Tolak Larangan Penjualan Rokok Ketengan, Ternyata Ini Alasan Utama Pedagang
Rabu, 28 Desember 2022 - 18:07 WIB
loading...
A
A
A
Agus mengungkapkan mayoritas pengunjung warungnya adalah pembeli rokok ketengan, dibandingkan dengan yang membeli rokok bungkusan. Hal itu yang membuatnya menolak larangan penjualan rokok batangan.
Agus menambahkan, sekalipun tetap diberlakukan maka harus ada perlakuan khusus untuk rokok-rokok yang bisa diketeng dan harus dijual bungkusan. Misalnya, rokok yang boleh diketeng yang ada dalam kemasan kaleng.
"Kalau misalnya aturan ya mau gimana lagi. Seandainya boleh diecer, yang kalengan itu tidak masalah. Jadi yang dibungkus, ya dibungkus (dijualnya)," harap Agus.
Suara senada disampaikan Heri (25), penjual bakso yang sekaligus berjualan rokok eceran, untuk menambah pendapatanya. Terletak di bilangan Jakarta Selatan, warungnya berlokasi cukup strategis diapit oleh Kampus dan Mall Gandaria City. Mahasiswa dan para pegawai di mal mejadi langganannya ketika datang waktu istirahat.
Target pasar tersebut yang membuat Heri tidak setuju dengan adanya larangan penjualan rokok ketengan. Sebab para konsumennya ketika selesai makan siang lebih banyak yang menghabiskan beberapa batang rokok saja, sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Yang jajan ketempat saya itu ya karyawan-karyawan bawah, seperti sekuriti, mahasiswa, dan lainnya," ujar Heri.
Agus menambahkan, sekalipun tetap diberlakukan maka harus ada perlakuan khusus untuk rokok-rokok yang bisa diketeng dan harus dijual bungkusan. Misalnya, rokok yang boleh diketeng yang ada dalam kemasan kaleng.
"Kalau misalnya aturan ya mau gimana lagi. Seandainya boleh diecer, yang kalengan itu tidak masalah. Jadi yang dibungkus, ya dibungkus (dijualnya)," harap Agus.
Suara senada disampaikan Heri (25), penjual bakso yang sekaligus berjualan rokok eceran, untuk menambah pendapatanya. Terletak di bilangan Jakarta Selatan, warungnya berlokasi cukup strategis diapit oleh Kampus dan Mall Gandaria City. Mahasiswa dan para pegawai di mal mejadi langganannya ketika datang waktu istirahat.
Target pasar tersebut yang membuat Heri tidak setuju dengan adanya larangan penjualan rokok ketengan. Sebab para konsumennya ketika selesai makan siang lebih banyak yang menghabiskan beberapa batang rokok saja, sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Yang jajan ketempat saya itu ya karyawan-karyawan bawah, seperti sekuriti, mahasiswa, dan lainnya," ujar Heri.
Lihat Juga :