IEA: Negara Berkembang Jadi Korban Utama Krisis Energi Global
Rabu, 26 Oktober 2022 - 13:01 WIB
loading...
A
A
A
Dia juga menilai langkah OPEC+ yang memberlakukan pengurangan produksi untuk memacu pemulihan harga minyak mentah sebagai "mencetak gol bunuh diri." Naiknya harga minyak menurutnya berpotensi akan memicu resesi, yang dia peringatkan akan menyebabkan lingkungan yang tidak sehat untuk pembeli maupun penjual.
Baca Juga: Bill Gates: Krisis Energi Eropa Baik untuk Jangka Panjang
Birol juga mengatakan dia memperkirakan harga LNG akan terus tinggi didorong ekonomi China yang mulai pulih dan tingginya kebutuhan Eropa untuk mengimpor lebih banyak energi. Menurut Birol, harga LNG di kawasan Asia suda naik lima kali lebih tinggi dari rata-rata lima tahun terakhir. Sedangkan tahun depan menurutnya situasi akan menghadapi tantangan yang lebih besar.
"Eropa ingin membeli LNG, China akan kembali sebagai importir LNG utama, dan sangat sedikit kapasitas LNG baru yang masuk ke pasar," ujarnya.
Terlepas dari itu, melonjaknya harga energi yang mengganggu pasar global menurutnya akan mendorong banyak pemerintah untuk berinvestasi pada pengembangan energi baru terbarukan. "Krisis ini memberikan dorongan kepada banyak pemerintah di seluruh dunia untuk memasukkan sejumlah besar uang (ke dalam) transisi energi bersih," tuturnya.
Baca Juga: Bill Gates: Krisis Energi Eropa Baik untuk Jangka Panjang
Birol juga mengatakan dia memperkirakan harga LNG akan terus tinggi didorong ekonomi China yang mulai pulih dan tingginya kebutuhan Eropa untuk mengimpor lebih banyak energi. Menurut Birol, harga LNG di kawasan Asia suda naik lima kali lebih tinggi dari rata-rata lima tahun terakhir. Sedangkan tahun depan menurutnya situasi akan menghadapi tantangan yang lebih besar.
"Eropa ingin membeli LNG, China akan kembali sebagai importir LNG utama, dan sangat sedikit kapasitas LNG baru yang masuk ke pasar," ujarnya.
Terlepas dari itu, melonjaknya harga energi yang mengganggu pasar global menurutnya akan mendorong banyak pemerintah untuk berinvestasi pada pengembangan energi baru terbarukan. "Krisis ini memberikan dorongan kepada banyak pemerintah di seluruh dunia untuk memasukkan sejumlah besar uang (ke dalam) transisi energi bersih," tuturnya.
(fai)
Lihat Juga :