Alarm Resesi Semakin Kuat, Lakukan Ini Buat Persiapan

Sabtu, 01 Oktober 2022 - 07:30 WIB
loading...
Alarm Resesi Semakin Kuat, Lakukan Ini Buat Persiapan
Menabung dan investasi menjadi cara untuk menhadapi jika terjadi resesi ekonomi. FOTO/dok.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Perekonomian global masih dicekam ketidakpastian meskipun pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara menunjukkan tren positif. Ancaman resesi global membayangi pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara termasuk Indonesia.

Hal ini ditandai dengan permintaan ekspor produk unggulan seperti tekstil, furnitur dan kerajinan dari Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa yang mulai melemah. Pelemahan juga terjadi pada komoditas seperti logam mulia, minyak dan kelapa sawit padahal ekspor berkontribusi 23% terhadap pertumbuhan ekonomi Kuartal I 2022.

"Salah satu ekspor utama dan penggerak ekonomi Indonesia adalah komoditas, sehingga pelemahan harga komoditas adalah kabar kurang baik karena pasti memberi pengaruh kepada kinerja sektor usaha lain. Demikian juga surplus perdagangan saat ini justru berubah menjadi defisit, terutama karena rupiah melemah cukup dalam terhadap dolar Amerika. Eksportir mungkin senang dolar menguat tapi importir pasti merana," ujar praktisi hukum investasi Hendra Setiawan Boen, di Jakarta, Jumat (30/9/2022).

Baca Juga: Sri Mulyani Sampaikan Kabar Buruk, Ekonomi Dunia Dipastikan Resesi di 2023

Menurut dia saat barang-barang pokok semakin mahal akibat kenaikan harga BBM dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menembus Rp 15.000, Hendra mewanti-wanti rumah tangga akan mengalami pelemahan daya beli sehingga yang harus dilakukan ialah berhemat dengan cara mengurangi konsumsi secara besar-besaran terutama sektor yang tidak perlu seperti hal-hal bersifat rekreasi. "Tentu ini akan memberikan tekanan terhadap ekonomi," kata dia.

Lebih lanjut, Hendra mengatakan, melemahnya konsumsi berarti permintaan terhadap produk barang dan jasa akan menurun dan mempengaruhi pendapatan. Padahal beban operasional harus berjalan seperti sewa gedung, kewajiban pajak, listrik, karyawan, membayar utang dan lain-lain. "Seperti praktik selama ini, karena kapasitas produksi dan permintaan berkurang maka akan berdampak pada pekerja seperti pemotongan gaji atau pemutusan hubungan kerja," jelasnya.

Hendra menjelaskan bahwa krisis tahun depan akan berbeda dengan resesi akibat pandemi Covid-19. Saat wabah corona, rata-rata rumah tangga dan pelaku usaha memiliki likuiditas cukup sehat hanya karena lockdown mereka tidak mudah mengeluarkan dan menerima uang sehingga menjelang akhir pandemi likuiditas mereka menjadi semakin ketat.

"Ketika mulai recovery, muncul turbulensi keuangan sehingga membuat keuangan rumah tangga dan pelaku usaha di Indonesia semakin berdarah," kata dia.

Menurut Hendra, resesi global tahun depan kemungkinan akan menaikkan angka permohonan pailit dan PKPU karena debitur yang utangnya sudah jatuh tempo dan dapat ditagih tidak memiliki arus kas yang cukup untuk memenuhi kewajiban sementara pihak kreditur juga memerlukan uang tersebut guna menjaga kesehatan keuangan perusahaan mereka.

"Saran saya dalam menghadapi resesi kali ini adalah para pelaku usaha dan rumah tangga memerlukan endurance atau stamina agar mampu bertahan dalam jangka panjang, antara lain mulai mengerem pengeluaran yang tidak perlu dan menyisihkan uang agar kita punya dana tunai darurat apabila diperlukan sebab kita akan mengeluarkan uang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan," kata dia.

Baca Juga: Bank of England: Inggris Mungkin Sudah Jatuh ke Dalam Resesi

Dia menyarankan, apabila ingin investasi maka sebaiknya mengambil investasi risiko rendah. Untuk pelaku usaha, sarannya, sebaiknya mulai melakukan restrukturisasi utang dengan kreditur agar tidak jatuh tempo pada saat resesi global melanda Indonesia. "Kita harus mewaspadai dengan risiko stagflasi, yaitu inflasi dan kontraksi ekonomi yang terjadi bersamaan saat resesi ekonomi," kata Hendra.

(nng)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1733 seconds (11.97#12.26)