Saat Ramadhan Harga Jual Gas LPG Nonsubsidi Dinilai Tak Terkendali

Minggu, 17 April 2022 - 14:50 WIB
loading...
Saat Ramadhan Harga...
Selisih harga gas lpg non-subsidi dengan patokan Pertamina terbilang tinggi. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Pertamina memang sudah menaikkan harga gas LPG non-subsidi sebanyak dua kali. Kenaikan pertama pada Desember 2021 dari Rp11.500 kg menjadi Rp13.500. Kemudian pada Februari 2022, Pertamina kembali menaikkan harga jual LPG non-subsidi menjadi Rp15.500 per kg.

Baca juga: Pemerintah Tegaskan Ketersediaan BBM, Gas Elpiji, dan Bahan Pokok Aman saat Lebaran 2022

Secara sederhana, jika melihat angka kenaikan harga itu, maka untuk gas LPG non-subsidi ukuran 5,5 kg banderol seharusnya Rp85.250. Sementara untuk ukuran 12 kg harganya Rp186.000.

Di tingkat pengecer harga gas LPG non-subsidi akan lebih mahal lagi, terutama yang lokasinya lebih dari 60 km dari filling plant. Mengutip Pertamina.com, daftar harga jual gas non-PSO bervariasi berdasarkan wilayah.

Ditambah biaya ongkos kirim, di tingkat pengecer harga jual gas LPG naik lagi antara Rp2.750 hingga Rp28.750 per tabung 5,5 kg. Sementara untuk gas 12 kg harga jualnya naik antara Rp1.000 rupiah hingga Rp57.000.

Nah jika mengacu data Pertamina.com itu, seharusnya harga jual gas LPG non-subsidi 5,5kg adalah Rp88.000 untuk wilayah Jawa. Sedangkan gas 12kg Rp187.000.

Faktanya yang terjadi di tingkat pangkalan di beberapa wilayah harga gas LPG non-subsidi itu lebih mahal lagi. Di sebuah pangkalan di Depok dan Cikaret, Kabupaten Bogor, misalnya, harga gas LPG 5,5kg mencapai Rp100 ribu, selisihnya sebesar Rp12.000.

Padahal dua minggu sebelumnya, harga jual gas LPG non-subsidi ukuran 5,5 kg masih Rp90.000. Harga itu pun sebelumnya telah naik dua kali. Ketika ditanya kenapa Rp100.000, si pedagang menjawab lancar. "Sudah naik lagi".



Sementara untuk gas 12kg harga jual di tingkat konsumen mencapai Rp200 ribu. Selisihnya untuk harga jual wilayah Jawa adalah Rp13.000.

Tak terkendalinya harga jual gas LPG non-subsidi di tingkat pengecer jelas memberatkan masyarakat. Para pedagang dengan seenaknya mematok harga, apalagi di saat Ramadhan dan jelang Lebaran saat ini, karena memang tak ada ketentuan harga jual.

"Kami belum menetapkan toleransi (harga) di level pengecer," kata Irto Ginting, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga SH C&T, kepada SINDOnews, Sabtu (16/4/2022).

Menurut Irto, umumnya pangkalan atau pengecer menaikkan karena mungkin ada layanan tambahan seperti antar-pasang. Masalahnya harga Rp100 ribu tadi belum termasuk layanan itu atau yang lainnya.

Masyarakat terpaksa berhadapan dengan harga jual gas LPG non-subsidi yang tak terkendali itu lantaran tempat-tempat terdekat untuk mendapatkannya terbatas. Memang Pertamina menyediakan harga sesuai ketetapan mereka di tempat-tempat yang menjadi agen resmi, seperti SPBU.

Pertanyaannya, selain lokasi yang dekat apakah stoknya bakal tetap tersedia karena sangat diburu masyarakat. Biasanya barang-barang yang harganya dipatok resmi dan lebih murah menjadi susah ditemukan, seperti gula.

Jika harga gas LPG non-subsidi di tingkat pengecer tak dikendalikan maka akan menjadi bumerang buat Pertamina sendiri. Banyak masyarakat yang akan migrasi ke gas subsidi.

Baca juga: Mobil Listrik Modern Pertama Toyota Hadir Tahun Ini, Dibanderol Rp600 Juta-an

Ujungnya, kuota gas subsidi akan membengkak dan menjadi terbatas. Di sisi lain pembayaran ganti subsidi oleh pemerintah ke Pertamina kerap kali tersendat.

"Betul (menjadi bumerang), tapi kalo (mengatur harga) pengecer memang terlalu jauh," bela Irto.
(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Rp16.250, Bahlil: Sudah Diperhitungkan Secara Bijak
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
Pertamina Akselerasi...
Pertamina Akselerasi Transisi Energi Melalui Program Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon
Desa Energi Berdikari...
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
PHE Catat Produksi Migas...
PHE Catat Produksi Migas 1,03 Juta BOEPD di 2025, Kuasai 65% Lifting Minyak RI
Dorong Ekosistem Digital...
Dorong Ekosistem Digital Energi, Pertamina Patra Niaga Raih Digital Innovation Awards 2026
Pertamina Dikabarkan...
Pertamina Dikabarkan Melarang Mobil 1.400cc Diisi Pertalite, Ini Daftar Kendaraanya
Survei Nasional: 83,7...
Survei Nasional: 83,7 Persen Publik Puas Kinerja Pertamina
Daftar Beasiswa Pertamina...
Daftar Beasiswa Pertamina Sobat Bumi 2026, Dapat Bantuan UKT dan Biaya Hidup
Rekomendasi
Korea Selatan vs Republik...
Korea Selatan vs Republik Ceko: Konsistensi Kontra Jago Bola Mati
Dari Infrastruktur ke...
Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
Profil Julian Quinones,...
Profil Julian Quinones, Pencetak Gol Pertama di Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Beban Berat Kelas Menengah...
Beban Berat Kelas Menengah di Tengah Kenaikan Pertamax jadi Rp16.250/Liter
Bahlil Ungkap Penyebab...
Bahlil Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sejumlah Daerah, Janji Pulih Cepat
Indodax Diapresiasi...
Indodax Diapresiasi Atas Edukasi dan Pengembangan Pasar Aset Kripto
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Rp16.250, Bahlil: Sudah Diperhitungkan Secara Bijak
Lewat Program Pondasi,...
Lewat Program Pondasi, Brahma Binabakti Renovasi Rumah Tak Layak di Muaro Jambi
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
Infografis
Jerman Khawatir Bom...
Jerman Khawatir Bom Nuklir AS Tak Bela NATO saat Perang Lawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved