Surplus Dagang Rp79 Triliun, Faktor Kinerja atau Keberuntungan?
Senin, 19 Desember 2022 - 14:09 WIB
loading...
Neraca perdagangan Indonesia ditopang oleh ekspor komoditas. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Badan Pusat Statistik mencatat pada November 2022 neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar USD5,16 miliar atau Rp79,9 triliun (kurs Rp15.500). Surplus itu terjadi salah satunya karena ditopang oleh ekspor komoditas .
Baca juga: Surplus Neraca Perdagangan 31 Bulan Belum Sanggup Kerek Rupiah
"Ada beberapa faktor yang menyebabkan kita surplus, salah satu faktor yang terkuat adalah masih cukup tingginya permintaan terhadap berbagai komoditas yang dihasilkan oleh Indonesia," kata Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri, dalam siaran Market Review di IDX Channel, Senin (19/12/2022).
Menurutnya, permintaan yang tinggi tersebut ditopang dengan harga dari barang atau komoditas itu yang juga masih tinggi sifatnya, setelah selama beberapa waktu terakhir terus mengalami kenaikan.
"Contohnya untuk berbagai komoditas pertambangan seperti batu bara, energi, gas yang juga menjadi ekspor utama Indonesia, termasuk juga palm oil. Minyak kelapa sawit sampai saat ini harganya masih tetap tinggi walaupun sudah lebih stabil dibandingkan dengan sebelumnya," paparnya.
Baca juga: Surplus Neraca Perdagangan 31 Bulan Belum Sanggup Kerek Rupiah
"Ada beberapa faktor yang menyebabkan kita surplus, salah satu faktor yang terkuat adalah masih cukup tingginya permintaan terhadap berbagai komoditas yang dihasilkan oleh Indonesia," kata Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri, dalam siaran Market Review di IDX Channel, Senin (19/12/2022).
Menurutnya, permintaan yang tinggi tersebut ditopang dengan harga dari barang atau komoditas itu yang juga masih tinggi sifatnya, setelah selama beberapa waktu terakhir terus mengalami kenaikan.
"Contohnya untuk berbagai komoditas pertambangan seperti batu bara, energi, gas yang juga menjadi ekspor utama Indonesia, termasuk juga palm oil. Minyak kelapa sawit sampai saat ini harganya masih tetap tinggi walaupun sudah lebih stabil dibandingkan dengan sebelumnya," paparnya.
Lihat Juga :