Sri Mulyani Sebut Orang Indonesia Jangan Baper, Ada Apa Nih?
Rabu, 13 Juli 2022 - 11:23 WIB
loading...
A
A
A
Dia mengatakan, di Indonesia, emisi karbon berasal dari sektor energi, yang juga akan menjadi area untuk dicermati. "Tapi ini bukan hanya Indonesia saja, jadi orang Indonesia jangan baper (bawa perasaan). Semua negara juga akan dicermati dengan sama," ucap Sri.
AS misalnya, komitmennya terhadap perubahan iklim. Eropa, khususnya yang sedang mengalami ketegangan geopolitik yang berimbas pada akses energi yang terbatas menjadi kondisi yang sangat menantang bagi mereka karena perang Rusia-Ukraina, sehingga komitmen mereka terhadap perubahan iklim, khususnya reduksi karbon juga akan dicermati.
"Jadi, semua negara akan dicermati. Untuk Indonesia, karena kita sudah berkomitmen mereduksi emisi karbon melalui Nationally Determined Contribution (NDC), maka kredibilitas dan reputasi negara kita atas komitmen ini harus terus dibangun dan dijaga," ungkap Sri Mulyani.
Baca Juga: Awasi Efek Berganda Pajak Karbon, Bisa Gerus Daya Beli
Mantan Direktur Bank Dunia itu juga mengatakan, dalam mencapai komitmen ini, Indonesia tidak bersikap patuh untuk memuaskan pihak-pihak lain, tetapi karena Indonesia menyadari perubahan iklim adalah ancaman yang serius bagi rakyatnya sendiri. Perubahan iklim ini juga menimbulkan konsekuensi tersendiri bagi populasi Indonesia.
AS misalnya, komitmennya terhadap perubahan iklim. Eropa, khususnya yang sedang mengalami ketegangan geopolitik yang berimbas pada akses energi yang terbatas menjadi kondisi yang sangat menantang bagi mereka karena perang Rusia-Ukraina, sehingga komitmen mereka terhadap perubahan iklim, khususnya reduksi karbon juga akan dicermati.
"Jadi, semua negara akan dicermati. Untuk Indonesia, karena kita sudah berkomitmen mereduksi emisi karbon melalui Nationally Determined Contribution (NDC), maka kredibilitas dan reputasi negara kita atas komitmen ini harus terus dibangun dan dijaga," ungkap Sri Mulyani.
Baca Juga: Awasi Efek Berganda Pajak Karbon, Bisa Gerus Daya Beli
Mantan Direktur Bank Dunia itu juga mengatakan, dalam mencapai komitmen ini, Indonesia tidak bersikap patuh untuk memuaskan pihak-pihak lain, tetapi karena Indonesia menyadari perubahan iklim adalah ancaman yang serius bagi rakyatnya sendiri. Perubahan iklim ini juga menimbulkan konsekuensi tersendiri bagi populasi Indonesia.
Lihat Juga :