alexametrics

RI Jadi Negara Menengah Atas, Pendekatan Harus Beralih ke Taraf Hidup Masyarakat

loading...
RI Jadi Negara Menengah Atas, Pendekatan Harus Beralih ke Taraf Hidup Masyarakat
Bank Dunia menaikkan status Indonesia dari middle income country menjadi upper middle income country akan menjadi sinyal positif, namun pemerintah disarankan melakukan perubahan pendekatan ekonomi. Foto/Dok BI
A+ A-
JAKARTA - Pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Muhammad Edhie Purnawan menilai keputusan Bank Dunia menaikkan status Indonesia dari middle income country menjadi upper middle income country akan menjadi sinyal positif. Status upper-middle income berarti negara-negara yang memiliki pendapatan nasional bruto atau GNI per kapita kisaran USD4,046 hingga USD12,535.

"Status yang dinaikkan ini jadi sinyal positif di tengah krisis kesehatan dan ekonomi sekarang. Kemungkinan karena penilaiannya dilakukan untuk masa sebelum pandemi covid-19 positif di Indonesia," ujar Edhie di Jakarta.

(Baca Juga: RI Jadi Negara Berpendapatan Menengah Atas Munculkan Konsekuensi Negatif)

Namun meskipun itu sinyal positif, dia juga menyarankan pemerintah agar sebaiknya melakukan perubahan pendekatan ekonomi. Pemerintah menurutnya kini harus mulai fokus pada pendekatan berbasis economic well being atau memperbaiki taraf hidup masyarakat. Pendekatan ini menurut dia akan jauh lebih berdampak dibandingkan sekedar mengejar pertumbuhan ekonomi atau economic growth.



Konteks saat ini disebutnya telah berubah karena situasi masyarakat sekarang sedang mengalami banyak tekanan. Karena tingkat kebutuhan hidup meningkat, sedangkan pendapatannya berkurang drastis.

"Masyarakat yang sedang kesulitan harusnya didekati dengan memperbaiki taraf hidup mereka. Bukan lagi dengan jargon pelemahan ekonomi atau mengejar pertumbuhan. Masyarakat tidak akan tersentuh, apalagi bergairah untuk bangkit. Khususnya bagi para pekerja harian, sektor informal, ataupun pengusaha UMKM. Mereka harus disentuh secara baik," ujarnya.



Lebih lanjut dia juga mengatakan pemerintah saat ini harus segera menetapkan target-target untuk mencapai indikator economic well being. Ini berarti di dalamnya harus memperhatikan perbaikan pendidikan, kesehatan, termasuk pendapatan. Dengan demikian masyarakat akan lebih merasakan dan kemudian paham bahwa pemerintah sedang membenahi taraf kehidupan mereka.

"Energi yang dikeluarkan masyarakat sehari-hari jadi langsung bisa dirasakan oleh masyarakat. Ini pendekatan yang paling sesuai dengan kondisi saat ini. Rakyat akan semakin percaya diri dan bergairah ikut serta membenahi keadaan," ujarnya.

Sementara itu Vice President for Industry and Regional Research PT Bank Mandiri Tbk Dendi Ramdani menilai justru tidak banyak dampak ekonomi dari peningkatan status dari kelompok negara middle income menjadi upper middle income. Menurut dia ini berbeda pada saat status Indonesia dari low ke middle income memang sangat berpengaruh.

"Karena saat sebagai low income country masih banyak keuntungan seperti dana dana murah dan bantuan untuk low income countries yang menguntungkan," ujar Dendi.

Menurutnya perbedaan status dari middle ke upper middle tidak terlalu signifikan. Karena ada pengurangan fasilitas dana murah dan bantuan termasuk juga fasilitas perdagangan. "Sudah tidak banyak fasilitas perdagangan yang menguntungkan perekonomian nasional," ujarnya.

(Baca Juga: Bank Dunia Kerek Status Indonesia, Ngutang Jadi Kian Cincay)

Lebih lanjut dia mengatakan, pemerintah dalam jangka panjang harus berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan terus meningkatkan produktivitas. Langkah yang ditempuh harus melakukan perbaikan kualitas SDM, teknologi, dan juga perbaikan kualitas institusi dan good governance.

"Apalagi Indonesia berpacu dengan waktu. Kita berkejaran dengan penuaan atau ageing usia penduduk yang sekarang dipenuhi generasi muda. Ini dikenal sebagai middle income trap," ujarnya.
(akr)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top