Negara-negara Maju Terpuruk, Ekonomi Dunia 2023 Makin Gelap
Kamis, 22 September 2022 - 17:57 WIB
loading...
Bank Indonesia mewaspadai potensi krisis ekonomi yang lebih buruk tahun depan. FOTO/ANTARA Photo/Dhemas Reviyanto
A
A
A
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan ekonomi dunia di 2023 semakin suram. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi semakin rendah disertai dengan tingginya tekanan inflasi dan ketidakpastian pasar keuangan global.
"Penurunan pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih besar pada tahun 2023 terutama di Amerika Serikat, Eropa, dan China, bahkan disertai dengan risiko resesi di sejumlah negara maju. Volume perdagangan dunia juga tetap rendah," ungkap Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis(22/9/2022).
Baca Juga: Sri Mulyani Sebut Ekonomi Dunia Kacau Balau, Ini Dampaknya ke Penerimaan Negara
Dia mengungkapkan, di tengah perlambatan ekonomi, disrupsi pasokan meningkat sehingga mendorong harga komoditas energi bertahan tinggi. Tekanan inflasi global semakin tinggi seiring dengan ketegangan geopolitik, kebijakan proteksionisme yang masih berlangsung, serta terjadinya fenomena heatwave di beberapa negara.
"Inflasi di negara maju maupun emerging market meningkat tinggi, bahkan inflasi inti berada dalam tren meningkat sehingga mendorong bank sentral di banyak negara melanjutkan kebijakan moneter agresif," ungkap Perry.
"Penurunan pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih besar pada tahun 2023 terutama di Amerika Serikat, Eropa, dan China, bahkan disertai dengan risiko resesi di sejumlah negara maju. Volume perdagangan dunia juga tetap rendah," ungkap Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis(22/9/2022).
Baca Juga: Sri Mulyani Sebut Ekonomi Dunia Kacau Balau, Ini Dampaknya ke Penerimaan Negara
Dia mengungkapkan, di tengah perlambatan ekonomi, disrupsi pasokan meningkat sehingga mendorong harga komoditas energi bertahan tinggi. Tekanan inflasi global semakin tinggi seiring dengan ketegangan geopolitik, kebijakan proteksionisme yang masih berlangsung, serta terjadinya fenomena heatwave di beberapa negara.
"Inflasi di negara maju maupun emerging market meningkat tinggi, bahkan inflasi inti berada dalam tren meningkat sehingga mendorong bank sentral di banyak negara melanjutkan kebijakan moneter agresif," ungkap Perry.
Lihat Juga :