Kerugian Capai Triliunan, Erick Thohir Pastikan Pertamina dan PLN Tidak Bangkrut
Sabtu, 04 Juni 2022 - 16:53 WIB
loading...
PLN dan Pertamina masih mencatatkan kerugian signifikan. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero) masih mencatatkan kerugian signifikan. Meski begitu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memastikan kondisi keuangan perusahaan pelat merah di sektor energi dan kelistrikan itu membaik.
Kerugian Pertamina dan PLN terjadi setelah adanya lonjakan harga batu bara dan minyak mentah global. Untuk diketahui, komoditas tersebut merupakan bahan baku produksi kedua perseroan.
Adapun kerugian Pertamina mencapai Rp191,2 triliun dan PLN mengalami kerugian Rp71,1 triliun. Erick memastikan kerugian ini tidak membuat kedua BUMN ini menjadi bangkrut.
"Kemarin kan seakan-akan PLN dan Pertamina bangkrut, tidak," tegas Erick saat ditemui wartawan di Hotel Bidakara, Jakarta, dikutip Sabtu (4/6/2022).
Baca juga: Pertamina Apresiasi Dukungan Pemerintah Tambah Subsidi BBM & LPG dan Kompensasi BBM
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mencatat defisit arus kas Pertamina mencapai USD2,44 miliar atau Rp35,86 triliun.
Defisit ini terjadi per Maret 2022 lantaran Pertamina tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada saat harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan.
Kerugian Pertamina dan PLN terjadi setelah adanya lonjakan harga batu bara dan minyak mentah global. Untuk diketahui, komoditas tersebut merupakan bahan baku produksi kedua perseroan.
Adapun kerugian Pertamina mencapai Rp191,2 triliun dan PLN mengalami kerugian Rp71,1 triliun. Erick memastikan kerugian ini tidak membuat kedua BUMN ini menjadi bangkrut.
"Kemarin kan seakan-akan PLN dan Pertamina bangkrut, tidak," tegas Erick saat ditemui wartawan di Hotel Bidakara, Jakarta, dikutip Sabtu (4/6/2022).
Baca juga: Pertamina Apresiasi Dukungan Pemerintah Tambah Subsidi BBM & LPG dan Kompensasi BBM
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mencatat defisit arus kas Pertamina mencapai USD2,44 miliar atau Rp35,86 triliun.
Defisit ini terjadi per Maret 2022 lantaran Pertamina tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada saat harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan.
Lihat Juga :