Potensi EBT 3.700 GW, RI Buka Peluang Ekspor Listrik ke Singapura
Selasa, 18 Oktober 2022 - 16:11 WIB
loading...
Indonesia memiliki potensi EBT hingga 3.700 GW. FOTO/dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah memiliki peluang ekspor listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) ke Singapura. Hal itu melihat potensi EBT yang cukup besar.
"Kalau ditanya seberapa besar kita bisa ekspor, kira-kira selisihnya kita punya 3.600-3.700 gigawatt (GW) sementara kebutuhan sebanyak 700 MW," Direktur Jenderal EBT dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dadan Kusdiana dalam webinar bertajuk Mempercepat Penurunan Emisi, Meraih Devisa, di Jakarta, Selasa (18/10/2022).
Baca Juga: PLTU Batu Bara Stop Total di 2050, Ini Buktinya
Menurut dia Indonesia memiliki potensi dari EBT mencapai 3.700 GW, sementara di sisi lain, kebutuhan listrik Indonesia hingga 40 tahun ke depan hanya sekitar 700 Megawatt (MW). Salah satu pangsa pasar potensial untuk menjadi market listrik EBT adalah Singapura.
"Angkanya memang tidak bisa dikurangkan langsung, nanti sebetulnya yang kita butuhkan bukan MW tapi satuan listriknya dalam satuan kWh. Jadi kalau ditanya seberapa besar ya kita kita punya potensi yang yang besar yang beragam dan juga tersebar jadi kalau kita misalkan menghitungnya untuk Singapura," jelasnya.
Dia mengatakan mekanisme yang bisa dilakukan ketika ekspor listrik ke Singapura tidak jauh berbeda dengan ekspor gas ke sana yang saat ini tengah berlangsung. Nantinya, Pulau Batam bisa dijadikan sebagai hub atau pintu utama ekspor listrik ke sana yang disalurkan melalui kabel bawah laut.
Dadan menuturkan, secara regulasi bahwa ekspor itu memang diperbolehkan, jadi ekspor tersebut boleh dilakukan secara regulasi melalui turunan dari Undang-Undang Ketenagalistrikan. Tetapi ada syaratnya, di dalam negeri ini harus dipenuhi dulu, jadi kebutuhan tenaga listrik setempat dan wilayah sekitarnya harus terpenuhi.
"Kalau ditanya seberapa besar kita bisa ekspor, kira-kira selisihnya kita punya 3.600-3.700 gigawatt (GW) sementara kebutuhan sebanyak 700 MW," Direktur Jenderal EBT dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dadan Kusdiana dalam webinar bertajuk Mempercepat Penurunan Emisi, Meraih Devisa, di Jakarta, Selasa (18/10/2022).
Baca Juga: PLTU Batu Bara Stop Total di 2050, Ini Buktinya
Menurut dia Indonesia memiliki potensi dari EBT mencapai 3.700 GW, sementara di sisi lain, kebutuhan listrik Indonesia hingga 40 tahun ke depan hanya sekitar 700 Megawatt (MW). Salah satu pangsa pasar potensial untuk menjadi market listrik EBT adalah Singapura.
"Angkanya memang tidak bisa dikurangkan langsung, nanti sebetulnya yang kita butuhkan bukan MW tapi satuan listriknya dalam satuan kWh. Jadi kalau ditanya seberapa besar ya kita kita punya potensi yang yang besar yang beragam dan juga tersebar jadi kalau kita misalkan menghitungnya untuk Singapura," jelasnya.
Dia mengatakan mekanisme yang bisa dilakukan ketika ekspor listrik ke Singapura tidak jauh berbeda dengan ekspor gas ke sana yang saat ini tengah berlangsung. Nantinya, Pulau Batam bisa dijadikan sebagai hub atau pintu utama ekspor listrik ke sana yang disalurkan melalui kabel bawah laut.
Dadan menuturkan, secara regulasi bahwa ekspor itu memang diperbolehkan, jadi ekspor tersebut boleh dilakukan secara regulasi melalui turunan dari Undang-Undang Ketenagalistrikan. Tetapi ada syaratnya, di dalam negeri ini harus dipenuhi dulu, jadi kebutuhan tenaga listrik setempat dan wilayah sekitarnya harus terpenuhi.
Lihat Juga :