Kurangi Pencemaran Laut, Begini Solusi Ramah Lingkungan di Industri Perkapalan
Jum'at, 11 November 2022 - 21:49 WIB
loading...
A
A
A
Koshi menerangkan, pihaknya memiliki produk mesin kapal bernama EX atau aerotyoe yang tak lagi menggunakan oli atau pelumas.
“Di mana tidak akan adanya leak atau kebocoran sehingga lebih ramah untuk laut, sebenarnya dari Kemel sendiri itu ada bermacam-macam yang menggunakan oli jadi sistem lubricant-nya masih menggunakan oli, cuma untuk produk EX sendiri menggunakan udara. Jadi itu meminimalisir kebocoran oli ke laut,” urainya.
Baca juga: Dikejar Embargo Penuh Eropa, Minyak Mentah Rusia Mengalir Deras lewat Laut
Sementara itu, Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowner Association (INSA) Sugiman Layanto menyoroti para pelaku industri pelayaran yang sudah mendesain perlengkapan mesin untuk mengurangi jumlah karbon dan emisi. Sugiman menyatakan, Indonesia sudah berkomitmen agar industri pelayaran nol karbon pada tahun 2060.
“Jadi saya rasa insiatif seperti ini perlu dilakukan supaya industri kita secara keseluruhan bisa kompak agar target ini bisa tercapai. Jadi tantangan paling utama adalah bagaimana kita melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan harapan ini (nol karbon),” tukasnya.
Sugiman menyebutkan, semua pihak harus melakukan banyak inovasi untuk mengurangi emisi di industri pelayaran. Menurut dia, target Indonesia nol emisi pada tahun 2060 bisa tercapai asalkan ada kepedulian dari semua pihak dan terus memantau perkembangan teknologi.
“Jadi yang paling utama sekarang saya lihat adalah bahan bakar, bagaimana kita bisa move away dari menggunakan fuel jadi masalah utama bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh indonesia, apa sih tenaga alternatif yang bisa kita gunakan? Pembahasan banyak, dari amonia, metanol dan lain lain, cuma tepat seperti apa infrastruktur yang ada untuk mendistribusikan bahan bakar seperti apa, mungkin yang paling penting adalah apa yang pemerintah kita akan atur, untuk ‘memaksa’ kita lebih cepat go green,” tuturnya.
“Di mana tidak akan adanya leak atau kebocoran sehingga lebih ramah untuk laut, sebenarnya dari Kemel sendiri itu ada bermacam-macam yang menggunakan oli jadi sistem lubricant-nya masih menggunakan oli, cuma untuk produk EX sendiri menggunakan udara. Jadi itu meminimalisir kebocoran oli ke laut,” urainya.
Baca juga: Dikejar Embargo Penuh Eropa, Minyak Mentah Rusia Mengalir Deras lewat Laut
Sementara itu, Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowner Association (INSA) Sugiman Layanto menyoroti para pelaku industri pelayaran yang sudah mendesain perlengkapan mesin untuk mengurangi jumlah karbon dan emisi. Sugiman menyatakan, Indonesia sudah berkomitmen agar industri pelayaran nol karbon pada tahun 2060.
“Jadi saya rasa insiatif seperti ini perlu dilakukan supaya industri kita secara keseluruhan bisa kompak agar target ini bisa tercapai. Jadi tantangan paling utama adalah bagaimana kita melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan harapan ini (nol karbon),” tukasnya.
Sugiman menyebutkan, semua pihak harus melakukan banyak inovasi untuk mengurangi emisi di industri pelayaran. Menurut dia, target Indonesia nol emisi pada tahun 2060 bisa tercapai asalkan ada kepedulian dari semua pihak dan terus memantau perkembangan teknologi.
“Jadi yang paling utama sekarang saya lihat adalah bahan bakar, bagaimana kita bisa move away dari menggunakan fuel jadi masalah utama bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh indonesia, apa sih tenaga alternatif yang bisa kita gunakan? Pembahasan banyak, dari amonia, metanol dan lain lain, cuma tepat seperti apa infrastruktur yang ada untuk mendistribusikan bahan bakar seperti apa, mungkin yang paling penting adalah apa yang pemerintah kita akan atur, untuk ‘memaksa’ kita lebih cepat go green,” tuturnya.
(ind)
Lihat Juga :