5 Negara yang Paling Bergantung pada Laut China Selatan

Senin, 21 November 2022 - 05:42 WIB
loading...
A A A
Negara kecil di Asia Tenggara itu sangat bergantung pada perdagangan bebas yang melewati negara mereka dan perairan yang berdekatan dengannya.

"Kepemimpinan Singapura jelas bahwa mereka adalah negara yang secara eksistensial bergantung pada laut bebas dan tatanan berbasis aturan. Tanpa itu, tempat-tempat seperti Singapura berada dalam banyak masalah," paparnya.

3. Indonesia

Selat Sunda dan Lombok di Indonesia, bersama dengan Selat Malaka dan Singapura, adalah pintu gerbang utama ke Laut China Selatan. Kepulauan Natuna di Indonesia tumpang tindih dengan sembilan garis putus-putus China — serangkaian garis pada peta yang menyertai klaim teritorial China.

"Indonesia sangat bergantung pada sumber daya dari Laut Natuna Utara (di Laut China Selatan)," kata Brown seraya menambahkan bahwa transit lalu lintas komersial cukup signifikan di perairan itu.

"Meskipun Indonesia menyatakan tidak ada sengketa teritorial dengan China, itu adalah klaim retoris yang bertentangan dengan yang sebenarnya," tambahnya.

Herzinger menyoroti bahwa, seperti negara-negara penggugat lainnya, populasi Indonesia yang berjumlah 280 juta sangat bergantung pada ketahanan pangan dari ikan. Kerawanan pangan di Laut China Selatan dapat dengan cepat menjadi ketidakstabilan nasional di Asia Tenggara, kata Herzinger.

"Salah satu aspek yang kurang dihargai adalah semua larangan penangkapan ikan musiman oleh patroli China dan di Laut China Timur," katanya.

"Meskipun mereka mengklaim lebih dari setengah Laut China Selatan, China telah mendorong negara-negara penggugat seperti Vietnam keluar dari perairan penangkapan ikan tradisional dan lebih banyak lagi ke Laut China Selatan, menyebabkan penangkapan ikan yang berlebihan."

Brown menambahkan, bahwa hal itu terutama berlaku bagi nelayan Vietnam "yang pergi ke perairan Malaysia dan Indonesia, sebagian karena China mendorong mereka keluar dari perairan mereka sendiri."

Apa yang terjadi ketika stok ikan habis?

"Jika itu terjadi, negara-negara akan segera terlempar ke dalam kerawanan pangan," kata pakar kebijakan pertahanan itu.

"Dan ketika itu terjadi, Anda mendapatkan ketidakamanan pemerintah, di mana orang-orang yang kelaparan tidak akan mengejar China melainkan pemerintah pusat," jelasnya.

Ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu diperkirakan memiliki PDB hampir USD1,2 triliun pada tahun 2021, demikian menurut data Bank Dunia.

4. Jepang

Sekitar 42% perdagangan maritim Jepang melewati Laut China Selatan setiap tahunnya, menurut data Asosiasi Advokat Kebijakan Publik Terakreditasi untuk Uni Eropa. Pada tahun 2020, Jepang merupakan pembeli gas alam cair terbesar di dunia, dimana Ia mengimpor hampir 74,5 juta ton.

Brown berpendapat, bahwa karena impor minyak Jepang dari kawasan Teluk Persia, "mereka memiliki kepentingan lama dalam kerentanan jalur laut yang sudah ada jauh sebelum Perang Dunia II."

"Di zaman modern, kegiatan regional mereka mendukung peningkatan kapasitas pada isu-isu seperti keselamatan dan keamanan maritim, perlindungan sumber daya dan infrastruktur, serta kebebasan navigasi dengan negara-negara yang berbatasan dengan Laut China Selatan," sambung Brown.

Jepang juga telah mengirimkan sinyal kuat ke China.

Surat kabar terbesar Jepang, Yomiuri Shimbun melaporkan bahwa kapal perusak angkatan laut Jepang telah berulang kali berlayar melewati jalur perairan Laut China Selatan, selanjutnya di dekat pulau-pulau buatan dan terumbu karang yang diklaim oleh Beijing.

Seorang pejabat senior kementerian pertahanan yang tidak disebutkan namanya seperti dikutip oleh surat kabar itu mengatakan, bahwa patroli maritim itu "dimaksudkan untuk memperingatkan China, yang mendistorsi hukum internasional, untuk melindungi kebebasan navigasi dan hukum laut."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Penghargaan Regional...
Penghargaan Regional Dorong Penguatan Dialog, Kepercayaan, dan Kepemimpinan di Asia Tenggara
Transaksi Olein di JFX...
Transaksi Olein di JFX Naik Tembus Rp7,3 Triliun, Timah Ikut Menguat
ICDX dan Bursa Komoditas...
ICDX dan Bursa Komoditas Belarus Jalin Kerja Sama Perdagangan Internasional
Hindari Blokade AS,...
Hindari Blokade AS, Iran Alihkan Perdagangan ke Jalur Kereta Api China
Rebutan Terusan Panama,...
Rebutan Terusan Panama, AS Ajak 6 Negara Gebukin Dominasi China
Klarifikasi Purbaya...
Klarifikasi Purbaya Soal Pajak Selat Malaka: Saya Tahu Betul Peraturannya
Menjembatani Rivalitas...
Menjembatani Rivalitas LCS: Konsep Hybrid Maritime Security Governance System
Filipina dan China Bentrok,...
Filipina dan China Bentrok, 1 Tentara Terluka
10 Tahun Arbitrase Laut...
10 Tahun Arbitrase Laut China Selatan Tak Mempan, Saatnya Mulai Perundingan COC
Rekomendasi
Prabowo Tegaskan Dukungan...
Prabowo Tegaskan Dukungan untuk Palestina Tak Bisa Ditawar!
Heboh! Sejumlah Artis...
Heboh! Sejumlah Artis Tagih Honor Miliaran Rupiah ke TV Swasta
Gempa Magnitudo 5,8...
Gempa Magnitudo 5,8 Guncang Ternate Maluku Utara Pagi Ini
Berita Terkini
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Ambles ke Level 6.266 saat Ada 518 Saham Malas Bergerak
Bangun PFII di Bali...
Bangun PFII di Bali Butuh Waktu 3 Tahun, Danantara Siapkan Masa Transisi di Jakarta
4 Negara Bebas Kewajiban...
4 Negara Bebas Kewajiban Parkir DHE SDA di Himbara, Pemerintah Beri Kelonggaran
Panda Bond Laris Manis,...
Panda Bond Laris Manis, Indonesia Raup Rp18,47 Triliun
Trump Berlakukan Tarif...
Trump Berlakukan Tarif Impor Baru secara Global, Indonesia Kena 10%
Hari Anak Nasional,...
Hari Anak Nasional, Jasa Raharja Ajak Generasi Muda Jadi Pelopor Keselamatan
Infografis
10 Bendera Negara Paling...
10 Bendera Negara Paling Unik di Dunia, Ada yang Bergambar Naga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved