan Ini ke AS
Lihat Juga :