Awasi Efek Berganda Pajak Karbon, Bisa Gerus Daya Beli

loading...
Awasi Efek Berganda Pajak Karbon, Bisa Gerus Daya Beli
Rencana implementasi pajak karbon berisiko menekan daya beli masyarakat dan memperlambat pemulihan ekonomi nasional. Foto/Dok
JAKARTA - Rencana implementasi pajak karbon berisiko menekan daya beli masyarakat dan memperlambat pemulihan ekonomi nasional. Pasalnya, pungutan atas emisi karbon memiliki efek berganda yang signifikan, termasuk risiko tergerusnya daya beli masyarakat karena harga jual beberapa barang yang dikenai pajak menjadi lebih mahal.

"Pemulihan ekonomi pasca-Covid-19 memerlukan waktu lama sampai. Jadi kalau ekonomi baru mau pulih lalu dihajar dengan pajak pemulihannya bisa terhambat," kata Direktur Eksektutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa.

Baca Juga: Sri Mulyani Usul Tarif Pajak Karbon Dipungut Rp75 per Kg CO2e

Seperti diketahui, Pajak karbon akan dikenakan kepada produsen atau menyasar sisi produksi. Kebijakan ini memiliki konsekuensi berupa meningkatnya ongkos produksi sejumlah produk manufaktur.



Sejalan dengan itu, maka produsen akan membebankan pajak tersebut kepada konsumen dengan mengerek harga jual barang. Artinya, masyarakat menjadi pihak terakhir yang harus menanggung beban pajak karbon tersebut.

Selain itu, kebijakan ini juga tidak selaras dengan strategi pemerintah untuk menyehatkan ekonomi yakni pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Belum lama ini, terdapat 15,5 juta UMKM yang sudah masuk dalam platform perdagangan elektronik.

Ditargetkan ada 60 juta UMKM masuk ke platform digital. Jika pajak karbon diterapkan, akselerasi UMKM dikhawatirkan terhambat karena kebijakan tersebut akan berpegaruh terhadap ongkos produksi yang dikeluarkan.

Menurut Fabby, kebijakan ini juga berpotensi menghambat ekspansi bisnis pelaku usaha di dalam negeri karena biaya yang dikeluarkan jauh lebih mahal. Dengan kata lain, pajak karbon berisiko memangkas realisasi penanaman modal terutama yang berasal dari dalam negeri.

"Harus dipikirkan dampak dari kebijakan ini kepada industri-industri tertentu, karena industri yang terkena harus mempersiapkan diri," kata Fabby.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top