Suku Bunga Turun 4,25%, Jadi Angin Segar Industri Properti

Jum'at, 03 Juli 2020 - 08:06 WIB
loading...
Suku Bunga Turun 4,25%,...
Foto/Istimewa
A A A
JAKARTA - Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4,25%. Keputusan ini konsisten dengan upaya menjaga stabilitas perekonomian dan mendorong pemulihan ekonomi di tengah pandemi Covid-19.

Penurunan BI7DRR menjadi 4,25% ini merupakan rekor terendah setelah sebelumnya terjadi di akhir 2017 hingga awal 2018 lalu. Bank Indonesia sendiri ke depannya tetap melihat adanya ruang penurunan suku bunga seiring rendahnya tekanan inflasi, terjaganya stabilitas eksternal, dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi.

Country Manager Rumah.com Marine Novita menjelaskan bahwa kebijakan penurunan BI7DRR menjadi 4,25% menjadi angin segar bagi industri properti. Di tengah adaptasi kebiasaan baru menuju era New Normal kebijakan tersebut bisa menjadi daya topang dan mendorong pertumbuhan ekonomi termasuk stimulus bagi industri properti. Karena suku bunga acuan yang turun dapat mendorong perbankan untuk menurunkan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR)-nya. (Baca: Menolak Diperkosa, Gadis 14 Tahun di India Tewas Dibakar)

“Dalam kondisi seperti sekarang ini diharapkan perbankan dapat merespon secara cepat untuk menurunkan suku bunga kreditnya termasuk KPR. Sehingga penurunan suku bunga acuan dapat menstimulus perekonomian, terutama memberikan pengaruh positif terhadap sektor properti khususnya sub-sektor perumahan atau apartemen. Ini bisa menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi karena tidak hanya mendongkrak sektor properti saja tetapi termasuk sektor industri lainnya dimana akan memiliki dampak turunan terhadap lebih dari 170 industri terkait,” jelas Marine di Jakarta, kemarin.

Penurunan suku bunga acuan BI memang tidak akan langsung berpengaruh terhadap rate yang efektif di level konsumen, apalagi bagi nasabah yang sudah ada. Sehingga penurunan ini akan lebih terasa bagi mereka yang baru akan mengambil KPR. Tidak ada salahnya calon debitur KPR untuk mempersiapkan diri lebih awal apalagi bagi mereka yang masih memiliki hutang atau cicilan lainnya.

Hal ini juga sejalan dengan hasil survei PropertyGuru Consumer Sentiment Study semester I/2020 dimana Rumah.com mengungkap potret pencari rumah di Indonesia, proporsi yang belum punya rumah, dan minat mencari rumah terbesar di ASEAN.

Secara umum di kawasan Asia Tenggara mayoritas calon pembeli rumah memiliki kebiasaan yang sama untuk menabung terlebih dahulu sebelum membeli rumah. Sebanyak 69% responden Indonesia memiliki kebiasaan tersebut yang merupakan tertinggi kedua setelah Singapura (70%), namun lebih tinggi daripada Malaysia (56%) dan Thailand (44%).

Sementara sebagian kecil calon pembeli rumah di kawasan Asia Tenggara memiliki kebiasaan untuk memulai menabung setelah mendapatkan estimasi harga rumah. Sejumlah 20% responden Indonesia mempunyai kebiasaan tersebut dan merupakan paling rendah di kawasan. Sementara Malaysia sejumlah 30% responden, Singapura 22% responden dan Thailand 31% responden.

Marine menjelaskan bahwa hal tersebut secara umum menunjukkan bahwa responden di Indonesia dan Singapura memiliki kecenderungan untuk menabung terlebih dahulu sebelum membeli rumah, daripada menabung setelah mengetahui harga rumah. Sedangkan dalam hal kepemilikan properti, responden dari Indonesia paling sedikit kepemilikannya di kawasan Asia Tenggara (54%) dan merupakan respondon paling banyak yang masih tinggal dengan orang tua mereka (23%). Sedangkan sisanya adalah penyewa hunian/properti (20%) dan investor properti (7%). (Baca: Kasus Pemalsuan Label SNI Disoroti Kompolnas)

Sektor perumahan dinilai memang memiliki peran strategis dalam mendorong pemulihan ekonomi akibat dampak negatif Covid-19. Pasalnya dampak netto peningkatan nilai tambah sektor perumahan sebesar 1% akan meningkatkan nilai tambah produk domestik bruto secara kumulatif sebesar 9,53% pada akhir tahun kelima.

Presiden Direktur Centre for Banking Crisis Achmad Deni Daruri mengatakan, Covid-19 menciptakan krisis ekonomi karena aktivitas ekonomi dipaksa untuk berhenti. Namun demikian muncul aktivitas ekonomi yang tidak bisa dihentikan oleh Covid-19 seperti aktivitas bekerja dari rumah. “Untuk itu perlu dibangun rumah-rumah baru agar masyarakat bukan saja mampu memiliki rumah, tetapi juga dapat bekerja dari rumah,” ujar Deni.

Menurut Deni, untuk mengoptimalkan sektor perumahan, sisi penawaran harus diefektifkan dan diefisienkan secara optimal. Caranya adalah dengan meningkatkan skala ekonomis dan skala skope dari bank-bank yang mampu menyalurkan dana bagi sektor perumahan nasional. “Tidak semua bank dapat masuk dalam kategori ini. Satu-satunya bank yang masuk dalam definisi ini adalah Bank BTN,” paparnya.

Dia mengungkapkan, BTN merupakan satu-satunya bank yang memiliki skala ekonomi dan skope dalam memberikan pembiayaan sektor perumahan karena bisnis utamanya sangat fokus pada pembiayaan perumahan. Dalam konteks ekonomis of skope memang tidak terlalu dominan, namun bank-bank lainnya juga tidak ada yang memilikinya. (Lihat videonya: Tak Ada Pencabutan RUU HIP, Pemerintah Usulkan Tiga RUU Baru)

“Lantas apa konsekuensinya? Bank BTN harus diberikan porsi kemampuan dalam menyalurkan kredit perumahan yang lebih besar lagi, sehingga skala ekonominya menjadi semakin efisien yang pada gilirannya membuat biaya per unit rumah yang dibangun menjadi semakin murah,” kata Deni. (Heru Febrianto)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Garap Proyek Properti...
Garap Proyek Properti Baru, Kinnara Capital Gandeng TSG Construction Indonesia
Indeks Keyakinan Konsumen...
Indeks Keyakinan Konsumen Mei 2026 Menurun, Ini Penjelasan BI
BI Rate Naik Demi Menahan...
BI Rate Naik Demi Menahan Tekanan Rupiah dan Capital Outflow
Ekonom: Kebijakan BI...
Ekonom: Kebijakan BI dan Pemerintah Memperkuat Rupiah Sudah Tepat
BI Sangkal Cadangan...
BI Sangkal Cadangan Devisa Terkuras, Masih di Atas Standar IMF
Rupiah Terus Melemah,...
Rupiah Terus Melemah, BI Keluarkan Lima Jurus Tambahan
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Sinergi Pemprov DKI...
Sinergi Pemprov DKI dan BI, Inflasi Jakarta Melandai pada Mei
Dilema Bank Indonesia:...
Dilema Bank Indonesia: Menjaga Rupiah demi Menjaga Masa Depan Ekonomi
Rekomendasi
3 Unit Insinerator KKP...
3 Unit Insinerator KKP di Gili Trawangan Masih Menunggu Izin Operasi
Kejagung Geledah 6 Lokasi...
Kejagung Geledah 6 Lokasi terkait Korupsi MBG, Sasar Kantor dan Rumah Tersangka di Jakarta hingga Bandung
Yusril Bicara Kedekatan...
Yusril Bicara Kedekatan Prabowo-Trump, Sebut Hubungan RI-AS Tak Sekadar Urusan Pemerintah
Berita Terkini
Bahlil Ungkap Penyebab...
Bahlil Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sejumlah Daerah, Janji Pulih Cepat
Indodax Diapresiasi...
Indodax Diapresiasi Atas Edukasi dan Pengembangan Pasar Aset Kripto
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Rp16.250, Bahlil: Sudah Diperhitungkan Secara Bijak
Lewat Program Pondasi,...
Lewat Program Pondasi, Brahma Binabakti Renovasi Rumah Tak Layak di Muaro Jambi
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
Janji Manis Ledakan...
Janji Manis Ledakan Ekonomi Piala Dunia 2026, Awas! Tensi Geopolitik Bisa Bikin Zonk
Infografis
Profil Letjen TNI Robi...
Profil Letjen TNI Robi Herbawan, Ajudan Prabowo yang Jadi Kabais TNI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved