Investor Diajak Tetap Optimistis Sambut Santa Claus Rally
Rabu, 07 Desember 2022 - 12:00 WIB
loading...
A
A
A
Secara sederhana praktik window dressing, ucap dia, bisa diibaratkan sebuah kado yang dibungkus dengan kertas aneka warna. Lalu, diberi pita agar terlihat lebih cantik dan menarik.
"Upaya mempercantik portofolio, ternyata tak hanya berlaku menjelang akhir tahun. Tapi juga kerap terjadi setiap kuartalan, yakni Maret, Juni, serta September. Aksi akumulasi itu dilakukan dalam rangka mengantisipasi kinclongnya laporan keuangan emiten, yang diasumsikan lebih baik dari kuartal atau tahun sebelumnya," ujarnya.
Setelah window dressing, peluang berikutnya berlanjut dengan fenomena January Effect yang biasanya berlangsung pada pekan pertama, kedua dan ketiga di bulan Januari atau awal tahun. Namun, tak tertutup kemungkinan siklus psikologi pergerakan pasar itu terjadi sepanjang Januari, tanpa jeda penurunan, ditandai dengan aksi akumulasi atau beli oleh para pengelola dana besar untuk mengisi keranjang portofolio.
Beberapa fenomena tesebut, menurut Manuel Adhy Purwanto, bisa memberikan rasa optimistis bagi pemodal yang ingin menambah portofolio di akhir tahun. Pasalnya, peningkatan likuiditas di pasar yang signifikan tersebut biasanya memicu kenaikan harga saham, yang kemudian mengerek indeks harga saham gabungan (IHSG).
"Namun demikian, window dressing juga perlu disikapi dengan kehati-hatian para investor, harus didukung dengan ketersediaan informasi investasi dan data yang lengkap, akurat dan update," ucapnya.
"Upaya mempercantik portofolio, ternyata tak hanya berlaku menjelang akhir tahun. Tapi juga kerap terjadi setiap kuartalan, yakni Maret, Juni, serta September. Aksi akumulasi itu dilakukan dalam rangka mengantisipasi kinclongnya laporan keuangan emiten, yang diasumsikan lebih baik dari kuartal atau tahun sebelumnya," ujarnya.
Setelah window dressing, peluang berikutnya berlanjut dengan fenomena January Effect yang biasanya berlangsung pada pekan pertama, kedua dan ketiga di bulan Januari atau awal tahun. Namun, tak tertutup kemungkinan siklus psikologi pergerakan pasar itu terjadi sepanjang Januari, tanpa jeda penurunan, ditandai dengan aksi akumulasi atau beli oleh para pengelola dana besar untuk mengisi keranjang portofolio.
Beberapa fenomena tesebut, menurut Manuel Adhy Purwanto, bisa memberikan rasa optimistis bagi pemodal yang ingin menambah portofolio di akhir tahun. Pasalnya, peningkatan likuiditas di pasar yang signifikan tersebut biasanya memicu kenaikan harga saham, yang kemudian mengerek indeks harga saham gabungan (IHSG).
"Namun demikian, window dressing juga perlu disikapi dengan kehati-hatian para investor, harus didukung dengan ketersediaan informasi investasi dan data yang lengkap, akurat dan update," ucapnya.
Lihat Juga :