Begini Langkah Garuda Lepas dari Tindihan Utang Rp138 Triliun
Selasa, 28 Juni 2022 - 15:31 WIB
loading...
Garuda Indonesia menyiapkan sejumlah skema untuk melunasi utangnya. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Ada sejumlah skema pelunasan utang yang ditempuh PT Garuda Indonesia Tbk yang disesuaikan dengan kelompok kreditur emiten bersandi saham GIAA ini. Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyebut skema pelunasan utang dituangkan dalam proposal damai yang telah mendapat persetujuan dari mayoritas kreditur.
Baca juga: Segera Cair, PMN Garuda Rp7,5 Triliun Akan Dipakai Perbaikan Pesawat
"Ada beberapa kelompok kreditur, khusus di kasus Garuda Indonesia, kami mengklasifikasi kreditur dan skemanya seperti apa," ungkap Irfan dalam konferensi pers pasca-pengumuman hasil PKPU, di Jakarta, Selasa (28/6/2022).
Skema pelunasan utang yang ditempuh Garuda Indonesia di antaranya manajemen akan menggunakan uang kas operasional untuk melunasi utang dengan nilai tagihan di bawah Rp255 juta. Skema ini termasuk pajak dan hak karyawan perusahaan yang belum dibayarkan.
Lalu, piutang PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dilunasi melalui obligasi wajib konversi (OWK) yang dikonversi menjadi ekuitas. Kemudian, piutang financial lease dari Export Development Canada (EDC) melalui penjualan atau pengalihan aset pembiayaan.
"Apabila ada sisa utang akan diselesaikan dengan skema ekuitas baru dan new coupon debt," ungkap Irfan.
Piutang Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Himbara, dan bank swasta akan dikonversikan menjadi long term loan. Untuk piutang BUMN akan dikonversi menjadi long term payable.
Baca juga: Segera Cair, PMN Garuda Rp7,5 Triliun Akan Dipakai Perbaikan Pesawat
"Ada beberapa kelompok kreditur, khusus di kasus Garuda Indonesia, kami mengklasifikasi kreditur dan skemanya seperti apa," ungkap Irfan dalam konferensi pers pasca-pengumuman hasil PKPU, di Jakarta, Selasa (28/6/2022).
Skema pelunasan utang yang ditempuh Garuda Indonesia di antaranya manajemen akan menggunakan uang kas operasional untuk melunasi utang dengan nilai tagihan di bawah Rp255 juta. Skema ini termasuk pajak dan hak karyawan perusahaan yang belum dibayarkan.
Lalu, piutang PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dilunasi melalui obligasi wajib konversi (OWK) yang dikonversi menjadi ekuitas. Kemudian, piutang financial lease dari Export Development Canada (EDC) melalui penjualan atau pengalihan aset pembiayaan.
"Apabila ada sisa utang akan diselesaikan dengan skema ekuitas baru dan new coupon debt," ungkap Irfan.
Piutang Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Himbara, dan bank swasta akan dikonversikan menjadi long term loan. Untuk piutang BUMN akan dikonversi menjadi long term payable.
Lihat Juga :