alexametrics

Indonesia Brand Forum 2020, Transformasi Digital Jadi Kunci Berbisnis

loading...
Indonesia Brand Forum 2020, Transformasi Digital Jadi Kunci Berbisnis
Kunci untuk memenangkan era new normal adalah dengan melakukan shifting dari high touch economy ke low-touch economy, namun tetap mempertimbangkan core competency. Foto/dok
A+ A-
JAKARTA - Kunci untuk memenangkan era new normal adalah dengan melakukan shifting dari high touch economy ke low-touch economy, namun tetap mempertimbangkan core competency. Low touch economy akan bersifat permanen pascapandemi Covid-19 sehingga bisnis harus melakukan transformasi digital secara keseluruhan.

Ciri lain dari low touch economy adalah adanya perubahan perilaku manusia dalam beradaptasi di kehidupan new normal ini. “Ini yang salah ketika brand hanya melakukan transformasi digital setengah-setengah. Padahal transformasi digital adalah sebuah keniscayaan,” ujar Menteri Pariwisata periode 2014-2019 Arief Yahya pada pembukaan Indonesia Brand Forum 2020 di Jakarta, kemarin.

Pemulihan ekonomi global pascapandemi Covid-19 diperkirakan bergerak relatif lambat dan bergelombang. Bahkan para ahli memperkirakan dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian akan berlangsung hingga tahun 2022. (Baca: Paksa Muslim Uighur Lakukan Aborsi, AS Kecam China)



“Ada dua isu besar. Pertama, isu kesehatan yang berdampak pada perekonomian yang kalau dibiarkan akan berdampak pada dampak sosial. Kedua, penanganan dampak akibat pandemi,” ungkapnya.

Arief memaparkan, fase awal yang dikenal sebagai first shock merupakan fase dampak ekonomi ketika awal wabah Covid-19. Selanjutnya, terjadi fase after shock akibat Covid-19. “Seperti sekarang ini fase after shock mulai kita rasakan. Ada PHK besar-besaran dan beberapa perusahaan gulung tikar,” tuturnya.

Dalam paparannya, Arief menjelaskan konsep 3D yang terdiri dari digital imperative, decoding economy of Covid-19 dan unusual way of digital transformation sebagai solusi dalam melakukan transformasi digital. Perusahaan harus memahami pentingnya digitalisasi dan melihat peluang bisnis yang ada di tengah krisis ekonomi.

“Strategi digital ini akan cocok dengan low touch economy. Dengan kata lain, transformasi digital di perusahaan adalah sebuah keniscayaan. Demikian juga di perusahaan telekomunikasi,” paparnya.

Retail & Consumer Strategist Yongky Susilo mengatakan, omni channel bisa menjadi the future shopping. Kunci utamanya adalah fokus kepada konsumen melalui digitalisasi dengan cara memudahkan konsumen dan menghilangkan kendala-kendala saat berbelanja. (Baca juga: Kontak Langsung dengan Pasien Positif, 21 Warga Blitar Jalani Swab Test)

“Kalau orang berbelanja di supermarket itu namanya shopping, ada pengalaman yang dirasakan. Berbeda dengan belanja melalui e-commerce yang tinggal pencet. Makanya nanti akan masuk ke omni channel,” tuturnya.

Di sisi lain pandemi Covid-19 dalam empat bulan terakhir telah menggoyahkan perekonomian Indonesia. Perdagangan online dan offline mengalami kontraksi secara nasional, bahkan terjadi pelemahan konsumsi yang berdampak pada penurunan tingkat inflasi.

Yongky Susilo mengatakan, tren melemahnya inflasi masih akan berlanjut hingga beberapa bulan ke depan. Namun demikian, jika PSBB secara bertahap dilonggarkan maka situasi akan pulih. Bahkan dari hasil survei McKinsey terbaru dan tren negara-negara lain, ternyata pola konsumsi dan perilaku pasar akan kembali seperti sebelum terjadi pandemi. (Baca juga: Menkes Yakinkan Masyarakat Jangan Khawatir Konsumsi Obat Tradisional Modern)

“Perilaku pasar dan pola konsumsi setelah Covid-19 tidak berubah. Mengapa demikian? Karena bagi konsumen, berbelanja adalah sarana refreshing yang menyenangkan dan sekaligus menghibur,” ujarnya.

Menurut dia, berbelanja membawa perasaan sehat serta dapat mempertemukan antara experience dan emosi konsumen sehingga membawa perasaan yang menggembirakan. “Jadi, yang berubah bukan pola belanjanya, melainkan daya beli dan cara belanjanya yang tidak sama,” jelasnya.

Yongky menyarankan kepada para pemilik merek agar mencermati perubahan perilaku pasar ini. Pemilik merek harus bisa mengakomodasi kendala-kendala yang dihadapi konsumen melalui digitalisasi. “Digitalisasi gerai salah satu pilihan yang disarankan,” ungkapnya. (Lihat videonya: Lima Rumah Warga Terseret Longsor di Palopo)

Sementara bagi mereka yang ingin memanfaatkan peluang bisnis, Yongky menyarankan agar mencari informasi sebanyak-banyaknya. “Jangan salah investasi tergiur bisnis di luar kompetensi, karena semua pola konsumsi akan kembali seperti semula,” jelasnya. (Oktiani Endarwati)
(ysw)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top