Sinergi Mendorong IKM Sektor Otomotif Naik Kelas
Rabu, 02 November 2022 - 22:12 WIB
loading...
A
A
A
Ketua Komite Tetap IKMA Kadin Indonesia, Iskandarsyah Rama Datau, mengatakan salah satu tugas Kadin yaitu memfasilitasi penciptaan sinergisitas antarpengusaha serta menyelenggarakan promosi di alam dan luar negeri, terutama terkait IKM.
"Dalam pengembangan IKM, ada tiga hal yang dibutuhkan mereka untuk berkembang dan naik kelas. Pertama, penyediaan akses pasar domestik maupun ekspor yang kontinyu bagi IKM," ujarnya.
Menurut Rama, hasil survei Asian Development Bank (ADB) pada 2020 terkait dampak Covid-19 terhadap IKM menunjukkan, 30,5% permintaan domestik IKM turun, 14,1% pembatalan kontrak dengan IKM, dan 13,1% mengalami hambatan pengiriman. "Karenanya, IKM tentu membutuhkan bantuan akses pasar dalam rantai pasok," jelasnya.
Kedua, lanjut Rama, IKM membutuhkan peningkatan kompetensi manufaktur agar menjadi mandiri dan profesional. Pasalnya, saat ini kompetensi IKM cukup memprihatinkan dan perlu dikembangkan.
"Mayoritas tingkat pendidikan owner atau pemilik IKM di Indonesia belum tinggi. Mayoritas pendidikan mereka hanya sekolah menengah atas atau SMA. Solusinya, sharing knowledge atau pelatihan oleh pelaku industri sangat dibutuhkan," jelasnya.
Ketiga, IKM membutuhkan peningkatan pendanaan atau cash flow melalui pengaturan skema pembayaran atau term of payment (ToP). "Standar TOP sampai dengan 45 hari terlalu lama bagi IKM. Padahal IKM membutuhkan TOP lebih cepat dengan standar dan aktual yang sesuai kebutuhan mereka," pungkasnya.
"Dalam pengembangan IKM, ada tiga hal yang dibutuhkan mereka untuk berkembang dan naik kelas. Pertama, penyediaan akses pasar domestik maupun ekspor yang kontinyu bagi IKM," ujarnya.
Menurut Rama, hasil survei Asian Development Bank (ADB) pada 2020 terkait dampak Covid-19 terhadap IKM menunjukkan, 30,5% permintaan domestik IKM turun, 14,1% pembatalan kontrak dengan IKM, dan 13,1% mengalami hambatan pengiriman. "Karenanya, IKM tentu membutuhkan bantuan akses pasar dalam rantai pasok," jelasnya.
Kedua, lanjut Rama, IKM membutuhkan peningkatan kompetensi manufaktur agar menjadi mandiri dan profesional. Pasalnya, saat ini kompetensi IKM cukup memprihatinkan dan perlu dikembangkan.
"Mayoritas tingkat pendidikan owner atau pemilik IKM di Indonesia belum tinggi. Mayoritas pendidikan mereka hanya sekolah menengah atas atau SMA. Solusinya, sharing knowledge atau pelatihan oleh pelaku industri sangat dibutuhkan," jelasnya.
Ketiga, IKM membutuhkan peningkatan pendanaan atau cash flow melalui pengaturan skema pembayaran atau term of payment (ToP). "Standar TOP sampai dengan 45 hari terlalu lama bagi IKM. Padahal IKM membutuhkan TOP lebih cepat dengan standar dan aktual yang sesuai kebutuhan mereka," pungkasnya.
Lihat Juga :