Alarm Resesi Semakin Kuat, Lakukan Ini Buat Persiapan
Sabtu, 01 Oktober 2022 - 07:30 WIB
loading...
A
A
A
Lebih lanjut, Hendra mengatakan, melemahnya konsumsi berarti permintaan terhadap produk barang dan jasa akan menurun dan mempengaruhi pendapatan. Padahal beban operasional harus berjalan seperti sewa gedung, kewajiban pajak, listrik, karyawan, membayar utang dan lain-lain. "Seperti praktik selama ini, karena kapasitas produksi dan permintaan berkurang maka akan berdampak pada pekerja seperti pemotongan gaji atau pemutusan hubungan kerja," jelasnya.
Hendra menjelaskan bahwa krisis tahun depan akan berbeda dengan resesi akibat pandemi Covid-19. Saat wabah corona, rata-rata rumah tangga dan pelaku usaha memiliki likuiditas cukup sehat hanya karena lockdown mereka tidak mudah mengeluarkan dan menerima uang sehingga menjelang akhir pandemi likuiditas mereka menjadi semakin ketat.
"Ketika mulai recovery, muncul turbulensi keuangan sehingga membuat keuangan rumah tangga dan pelaku usaha di Indonesia semakin berdarah," kata dia.
Menurut Hendra, resesi global tahun depan kemungkinan akan menaikkan angka permohonan pailit dan PKPU karena debitur yang utangnya sudah jatuh tempo dan dapat ditagih tidak memiliki arus kas yang cukup untuk memenuhi kewajiban sementara pihak kreditur juga memerlukan uang tersebut guna menjaga kesehatan keuangan perusahaan mereka.
"Saran saya dalam menghadapi resesi kali ini adalah para pelaku usaha dan rumah tangga memerlukan endurance atau stamina agar mampu bertahan dalam jangka panjang, antara lain mulai mengerem pengeluaran yang tidak perlu dan menyisihkan uang agar kita punya dana tunai darurat apabila diperlukan sebab kita akan mengeluarkan uang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan," kata dia.
Hendra menjelaskan bahwa krisis tahun depan akan berbeda dengan resesi akibat pandemi Covid-19. Saat wabah corona, rata-rata rumah tangga dan pelaku usaha memiliki likuiditas cukup sehat hanya karena lockdown mereka tidak mudah mengeluarkan dan menerima uang sehingga menjelang akhir pandemi likuiditas mereka menjadi semakin ketat.
"Ketika mulai recovery, muncul turbulensi keuangan sehingga membuat keuangan rumah tangga dan pelaku usaha di Indonesia semakin berdarah," kata dia.
Menurut Hendra, resesi global tahun depan kemungkinan akan menaikkan angka permohonan pailit dan PKPU karena debitur yang utangnya sudah jatuh tempo dan dapat ditagih tidak memiliki arus kas yang cukup untuk memenuhi kewajiban sementara pihak kreditur juga memerlukan uang tersebut guna menjaga kesehatan keuangan perusahaan mereka.
"Saran saya dalam menghadapi resesi kali ini adalah para pelaku usaha dan rumah tangga memerlukan endurance atau stamina agar mampu bertahan dalam jangka panjang, antara lain mulai mengerem pengeluaran yang tidak perlu dan menyisihkan uang agar kita punya dana tunai darurat apabila diperlukan sebab kita akan mengeluarkan uang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan," kata dia.
Lihat Juga :