Kejahatan Siber Bisa Mengancam Reputasi Bisnis, Kenali Modusnya
Selasa, 05 Juli 2022 - 13:31 WIB
loading...
A
A
A
Terlepas dari motivasi di balik kejahatan tersebut, kejahatan dunia maya diklasifikasikan sebagai kejahatan ekonomi selama menyebabkan kerugian ekonomi atau finansial bagi korporasi sebagai korban mereka.
Dari segi teknis, Indonesia belum memiliki paten atas produk teknologi apapun. Hal ini menjadi tantangan bagi Indonesia untuk memastikan keamanan dari produk yang digunakan secara luas oleh masyarakat, baik untuk kebutuhan pribadi maupun pekerjaan.
Keadaannya lebih parah lagi, seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum Perhimpunan Riset Pemasaran Indonesia (PERPI), Rhesa Yogaswara menerangkan, bahwa survei menyatakan, bahwa 86% pengembang teknologi tidak memandang keamanan aplikasi sebagai prioritas.
Hal ini menempatkan keamanan siber dan ketahanan siber Indonesia semakin dalam risiko, terutama ketika pelatihan di kantor seringkali ‘melupakan’ pentingnya memberikan pengarahan terkait pencadangan (backup) dan langkah-langkah keamanan lainnya dalam menggunakan teknologi.
Perusahaan teknologi IBM mencatat, tiap kebocoran data membuat kerugian finansial yang jumlahnya terus meningkat. Pada 2020, angka kerugian finansial akibat kebocoran data adalah USD3,86 juta dan naik jadi USD4,24 juta di 2021.
Jika dirata-ratakan, kebocoran data menyumbang kerugian sebesar Rp 2,5 juta untuk satu data masyarakat. Dan ancaman siber pada 2022 tidak akan jauh dari ancaman yang terjadi pada 2021.
Untuk itulah, Rhesa menganggap Indonesia punya pekerjaan rumah untuk mencegah kebocoran data, baik di lembaga negara atau swasta. Dengan banyaknya orang yang bekerja online, angka peretasan dan kebocoran data pun bisa makin tinggi.
Dari segi teknis, Indonesia belum memiliki paten atas produk teknologi apapun. Hal ini menjadi tantangan bagi Indonesia untuk memastikan keamanan dari produk yang digunakan secara luas oleh masyarakat, baik untuk kebutuhan pribadi maupun pekerjaan.
Keadaannya lebih parah lagi, seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum Perhimpunan Riset Pemasaran Indonesia (PERPI), Rhesa Yogaswara menerangkan, bahwa survei menyatakan, bahwa 86% pengembang teknologi tidak memandang keamanan aplikasi sebagai prioritas.
Hal ini menempatkan keamanan siber dan ketahanan siber Indonesia semakin dalam risiko, terutama ketika pelatihan di kantor seringkali ‘melupakan’ pentingnya memberikan pengarahan terkait pencadangan (backup) dan langkah-langkah keamanan lainnya dalam menggunakan teknologi.
Perusahaan teknologi IBM mencatat, tiap kebocoran data membuat kerugian finansial yang jumlahnya terus meningkat. Pada 2020, angka kerugian finansial akibat kebocoran data adalah USD3,86 juta dan naik jadi USD4,24 juta di 2021.
Jika dirata-ratakan, kebocoran data menyumbang kerugian sebesar Rp 2,5 juta untuk satu data masyarakat. Dan ancaman siber pada 2022 tidak akan jauh dari ancaman yang terjadi pada 2021.
Untuk itulah, Rhesa menganggap Indonesia punya pekerjaan rumah untuk mencegah kebocoran data, baik di lembaga negara atau swasta. Dengan banyaknya orang yang bekerja online, angka peretasan dan kebocoran data pun bisa makin tinggi.
Lihat Juga :