3 BUMN yang Kerja Sama dengan China, Nomor 3 Peroleh USD 15 miliar

Selasa, 09 Agustus 2022 - 19:58 WIB
loading...
3 BUMN yang Kerja Sama dengan China, Nomor 3 Peroleh USD 15 miliar
Sedikitnya ada tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia yang bekerja sama dengan China. Foto DOK SINDOnews
A A A
JAKARTA - Sedikitnya ada tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia yang bekerja sama dengan China . Bukan hanya hasil pertanian, sektor industri dan teknologi pun masuk dalam kerjasama tersebut.

Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan kunjungan ke China didampingi Menteri BUMN Erick Thohir dan menjelaskan sejumlah kesepakatan kerjasama antar kedua negara.

Baca juga : Negara-negara Ini Disebut-sebut Jadi Korban Jebakan Utang China

Kerja sama dengan China ini tidak hanya terkait faktor ekspor dan impor hasil pertanian saja namun juga menyangkut sektor industri yang tidak hanya investasi namun juga transfer teknologi.

Sektor industri kendaraan listrik akan difokuskan dalam kerja sama ini. Lebih lanjutnya proyek mengenai kereta api cepat yang hendak diselesaikan juga menjadi komitmen bersama antar kedua belah pihak.

Demi terciptanya keberlangsungan kerja sama ini terdapat beberapa BUMN yang telah bekerjasama dengan perusahaan China.

Berikut tiga BUMN yang bekerja sama dengan China :

1. PT Amarta Karya

Dilansir dari laman web amka.co.id, PT Amarta Karya atau AMKA telah menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) dengan PT China Communication Construction Indonesia (PT CCCI) dalam rangka Kerja sama Produksi Expansion Joint dan Elastomer Bearing Pad, pada tanggal 25 Maret 2021.

"Kerjasama ini merupakan implementasi dari kemitraan strategis dalam meningkatkan produktivitas workshop manufaktur yang kami miliki sehingga dapat mendukung pengembangan bisnis baru AMKA" ungkap Nikolas Agung Direktur Utama AMKA.

Communications Construction Indonesia (CCCI) adalah perwakilan dari China Communications Construction Company Limited (CCCC), yang merupakan badan usaha milik negara Republik Rakyat China yang bergerak dalam bidang investasi, desain, konstruksi untuk infrastruktur.

Nikolas juga menegaskan bahwa AMK telah mulai mengimplementasikan industry 4.0 dari sektor manufaktur agar dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas produk.

2. PT Waskita Karya

Kerja sama juga terjalin di PT Waskita Karya Tbk (WSKT) yang telah menandatangani Master Agreement demi membentuk kerja sama yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak.

Kerja sama ini melingkupi pengembangan infrastruktur transportasi dan industri lainnya. Misalnya seperti proyek tol Kayu Agung - Palembang - Betung, tol Ciawi - Sukabumi, Pipa Distribusi BBM Cikampek - Plumpang, Revetment Pelabuhan Benoa Bali, serta beberapa proyek infrastruktur lainnya.

Sinergi ini juga merupakan salah satu strategi perusahaan demi menciptakan pertumbuhan bisnis yang positif pasca vaksin Covid-19, tutur Destiawan Soewardjono Direktur Waskita Karya.

Karena perusahaan ini tengah mengatasi masalah hutang hingga akhir tahun 2020 lalu. BUMN yang bergerak di bidang infrastruktur ini tercatat memiliki liabilitas mencapai Rp89,01 triliun.

Liabilitas tersebut didominasi oleh liabilitas jangka pendek yaitu mencapai Rp48,24 triliun. Untuk itu, perusahaan tengah berupaya mendivestasi sejumlah ruas jalan tol.

Baca juga : RI Terperangkap Utang China Bangun Kereta Cepat? Luhut: Sini Tunjukin

3. PT Industri Battery Indonesia

PT Industri Battery Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) telah melakukan kerja sama dengan perusahaan asal China, PT Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL) dan LG Energy Solution asal Korea Selatan dari Korea Selatan.

Dalam kerja sama tersebut IBC berhasil mendapatkan investasi sebesar USD 15 miliar untuk mengembangkan sistem baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan "investasi CBL dan LG Energy Solution untuk inisiatif proyek aki kendaraan listrik terintegrasi selaras dengan rencana pengembangan baterai kendaraan listrik yang menekankan ekosistem terintegrasi, dari hulu hingga ke hilir".

Hal ini akan mendukung Indonesia untuk menjadi produsen global baterai listrik. Karena itu diperlukan banyak sokongan dari berbagai pihak mulai dari kerja sama BUMN, Pemerintah, hingga perusahaan luar negeri terkait transfer teknologi.
(bim)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1426 seconds (11.97#12.26)