Stasiun Gambir Bakal Pensiun Layani Rute Jarak Jauh, Begini Sejarahnya
Kamis, 26 Mei 2022 - 16:00 WIB
loading...
A
A
A
Pada 1864, perusahaan kereta api swasta, Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschapij (NISM) mendapatkan konsensi pembangunan berdasar surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Gouvernement atau GB) Nomor 1 tanggal 27 Maret 1864 dan Nomor 1 tnggal 19 Juni 1865 serta surat keputusan Raja Belanda (Koningklijk Besluit) tanggal 22 Juli 1868.
Jumat, 15 Oktober 1869 dimulai pembukaan pembangunan jalur kereta api Jakarta-Bogor. Pembukaan ditandai melalui upacara yang dihadiri Gubernur Jenderal P. Myer. Proyek sepanjang 56 km tersebut dipimpin oleh Ir. J. P. Bordes yang terbagi menjadi tiga bagian, yakni Jakarta-Weltevreden, Weltevreden-Meester Cornelis, dan Meester Cornelis-Bogor.
Dalam perkembangannya, pada 1976 Gambir telah menjadi Stasiun Layang, Gubernur Jakarta Ali Sadikin dan Gubernur Jawa Barat Solihin GP melaksanakan kerja sama pembangunan Kawasan Jabotabek (Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi). Pengembangan Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Botabek) diharapkan mampu menjadi pemukiman baru untuk menampung penduduk Jakarta yang sudah overload.
Untuk menarik minat penduduk Jakarta menetap di Botabek pemerintah meningkatkan layanan transportasi yang memadai sehingga penduduk tidak ragu untuk menetap di Botabek. Pemerintah melalui Departeman Perhubungan Darat bersinergi dengan Jepang meningkatkan pelayanan transportasi di Jabotabek.
Kerja sama tersebut membangun Sistem Kereta Api Komuter Modern guna menumbuhkan peran kereta api di wilayah Jabotabek. Salah satunya adalah proyek pembangunan jalur layang kereta api Jakarta-Manggarai.
Dalam pelaksanaan proyek jalan layang Jakarta-Manggarai Jepang menunjuk tim dari JICA (Japan International Cooperation Agency). Rencana pembangunan tercatat dalam rencana induk kereta api Jabotabek tahun 1981.
Jalur layang sepanjang 8,5 kilometer tersebut akan dibangun 5,1 meter di atas permukaan tanah. Nantinya, jalur layang akan memiliki jalur ganda yang dilengkapi dengan elektrifikasi dan sinyal otomatais sehingga KRL, KRD, dan kereta jarak jauh dapat melintas.
Jumat, 15 Oktober 1869 dimulai pembukaan pembangunan jalur kereta api Jakarta-Bogor. Pembukaan ditandai melalui upacara yang dihadiri Gubernur Jenderal P. Myer. Proyek sepanjang 56 km tersebut dipimpin oleh Ir. J. P. Bordes yang terbagi menjadi tiga bagian, yakni Jakarta-Weltevreden, Weltevreden-Meester Cornelis, dan Meester Cornelis-Bogor.
Dalam perkembangannya, pada 1976 Gambir telah menjadi Stasiun Layang, Gubernur Jakarta Ali Sadikin dan Gubernur Jawa Barat Solihin GP melaksanakan kerja sama pembangunan Kawasan Jabotabek (Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi). Pengembangan Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Botabek) diharapkan mampu menjadi pemukiman baru untuk menampung penduduk Jakarta yang sudah overload.
Untuk menarik minat penduduk Jakarta menetap di Botabek pemerintah meningkatkan layanan transportasi yang memadai sehingga penduduk tidak ragu untuk menetap di Botabek. Pemerintah melalui Departeman Perhubungan Darat bersinergi dengan Jepang meningkatkan pelayanan transportasi di Jabotabek.
Kerja sama tersebut membangun Sistem Kereta Api Komuter Modern guna menumbuhkan peran kereta api di wilayah Jabotabek. Salah satunya adalah proyek pembangunan jalur layang kereta api Jakarta-Manggarai.
Dalam pelaksanaan proyek jalan layang Jakarta-Manggarai Jepang menunjuk tim dari JICA (Japan International Cooperation Agency). Rencana pembangunan tercatat dalam rencana induk kereta api Jabotabek tahun 1981.
Jalur layang sepanjang 8,5 kilometer tersebut akan dibangun 5,1 meter di atas permukaan tanah. Nantinya, jalur layang akan memiliki jalur ganda yang dilengkapi dengan elektrifikasi dan sinyal otomatais sehingga KRL, KRD, dan kereta jarak jauh dapat melintas.
Lihat Juga :