Rupiah Hari Ini Nyungsep ke Rp15.487/USD, Begini Pemicunya

Senin, 17 Oktober 2022 - 18:15 WIB
loading...
Rupiah Hari Ini Nyungsep ke Rp15.487/USD, Begini Pemicunya
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hingga akhir perdagangan sore ini, Senin (17/10/2022) masih terus terkapar hingga sentuh Rp15.487/USD. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hingga akhir perdagangan sore ini, Senin (17/10/2022) masih terus terkapar. Kurs rupiah hari ini melemah 60 point di level Rp15.487 terhadap dolar Amerika Serikat (USD).

Baca Juga: Resesi Global Menghantui, Rupiah Ambruk di Atas Rp15.300/USD

Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI bertengger pada posisi Rp15.480/USD. Angkatersebut lebih lemah dari hari sebelumnya di level Rp15.390 per USD.

Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu faktor internal pemicu mata uang garuda ini melemah karena beberapa negara menggunakan intervensi valuta asing (valas) untuk menstabilkan mata uangnya. Akibatnya, total cadangan devisa (cadev) yang dimiliki mengalami penurunan lebih dari 6% dalam tujuh bulan pertama tahun ini.

"Intervensi dengan memanfaatkan cadangan devisa kini perlu dicermati ulang. Sebab, itu seharusnya langkah sementara dan hanya untuk mengantisipasi pergerakan mata uang yang secara substansial meningkatkan risiko stabilitas keuangan, ataupun secara signifikan mengganggu kemampuan bank sentral untuk menjaga stabilitas harga," papar Ibrahim.

Baca Juga: Cadangan Devisa Tergerus Sebesar USD3,4 Miliar

Pada umumnya, lanjut dia, pengendalian inflasi hanya dilakukan secara makro oleh bank sentral. Namun, pengendalian inflasi di tanah air tidak hanya dilakukan secara makro, tapi juga mikro, sehingga dalam praktik secara riil langsung masuk ke sumbernya.

Sementara itu, Ibrahim menyebut, penguatan dolar AS saat ini lebih disebabkan penguatan fundamental makro ekonomi AS, seperti tingginya angka inflasi yang membuat bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), terus menaikkan suku bunga acuannya, sehingga likuditas di dunia mengetat.

Selain itu, ada pengaruh dari krisis energi dan gangguan rantai pasok akibat perang antara Rusia dan Ukraina.

"Atas dasar ini, respons yang lebih tepat dalam menghadapi tingginya dolar saat ini adalah dengan membiarkan nilai tukar rupiah mengalami penyesuaian, sambil menggunakan kebijakan moneter untuk menjaga inflasi tetap dekat dengan targetnya," pungkas Ibrahim.

Di samping itu, ia memprediksi, untuk perdagangan besok, Selasa (18/10) mata uang rupiah dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp15.450 - Rp15.500 per USD.

(akr)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2183 seconds (10.55#12.26)