Terungkap Utang Garuda Indonesia ke Boeing Capai Rp10 Triliun
Jum'at, 17 Juni 2022 - 15:32 WIB
loading...
Dirut Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengaku produsen pesawat terbesar dunia, Boeing tidak mendaftarkan diri ke dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Jakarta Pusat. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Direktur Utama (Dirut) PT Garuda Indonesia Tbk , Irfan Setiaputra mengaku produsen pesawat terbesar dunia, Boeing tidak mendaftarkan diri ke dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU ) di Pengadilan Jakarta Pusat. Padahal Boeing menjadi salah satu kreditur Garuda dengan nilai piutang mencapai USD822 juta atau setara Rp10 triliun lebih.
Baca Juga: Utang Garuda Indonesia Naik Jadi Rp142 Triliun, Segini Rinciannya
Pernyataan ini disampaikan Irfan saat proses voting dalam sidang PKPU, Jumat (17/6/2022). Meski begitu dia tidak mengungkapkan alasan utama manajemen Boeing enggan ikut berpartisipasi dalam PKPU emiten dengan kode saham GIAA ini.
"Jika Boeing, ini adalah produsen pesawat yang tidak partisipasi di PKPU, namun punya nilai besar tidak ajukan tagihannya dalam kurun waktu yang ditentukan, (piutang) USD822 juta atau sebesar 10 triliun," ungkap Dirut Garuda, Irfan di PN Jakarta Pusat.
Irfan juga menjelaskan, ada perubahan nominal surat utang yang terdapat dalam proposal restrukturisasi utang. Awalnya nominal surat utang mencapai USD800 juta, namun terjadi kenaikan menjadi USD825 juta. Kenaikan terjadi usai negosiasi manajemen dengan kreditur.
Baca Juga: Utang Garuda Indonesia Naik Jadi Rp142 Triliun, Segini Rinciannya
Pernyataan ini disampaikan Irfan saat proses voting dalam sidang PKPU, Jumat (17/6/2022). Meski begitu dia tidak mengungkapkan alasan utama manajemen Boeing enggan ikut berpartisipasi dalam PKPU emiten dengan kode saham GIAA ini.
"Jika Boeing, ini adalah produsen pesawat yang tidak partisipasi di PKPU, namun punya nilai besar tidak ajukan tagihannya dalam kurun waktu yang ditentukan, (piutang) USD822 juta atau sebesar 10 triliun," ungkap Dirut Garuda, Irfan di PN Jakarta Pusat.
Irfan juga menjelaskan, ada perubahan nominal surat utang yang terdapat dalam proposal restrukturisasi utang. Awalnya nominal surat utang mencapai USD800 juta, namun terjadi kenaikan menjadi USD825 juta. Kenaikan terjadi usai negosiasi manajemen dengan kreditur.
Lihat Juga :