Erick Thohir Buka-bukaan Soal Kinerja BUMN Jelang Laporan Konsolidasi

Kamis, 08 September 2022 - 15:26 WIB
loading...
Erick Thohir Buka-bukaan Soal Kinerja BUMN Jelang Laporan Konsolidasi
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir buka-bukaan perihal pertumbuhan kinerja perusahaan pelat merah pada 2020 dan 2021. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir buka-bukaan perihal pertumbuhan kinerja perusahaan pelat merah pada 2020 dan 2021. Dalam satu bulan ke depan, Kementerian BUMN untuk pertama kalinya sepanjang sejarah akan menerbitkan laporan BUMN secara konsolidasi.

Baca Juga: Harga BBM Naik, Erick Thohir Pastikan Gaji Karyawan BUMN Juga Naik

Erick mengatakan transformasi BUMN yang didukung Komisi VI DPR memperlihatkan hasil dari sisi perbaikan kinerja secara menyeluruh. Dia mencatat dari total aset BUMN tumbuh dari Rp8.312 triliun pada 2020 menjadi Rp 8.978 triliun pada 2021 atau naik 8%. Lalu pendapatan usaha dari Rp 1.930 triliun naik 19% menjadi Rp2.292 triliun.

"Alhamdulillah dari Rp1.930 triliun naik 19 persen menjadi Rp2.292 triliun, artinya ini mirip dengan situasi sebelum covid, jadi sudah kembali normal secara penjualan," ujar Erick Thohir saat rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (8/9/2022).

Laba bersih BUMN secara konsolidasi juga meningkat signifikan dari Rp13 triliun pada 2020 menjadi Rp125 triliun pada 2021. Erick Thohir juga mencatat dengan efisiensi dan perbaikan bisnis model, laba bersih pada 2022 akan mencapai Rp 144 triliun.

Dia juga memaparkan total utang pendanaan konsolidasi BUMN pada 2021 sebesar Rp1.580 triliun atau hanya 36% dari investasi tertanam (modal ekuitas plus utang pendanaan) pada BUMN dengan Rp 4.358 triliun.

"Jadi kondisinya sehat. Kita memang memfokuskan utang pendanaan investasi karena kita ingin memastikan bahwa utang-utang ini punya return atau pengembalian yang baik," katanya.

Baca Juga: 10 BUMN dengan Pendapatan dan Laba Terbesar, Ini Daftarnya

Utang pendanaan terhadap EBITDA tercatat menurun dari rasio 4,26 ke 3,37. Semakin rendah angka rasio utang terhadap EBITDA, maka semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk membayar utang.

Sementara realisasi dividen pada tahun anggaran 2022 sudah mencapai Rp 40 triliun atau lebih besar daripada target awal yang sebesar Rp 36,4 triliun. Erick menargetkan setoran dividen BUMN terus meningkat menjadi Rp 43,3 triliun pada 2023.

"InsyaAllah kita coba melakukan efisiensi, efektivitas, dan perbaikan model bisnis. Untuk dividen 2023 kita akan naik ke Rp43,3 triliun dan kita optimistis di 2024 pun akan lebih dari Rp 43 triliun, jadi ada kenaikan yang berjenjang dan kalau kita lihat Rp43,3 triliun ini angka sebelum covid," ungkapnya.

"Jadi dengan segala yang kita lakukan, baik penutupan, merger dan lain-lain, kita bisa lihat angkanya sudah mulai kembali seperti sebelum covid," beber Erick Thohir.

(akr)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.3145 seconds (10.55#12.26)