RI Jadi Negara Menengah Atas, Pendekatan Harus Beralih ke Taraf Hidup Masyarakat

Jum'at, 03 Juli 2020 - 05:23 WIB
loading...
RI Jadi Negara Menengah...
Bank Dunia menaikkan status Indonesia dari middle income country menjadi upper middle income country akan menjadi sinyal positif, namun pemerintah disarankan melakukan perubahan pendekatan ekonomi. Foto/Dok BI
A A A
JAKARTA - Pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Muhammad Edhie Purnawan menilai keputusan Bank Dunia menaikkan status Indonesia dari middle income country menjadi upper middle income country akan menjadi sinyal positif. Status upper-middle income berarti negara-negara yang memiliki pendapatan nasional bruto atau GNI per kapita kisaran USD4,046 hingga USD12,535.

"Status yang dinaikkan ini jadi sinyal positif di tengah krisis kesehatan dan ekonomi sekarang. Kemungkinan karena penilaiannya dilakukan untuk masa sebelum pandemi covid-19 positif di Indonesia," ujar Edhie di Jakarta.

(Baca Juga: RI Jadi Negara Berpendapatan Menengah Atas Munculkan Konsekuensi Negatif )

Namun meskipun itu sinyal positif, dia juga menyarankan pemerintah agar sebaiknya melakukan perubahan pendekatan ekonomi. Pemerintah menurutnya kini harus mulai fokus pada pendekatan berbasis economic well being atau memperbaiki taraf hidup masyarakat. Pendekatan ini menurut dia akan jauh lebih berdampak dibandingkan sekedar mengejar pertumbuhan ekonomi atau economic growth.

Konteks saat ini disebutnya telah berubah karena situasi masyarakat sekarang sedang mengalami banyak tekanan. Karena tingkat kebutuhan hidup meningkat, sedangkan pendapatannya berkurang drastis.

"Masyarakat yang sedang kesulitan harusnya didekati dengan memperbaiki taraf hidup mereka. Bukan lagi dengan jargon pelemahan ekonomi atau mengejar pertumbuhan. Masyarakat tidak akan tersentuh, apalagi bergairah untuk bangkit. Khususnya bagi para pekerja harian, sektor informal, ataupun pengusaha UMKM. Mereka harus disentuh secara baik," ujarnya.

Lebih lanjut dia juga mengatakan pemerintah saat ini harus segera menetapkan target-target untuk mencapai indikator economic well being. Ini berarti di dalamnya harus memperhatikan perbaikan pendidikan, kesehatan, termasuk pendapatan. Dengan demikian masyarakat akan lebih merasakan dan kemudian paham bahwa pemerintah sedang membenahi taraf kehidupan mereka.

"Energi yang dikeluarkan masyarakat sehari-hari jadi langsung bisa dirasakan oleh masyarakat. Ini pendekatan yang paling sesuai dengan kondisi saat ini. Rakyat akan semakin percaya diri dan bergairah ikut serta membenahi keadaan," ujarnya.

Sementara itu Vice President for Industry and Regional Research PT Bank Mandiri Tbk Dendi Ramdani menilai justru tidak banyak dampak ekonomi dari peningkatan status dari kelompok negara middle income menjadi upper middle income. Menurut dia ini berbeda pada saat status Indonesia dari low ke middle income memang sangat berpengaruh.

"Karena saat sebagai low income country masih banyak keuntungan seperti dana dana murah dan bantuan untuk low income countries yang menguntungkan," ujar Dendi.

Menurutnya perbedaan status dari middle ke upper middle tidak terlalu signifikan. Karena ada pengurangan fasilitas dana murah dan bantuan termasuk juga fasilitas perdagangan. "Sudah tidak banyak fasilitas perdagangan yang menguntungkan perekonomian nasional," ujarnya.

(Baca Juga: Bank Dunia Kerek Status Indonesia, Ngutang Jadi Kian Cincay )

Lebih lanjut dia mengatakan, pemerintah dalam jangka panjang harus berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan terus meningkatkan produktivitas. Langkah yang ditempuh harus melakukan perbaikan kualitas SDM, teknologi, dan juga perbaikan kualitas institusi dan good governance.

"Apalagi Indonesia berpacu dengan waktu. Kita berkejaran dengan penuaan atau ageing usia penduduk yang sekarang dipenuhi generasi muda. Ini dikenal sebagai middle income trap," ujarnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Purbaya Targetkan Ekonomi...
Purbaya Targetkan Ekonomi Indonesia Tumbuh 6,5% di 2027
Istana Buka Suara soal...
Istana Buka Suara soal Variabel Kejatuhan Rupiah ke Rp18.000: Singgung Kemandirian Ekonomi
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
4 Temuan Penting di...
4 Temuan Penting di Tengah Kejatuhan IHSG Hampir 30% dan Rupiah Mendekati Rp18.000/USD
Rupiah Sentuh Rp17.883...
Rupiah Sentuh Rp17.883 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: Belum Hambat Aktivitas Ekonomi
Antisipasi Krisis, Ini...
Antisipasi Krisis, Ini Isi Pertemuan Prabowo dan Tokoh Ekonomi Nasional di Istana
Fuad Bawazier: Isu Ganti...
Fuad Bawazier: Isu Ganti Purbaya bukan Fakta, tapi Perlawanan terhadap Paradigma Baru
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Ekonomi Indonesia Tumbuh...
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Triwulan I 2026
Rekomendasi
4 Tentara Israel Tewas,...
4 Tentara Israel Tewas, Menteri-menteri Ekstremis Ancam Bakar Seluruh Lebanon, Buka Gerbang Neraka
RCTI Hadirkan Sinetron...
RCTI Hadirkan Sinetron Komedi Komunal Terbaru Tobat Jatuh Cinta, Kisah Empat Janda di Kampung Sindang Barang!
Program Ketahanan Pangan,...
Program Ketahanan Pangan, Puluhan Hektare Sawah di Batang Ditanami Padi Hasil Riset
Berita Terkini
Mandatori B50 Buka Peluang...
Mandatori B50 Buka Peluang Swasembada Energi dan Jadikan Indonesia Pionir Energi Bersih
Bitcoin Melemah Usai...
Bitcoin Melemah Usai FOMC, Indodax Ingatkan Manajemen Risiko
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
BEI Tegaskan MSCI Belum...
BEI Tegaskan MSCI Belum Putuskan Status Pasar Saham RI
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
JustMarkets Luncurkan...
JustMarkets Luncurkan Trading Saham SpaceX untuk Klien
Infografis
10 Negara Menaikkan...
10 Negara Menaikkan Harga BBM Akibat Perang AS-Iran, Banyak Tetangga RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved