Bantuan dari Rusia Jadi Harapan Presiden Sri Lanka Usai Negaranya Kehabisan BBM

Jum'at, 08 Juli 2022 - 05:51 WIB
loading...
Bantuan dari Rusia Jadi...
Presiden Sri Lanka mengaku telah meminta Presiden Rusia, Vladimir Putin untuk membantu negaranya yang sedang kekurangan uang tunai untuk mengimpor bahan bakar minyak (BBM). Foto/Dok
A A A
KOLOMBO - Presiden Sri Lanka mengaku telah meminta Presiden Rusia , Vladimir Putin untuk membantu negaranya yang sedang kekurangan uang tunai untuk mengimpor bahan bakar minyak (BBM). Sebelumnya Menteri Energi mengungkapkan, stok BBM yang dimiliki Sri Lanka sudah menipis.

Sri Lanka sedang berjuang menghadapi krisis ekonomi terburuknya sejak kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1948. Gotabaya Rajapaksa mengatakan, dia telah "melakukan diskusi yang sangat produktif" dengan Putin .

Baca Juga: Sri Lanka Menuju Kebangkrutan, Stok BBM Hanya Cukup Buat Seminggu

Menteri energi Sri Lanka sempat memperingatkan pada akhir pekan kemarin, bahwa negaranya mungkin akan segera kehabisan bensin. Pada hari Rabu kemarin, ratusan orang turun ke jalan-jalan di Ibu kota Kolombo untuk memprotes pemerintah.

"Saya meminta tawaran dukungan kredit untuk mengimpor bahan bakar," tulit Rajapaksa dalam Tweet-nya mengacu pada percakapannya dengan pemimpin Rusia itu.

Rajapaksa juga menerangkan, dirinya "dengan rendah hati mengajukan permintaan" agar penerbangan antara Moskow dan Kolombo dilanjutkan, setelah maskapai berbendera Rusia Aeroflot menangguhkan layanan bulan lalu.

"Kami dengan suara bulat sepakat bahwa memperkuat hubungan bilateral di sektor-sektor seperti pariwisata, perdagangan, dan budaya adalah yang terpenting dalam memperkuat persahabatan yang dimiliki kedua negara kita," tambahnya.

Sri Lanka telah membeli minyak dari Rusia dalam beberapa bulan terakhir untuk membantu meningkatkan pasokan bahan bakar selama krisis, dan pemerintah telah mengisyaratkan bahwa mereka bersedia membeli lebih banyak dari negara kaya energi itu.

Upaya Rajapaksa untuk menyelesaikan krisis ekonomi terburuk Sri Lanka dalam lebih dari 70 tahun, termasuk mengamankan dukungan keuangan dari India dan China. Namun sejauh ini gagal mengakhiri kekurangan bahan bakar, listrik, makanan, dan barang-barang penting lainnya yang sudah terjadi selama berminggu-minggu.

Pada hari Minggu lalu, Menteri Energi Kanchana Wijesekera mengatakan, negara itu hanya memiliki stok bensin yang tersisa kurang dari sehari jika permintaan tetap secara reguler.

Pekan lalu, pihak berwenang menangguhkan penjualan bensin dan solar untuk kendaraan yang tidak penting dalam upaya untuk mempertahankan stok bahan bakarnya yang semakin menipis.

Pada hari Kamis, Bank Sentral Sri Lanka menaikkan suku bunga utamanya sebesar satu poin secara persentase untuk mengatasi melonjaknya biaya hidup di negara itu.

Baca Juga: Kehabisan Stok, Sri Lanka Cari BBM Diskon di Rusia dan Qatar

Suku bunga kredit dinaikkan menjadi 15,5%, sedangkan suku bunga deposito dikerek menjadi 14,5%, tertinggi dalam 21 tahun.
Keputusan itu diambil ketika inflasi tahunan mencapai rekor tertinggi 54,6% pada bulan Juni karena biaya makanan naik lebih dari 80%.

Cadangan devisa Sri Lanka terus menyusut karena salah urus ekonomi dan akibat dari dampak pandemi. Efeknya mereka telah berjuang untuk membayar impor barang-barang penting, termasuk bahan bakar, makanan dan obat-obatan.

Pada bulan Mei, Sri Lanka gagal membayar utang untuk pertama kalinya dalam sejarahnya setelah masa tenggang 30 hari untuk menghasilkan USD78 juta dari pembayaran bunga utang yang belum dibayar berakhir.

Negara itu saat ini sedang dalam negosiasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF) atas bailout senilai 3 miliar Poundsterling. Pemerintah Sri Lanka mengatakan, membutuhkan USD5 miliar tahun ini dan diperlukan dukungan dari komunitas internasional, termasuk IMF.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Runtuhkan Dolar AS,...
Runtuhkan Dolar AS, Putin Kumpulkan 11 Pemimpin ASEAN Termasuk Indonesia
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
BI Sangkal Cadangan...
BI Sangkal Cadangan Devisa Terkuras, Masih di Atas Standar IMF
Bos IMF Peringatkan...
Bos IMF Peringatkan Dunia Tak Akan Pernah Normal Lagi: Bersiap Hadapi Gelombang Krisis Baru
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Langka, Putin Akui Rusia...
Langka, Putin Akui Rusia Krisis Bahan Bakar akibat Serangan Ukraina
Putin: Barat Coba Kacaukan...
Putin: Barat Coba Kacaukan Rusia karena Tak Mampu Mengalahkannya di Medan Perang
Rekomendasi
Ilmuwan Temukan Penyebab...
Ilmuwan Temukan Penyebab Baru di Balik Peningkatan Lemak Perut Seiring Bertambahnya Usia
Akademisi: Riset Advokasi...
Akademisi: Riset Advokasi Kunci Perlindungan Warga Sipil
5 Artis yang Ramaikan...
5 Artis yang Ramaikan HYROX Jakarta 2026, Luna Maya hingga Cinta Laura
Berita Terkini
Tak Sekadar Nyaman,...
Tak Sekadar Nyaman, Hunian Masa Depan Kini Mengandalkan Energi Hijau
Pajak JHT Diminta Hapus,...
Pajak JHT Diminta Hapus, Begini Janji Menkeu Purbaya
Program CID Pertamina...
Program CID Pertamina Patra Niaga Ubah Tantangan Lokal Jadi Peluang Usaha
SIG Berdayakan UMKM...
SIG Berdayakan UMKM Berbasis Potensi Lokal di Tuban
Keamanan Aset Kripto...
Keamanan Aset Kripto Bukan Hanya soal Teknologi, tetapi Kesadaran Pengguna
Kawal Kedaulatan Energi...
Kawal Kedaulatan Energi di Jatim, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Cek Kesiapan SAF hingga B50
Infografis
Ini Rincian Gaji Anggota...
Ini Rincian Gaji Anggota DPR Jadi Rp65,5 Juta usai Pemangkasan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved