Neraca Perdagangan RI Diramal Surplus hingga USD38,5 Miliar di 2023

Selasa, 20 Desember 2022 - 18:15 WIB
loading...
Neraca Perdagangan RI...
Suasana di pelabuhan bongkar muat barang di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Foto/Dok SINDOnews/Yorri Farli
A A A
JAKARTA - Tren surplus neraca perdagangan yang sudah terjadi selama 31 bulan beruntun diproyeksikan masih akan berlanjut pada tahun depan.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) memproyeksikan neraca perdagangan pada tahun depan bakal surplus mencapai sekitar USD38,3-38,5 miliar. Angka pertumbuhan tersebut bergantung pada situasi yang dihadapi.

"Tahun depan kami coba prediksi kemungkinan kita masih surplus neraca perdagangan. Angka pertumbuhan ini akan bergantung pada situasi yang akan dihadapi, termasuk di negara tujuan ekspor," kata Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kemendag Kasan saat memaparkan outlook perdagangan Indonesia 2023 di hotel Park Hyatt, Jakarta, Selasa (20/12/2022).

Dengan surplus neraca perdagangan tersebut, lanjut Kasan, Kemendag akan menyasar pertumbuhan ekspor nonmigas mencapai 3,9-4,7% pada tahun depan. Sedangkan ekspor migas diproyeksikan tumbuh 6,8-8%.

Guna merealisasikan hal tersebut, Kemendag telah menyiapkan sejumlah strategi dan kebijakan, di antaranya merupakan program prioritas 2023 yakni penguatan pasar dalam negeri dan peningkatan ekspor nonmigas.

Baca juga: BPS: Neraca Dagang RI Surplus USD5,16 Miliar pada November 2022

Dalam memperkuat pasar dalam negeri, ungkap Kasan, Kemendag akan memperkuat pasar rakyat yang terdiri dari menjaga stabilisasi harga bahan pokok, penguatan distribusi, dan pembinaan pelaku usaha.

Selain itu juga memberikan perlindungan konsumen dengan pengawasan kegiatan perdagangan dan edukasi konsumen serta melakukan pengawasan pasar berjangka komoditi dan Sistem Resi Gudang.

Sedangkan untuk meningkatkan ekspor nonmigas, Kemendag berupaya memperkuat perundingan perdagangan internasional, memfasilitasi perdagangan luar negeri, promosi perdagangan dan pelatihan, serta pendampingan ekspor bagi Usaha Kecil Menengah (UKM).

Terkait strategi peningkatan ekspor, Kasan mengatakan bahwa arah kebijakan ditujukan untuk pengembangan ekspor barang dan jasa bernilai tambah untuk meningkatkan produktivitas perekonomian.

Sedangkan untuk strategi pengelolaan impor, arah kebijakan Kemendag ditujukan untuk pengendalian impor secara selektif dengan mengutamakan impor bahan baku tujuan ekspor dan investasi.

Baca juga: Surplus Dagang Rp79 Triliun, Faktor Kinerja atau Keberuntungan?

Senada, Wakil Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Shinta Kamdani juga memproyeksikan neraca perdagangan akan surplus. Hal ini karena ada dorongan dari tingginya ekspor batu bara dan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO).

"Jadi kalau kita lihat output perdagangan itu dilihat secara global 2023 itu kan kenaikannya cuma 1%, itu global. Tapi Indonesia sendiri neraca dagangnya masih positif karena komoditas. Kita masih punya batu bara, minyak sawit itu kan masih tinggi ekspornya," ujarnya saat ditemui pada acara yang sama.

Oleh karena itu, menurut Shinta, masyarakat tidak perlu khawatir soal neraca perdagangan tahun depan. "Soal neraca perdagangan masih tinggi walaupun ada sedikit penurunan tapi masih cukup tinggi angkanya," tutup Shinta.

(ind)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Transaksi Olein di JFX...
Transaksi Olein di JFX Naik Tembus Rp7,3 Triliun, Timah Ikut Menguat
Neraca Dagang Defisit...
Neraca Dagang Defisit Perdana usai 72 Bulan Surplus, Ini Biang Keladinya
Neraca Dagang RI Defisit...
Neraca Dagang RI Defisit USD1,61 Miliar, Pertama Kali sejak 2020
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Ekspor April 2026 Melesat...
Ekspor April 2026 Melesat 21,98% Tembus Rp449.6 Triliun, Ini Penopangnya
BPS: Neraca Dagang RI...
BPS: Neraca Dagang RI Januari-April 2026 Surplus USD5,64 Miliar
Koridor Dagang Ankara...
Koridor Dagang Ankara dan Riyadh Buat Israel Ketar-ketir, Ini 3 Pemicunya
Terima Audiensi DPRD...
Terima Audiensi DPRD Malaka, BNPP Bahas Peluang Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Rekomendasi
Pimpin ASEAN Smart Cities,...
Pimpin ASEAN Smart Cities, Indonesia Paparkan Pengelolaan Sampah dari Hulu hingga Hilir
Apa Itu Kokushobi? Cuaca...
Apa Itu Kokushobi? Cuaca Ekstrem yang Terjadi Pertama Kalinya di Jepang
Celoteh Hotman Paris,...
Celoteh Hotman Paris, Pakar: Penghinaan Wartawan Bisa Diproses Hukum
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
Infografis
Aturan Seragam Sekolah...
Aturan Seragam Sekolah 2026: Panduan Lengkap SD, SMP, hingga SMA/SMK
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved