Menguak 3 Alasan IMF Melukiskan Gambaran Suram Ekonomi Global di Sisa 2022
Minggu, 31 Juli 2022 - 19:48 WIB
loading...
A
A
A
"Kami juga menandai bahwa ada risiko penting terhadap sisi negatif terkait dengan pasokan gas dari Rusia ke kawasan Euro," kata Gourinchas.
"Dan jika kita berada dalam skenario di mana aliran gas Rusia ke Eropa itu sepenuhnya dimatikan, maka akan ada revisi ke bawah," jelasnya.
Jika benar Rusia mematikan pasokan gas ke benua biru secara penuh, maka akan melumpuhkan sekitar 0,8% aktivitas ekonomi di daerah tersebut. China juga memainkan peran utama dalam perkiraan pertumbuhan global yang direvisi IMF.
Pemerintah China telah menetapkan target pertumbuhan pada level 5,5%, tetapi perkiraan IMF hanya 3,3% dengan kebijakan nol-Covid China diyakini sangat membebani ekonomi. Proyeksi angka pertumbuhan itu menjadi yang paling rendah bagi negara itu di luar pandemi sejak 1976, menurut catatan Gourinchas.
"Ini merupakan berita besar selain wabah COVID-19 dan lockdown yang telah kita lihat pada kuartal pertama dan kedua, dan juga perlambatan dalam hal sektor real estat," bebernya.
Sisi positifnya, China memiliki ruang kebijakan yang melimpah dan tidak menghadapi tekanan inflasi yang kuat dibandingkan dengan seluruh dunia. Hal itu berarti bahwa China dapat tetap lebih akomodatif terhadap kebijakan fiskal.
"Kami melihat ada ruang bagi China mencetak rebound di paruh kedua tahun ini dan pada 2023," kata Gourinchas.
"Dan jika kita berada dalam skenario di mana aliran gas Rusia ke Eropa itu sepenuhnya dimatikan, maka akan ada revisi ke bawah," jelasnya.
Jika benar Rusia mematikan pasokan gas ke benua biru secara penuh, maka akan melumpuhkan sekitar 0,8% aktivitas ekonomi di daerah tersebut. China juga memainkan peran utama dalam perkiraan pertumbuhan global yang direvisi IMF.
Pemerintah China telah menetapkan target pertumbuhan pada level 5,5%, tetapi perkiraan IMF hanya 3,3% dengan kebijakan nol-Covid China diyakini sangat membebani ekonomi. Proyeksi angka pertumbuhan itu menjadi yang paling rendah bagi negara itu di luar pandemi sejak 1976, menurut catatan Gourinchas.
"Ini merupakan berita besar selain wabah COVID-19 dan lockdown yang telah kita lihat pada kuartal pertama dan kedua, dan juga perlambatan dalam hal sektor real estat," bebernya.
Sisi positifnya, China memiliki ruang kebijakan yang melimpah dan tidak menghadapi tekanan inflasi yang kuat dibandingkan dengan seluruh dunia. Hal itu berarti bahwa China dapat tetap lebih akomodatif terhadap kebijakan fiskal.
"Kami melihat ada ruang bagi China mencetak rebound di paruh kedua tahun ini dan pada 2023," kata Gourinchas.
(akr)
Lihat Juga :