BPH Migas-Pemprov Aceh Sinergi Pengelolaan Migas
Rabu, 01 Juli 2020 - 11:58 WIB
loading...
A
A
A
Senada dengan Ifan, Ridwan Hisjam juga mendukung agar Aceh menjadi kawasan industri berbasis gas. Namun, perlu dilakukan perbaikan terlebih dahulu terhadap fasilitas agar lebih maksimal.
"Ini harus kita maksimalkan semuanya dan ini akan kita bahas di DPR bahwa Aceh harus menjadi kawasan industri yang berbasiskan gas. Sehingga gas ini kalau sudah masuk di Aceh maksimal semuanya, maka saya kira tidak ada alasan bahwa Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan industri lainnya tidak bergerak," pungkasnya.
Adapun cadangan energi nasional di Indonesia masih rendah, bahkan Nol. Yang ada adalah cadangan operasional milik Badan usaha. Terkait hal ini, Ridwan berharap agar dibangun tangki tangki penyimpanan di Indonesia yang selama ini cadangan operasional perusahaan disimpan di negara lain seperti Singapura.
"Kami komisi VII menginginkan harus dibangun di sini (Aceh). Cadangan energi nasional harus ada, saya minta (cadangan untuk) enam bulan. Jangan cadangan di taruh di negara tetangga dan untuk penetapan cadangan BBM Nasional menjadi tugas BPH Migas sesuai dengan Undang-Undang Migas," tegas Ridwan.
Sementara itu Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas kunjungan kepala BPH Migas dan Anggota Komisi VII DPR. Menurutnya Aceh sangat welcome terhadap investasi yang masuk.
Dirinya terus berupaya menghapus stigma aceh tidak aman dan tidak kondusif. Menurutnya Aceh mempunyai keunggulan dari segi lokasi yang dekat selat Malaka sebagai lalu lintas pelayaran dunia dan juga sumber energi. "Investor sangat nyaman di Aceh," tegasnya.
Dengan sinergi dan koordinasi ini dirinya berharap pengelolaan migas akan lebih optimal untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahterahan khususnya untuk masyarakat aceh yang wilayahnya kaya akan sumber migas.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir pula para Kepala Dinas, jajaran dari PT Pertamina, PT Perta Arun Gas, PT Pertamina Gas, PT Pertagas Niaga dan PT Pembangunan Aceh, BUMD yang mengelola Migas di Aceh.
"Ini harus kita maksimalkan semuanya dan ini akan kita bahas di DPR bahwa Aceh harus menjadi kawasan industri yang berbasiskan gas. Sehingga gas ini kalau sudah masuk di Aceh maksimal semuanya, maka saya kira tidak ada alasan bahwa Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan industri lainnya tidak bergerak," pungkasnya.
Adapun cadangan energi nasional di Indonesia masih rendah, bahkan Nol. Yang ada adalah cadangan operasional milik Badan usaha. Terkait hal ini, Ridwan berharap agar dibangun tangki tangki penyimpanan di Indonesia yang selama ini cadangan operasional perusahaan disimpan di negara lain seperti Singapura.
"Kami komisi VII menginginkan harus dibangun di sini (Aceh). Cadangan energi nasional harus ada, saya minta (cadangan untuk) enam bulan. Jangan cadangan di taruh di negara tetangga dan untuk penetapan cadangan BBM Nasional menjadi tugas BPH Migas sesuai dengan Undang-Undang Migas," tegas Ridwan.
Sementara itu Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas kunjungan kepala BPH Migas dan Anggota Komisi VII DPR. Menurutnya Aceh sangat welcome terhadap investasi yang masuk.
Dirinya terus berupaya menghapus stigma aceh tidak aman dan tidak kondusif. Menurutnya Aceh mempunyai keunggulan dari segi lokasi yang dekat selat Malaka sebagai lalu lintas pelayaran dunia dan juga sumber energi. "Investor sangat nyaman di Aceh," tegasnya.
Dengan sinergi dan koordinasi ini dirinya berharap pengelolaan migas akan lebih optimal untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahterahan khususnya untuk masyarakat aceh yang wilayahnya kaya akan sumber migas.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir pula para Kepala Dinas, jajaran dari PT Pertamina, PT Perta Arun Gas, PT Pertamina Gas, PT Pertagas Niaga dan PT Pembangunan Aceh, BUMD yang mengelola Migas di Aceh.
(fai)
Lihat Juga :